Menu

Zaman Logam: Sejarah Manusia Purba

Zaman Logam: Sejarah Manusia Purba | Dengan mulainya zaman logam maka bukan berarti akan berakhir zaman batu karena sebenarnya pada zaman logam pun ternyata masih ada alat-alat yang berasal dari zaman batu yang digunakan pada zaman logam hingga saat ini. Sesungguhnya untuk penamaan mengenai zaman logam hanyalah sekedar untuk menunjukkan bahwa pada zaman tersebut sudah ada alat-alat yang terbuat dari logam dan digunakan secara dominan pada setiap alat kebutuhan hidup manusia purba pada saat itu. Adapun itu, zaman logam seringkali disebut dengan zaman perundagian.

Di zaman logam, manusia purba telah mampu dalam membuat alat-alat perlengkapan yang terbuat dari logam. Adapun teknik yang digunakan yaitu dengan cara meleburkan terlebih dahulu pada bijih-bijih logam yang selanjutnya akan dituang kedalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Dengan demikian, pada zaman logam ini memiliki tingkat kehidupan yang sudah lebih tinggi dibanding pada zaman batu. Zaman logam itu terbagi atas beberapa zaman yaitu zaman tembaga, zaman perunggu dan zaman besi.

– Zaman Tembaga
Zaman tembaga merupakan sebuah awal manusia purba dalam mengenal peralatan yang terbuat dari logam. Bangsa Indonesia tak mengalami zaman termbaga tersebut. Bangsa Indonesia langsung masuk dalam zaman perunggu dan zaman besi. Zaman tembaga mulai berkembang di Vietnam, Thailand, Kamboja dan Semenanjung Malaka.

– Zaman perunggu
Di zaman perunggu, manusia telah menemukan logam campuran yang ternyata lebih keras dibanding dengan tembaga, yaitu perunggu. Perunggu adalah suatu logam yang hasil campuran timah dan tembaga. KEbudayaan perunggu yang telah berkembang di Indonesia seringkali disebut kebudayaan Dongson. Hal tersebut sesuai dengan adanya pendapat para pakar mengenai kebudayaan perunggu yang ada di Indonesia itu berasal dari Dongson (Vietnam)

Teknik pembuatan alat-alat yang terbuat dari perunggu ini dibuat dengan beberapa macam teknik, yaitu berupa teknik cetakan setangkup atau Bivalve dan teknik cetakan lilin atau a cire perdue.

a. Teknik cetakan lilin atau A cire perdue.
Teknik a cire perdue merupakan teknik dalam mengolah logam dengan membuat model yang dari lilin. Lilin ini akan kemudian dibungkus menggunakan tanah liat yang diatasnya sudah diberi lubang. Tanah liat yang telah diberikan lilin ini kemudian akan dibakar sehingga lilin akan segera mencair dan akan keluar dari lobanya sudah dibuat. Bentuk rongga itu akan sama dengan bentuk lilin yang telah dibuat. Maka jadilah tanah yang sudah berongga itu telah menjadi cetakan yang kedalamnya itu dimasukkan logam dalam bentuk yang cair. Sesudah mendingin dan kental, tanh liat pembungkus tersebut akan dihancurkan dan didapatkan benda yang telah dikehendaki yang terbuat dari logam tersebut sesuai dengan bentuk cetakannya. Cetakan demikian hanya bisa dipakai sekali dan hanyalah untuk benda-benda yang berukuran kecil seperti nekara, tajak dan arca kecil.

Baca Juga  Contoh kata pengantar: Makalah, Skripsi dan Laporan

b. Teknik Cetakan Setangkup
Teknik setangkup itu menggunakan dua cetakan yang bisa ditangkupkan atau dirapatkan. Cetakan tersebut diberi lobang di bagian atasnya.Pada lubang tersebut akan dituangkan dengan logam cair. Jika perunggu sudah mendingin maka cetakan akan dibuka kembali. Jika membuat benda sudah berongga maka mulai digunakan tanah liat sebagai intinya yang dapat membentuk rongga sesudah tanah liat itu akan dibuang. Cetakan tersebut dapat digunakan secara berkali-kali. Teknik cetakan setangkup biasanya diperuntukkan untuk benda-benda yang berbentuk pejal atau tak berongga.

Adapun ciri-ciri kehidupan pada zaman perunggu ialah sudah berbentuk perkampungan yang sudah teratur dimana dipimpin oleh ketua adat atau kepala suku. Mereka menetap didalam rumah yang memiliki tiang besar yang pada bagian bawahnya telah dijadikan sebagai tempat beternak.

Zaman Logam: Sejarah Manusia Purba

zaman logam

Pada masa ini, manusia praaksara sudah bertani atau berladang dan bersawah dengan menggunakan sistem irigasi sehingga pengairan sudah tidak selalu bergantung pada hujan. Selain itu, sudah terdapat berupa pembagian kerja yang berdasarkan keahlian sehingga bermunculan kelompok undagi atau tukang yang ahli dalam membuat peralatan logam. Mereka sudah menguasai ilmu astronomi untuk beberapa kepentingan pertanian dan pelayaran dan melakukan pembuatan perahu bercadik.

Hasil kebudayaan zaman perunggu ialah sebagai berikut.

a. Nekara perunggu.
Nekara memiliki bentukny semacam genderang atau dandang tertelungkup, berpinggang di bagian tengahnya, dan pada bagian atasnya yang tertutup. Untuk masyarakat praaksara, nekara telah dianggap sebagai sesuatu yang suci dan Sakral. Diindonesia, nekara hanya bisa dipergunakan pada waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk dapat memanggila arwah nenek moyang, digunakan sebagai genderang perang dan digunakan untuk menjadi alat pemanggil hujan.

Benda tersebut mempunyai nilai seni yang begitu tinggi, ada pola hias yang beraneka macam. Pola hiasnya, berupa pola gambar binatang, burung, gajah, geometrik, kijang, manusia, harimau dan ikan laut. Terdapat juga nekara yang tak diberikan hiasan. Daerah pada penemuan nekara di Indonesia yaitu di Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Roti, Pulau Sangean, Pulau Selayar, Pulau Kei dan pulau sumatra. Nekara yang berukuran lebih kecil memiliki bentuk yang dikenal sebagai moko. Moko banyak ditemukan di Pulau Alor. Adapun moko berfungsi sebagai benda pusaka juga digunakan sebagai mas kawin.

Baca Juga  Pengertian propaganda Menurut Para Ahli

b. Bejana Perunggu
Bejana perunggu memiliki bentuk seperti periuk, tetapi gepeng dan lansing. Bejana perunggu banyak ditemukan pada tepian Danau Kerinci yang ada di Sumatra dan Madura. Kedua bejana perunggu yang telah ditemukan itu memiliki hiasan yang sama dan begitu indah dimana ada gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang punya kemiripan dengan huruf J. Hingga saat ini fungsi bejana perunggu belum diketahui dengan pasti. Hal tersebut karena pada penemuan bejana yang masih terbatas sehingga telah mempersulit dalam penyelidikan mengenai fungsi bejana didalam kehidupan bermasyarakat praaksara.

c. Arca perunggu
Secara umum pada arca perunggu memiliki bentuk yang kecil-kecil dan dilengkapi dengan cincin yang berada pada bagian atasnya. Fungsi. Fungsi pada cincint tersebut menjadi alat untuk menggantung arca tersebut sehingga tak mustahil arca perunggu yang kecil itu selalu digunakan menjadi bandul atau liontin kalung. Untuk daerah ditemukannya arca perunggu yang ada di Indonesia ialah Palembang di Sumatera Selatan, Bangkinang yang ada di RIau dan Limbangan yang ada di Bogor.

d. Kapak Corong
Kapak corong memiliki bentuk yang tajam tidak begitu jauh berbeda dengan kapak batu, tetapi hanya pada bagian tangkainya memiliki bentuk yang corong. Corong tersebut digunakan untuk tempat tangkainya kayu. Kapak corong ini dibuat dengan menggunakan teknik a cire perdue. Adapun fungsi dari kapak corong yaitu menjadi suatu alat pertanian dan dapat membelah kayu. Kapak corong dikenal juga sebagai kapak sepatu sebab seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan untuk tangkai kayunya mirip dengan kaki sehingga kapak corong seringkali disebut dengan kapak sepatu. Adapun daerah penyebaran pada kapak corong yang ada di Indonesia ialah Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Selayar, Danau Sentani yang ada didekat Irian.

Kapak corong berbentuk sangat memiliki ragam jenis yagn salah satunya ada yang panjang pada satu sisinya disebut sebagai candrasa yang memiliki bentuk yang begitu indah dan telah dilengkapi dengan hiasan. Candrasa mulai ditemukan didaerah Rote dan Yogyakarta. Candrasa tidak dipergunakan sebagai alat pertukangan atau pertanian, akan tetapi fungsinya diduga menjadi tanda kebesaran dari setiap kepala suku dan untuk alat upacara keagamaan.

Baca Juga  Pengertian Bisnis Menurut Para Ahli

e. Perhiasan Perunggu
Jenis perhiasan yang berasal dari perunggu yang telah ditemukan itu sangat beragam pada bentuknya, yaitu kalung, gelang kaki, gelang tangan, bandul kalung, cincin dan sebgaian perhiasan telah ditemukan menjadi bekal kubur. Di antara bentuk dari perhiasan tersebut ada cincin yang berukuran sangat kecil sekali, bahkan ukuran cincinnya lebih kecil dari ukuran jari anak kecil. Untuk itu, para ahli memperkirakan bahwa fungsinya menjadi alat tukar atau mata uang. Didaerah penemuan perhiasan perunggu ini ada di Malang, Bali dan Bogor

f. Manik-manik
Penemuan adanya manik-manik yang berasal pada zaman perunggu itu sebagian besar menjadi sebgai bekal kubur sehingga dapat memberikan corak yang istimewa pada zaman perunggu. Adapun manik-manik yang dipakai menjadi perhiasan yaitu alat upacara dan alat tukar atau uang. Bahkan dasar pembuatan manik-manik itu ada yang terbuat dari batu setengah permata (kalsedon , akik) kulit kerang, kaca atau tanah liat yang sudah dibakar. Pada zaman logam itu disamping sudah berkembang adanya kebudayaan perunggu juga sudah ada alat-alat penopang kehidupan yang terbuat dari besi meskipun jumlahnya tidak begitu banyak.

g. Zaman besi
Di zaman besi manusia sudah dapat meleburkan besi dari bijihnya untuk dapat dituangkan menjadi sebuah peralatan yang dapat digunakan dalam sehari-hari. Zaman besi adalah zaman yang terakhir dari zaman praaksara. Akan tetapi, mesti kita mengingat bahwa pada sampai zaman modern pun masih digunakan logam besi maupun masih digunakan alat dari batu untuk dijadikan sebagai bahan pembuat segala macam alat untuk menopang kebutuhan hidup manusia. Istilah zaman besi dan zaman batu hanya sekedar digunakan untuk bisa menunjukkan adanya suatu bahan yang diperlakukan sebagai bahan utama untuk pembuatan segala peralatan pada suatu zaman dengan tidak mengacuhkan keberadaan bahan-bahan yang lainnya.

Demikianlah artikel tentang Zaman Logam: Sejarah Manusia Purba, semoga artikel ini dapat memiliki manfaat. Selanjutnya akan dibahas mengenai Zaman Praaksara dan Pembagiannya berdasarkan Kehidupan Masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.