Menu

Hati-hati! Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran! Begini Penjelasannya

Informasiana – Mohon dipahami sebelumnya, mungkin masih ada pembaca yang merasa tak nyaman dengan pembahasan kafir dan mengkafirkan, akan tetapi ternyata pada pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita pada pembahasan aqidah tauhid, dimana seseorang muslim wajib untuk mengetahuinya karena termasuk aqidah dasar kita.
Bisa jadi merasa tak nyaman atau bahkan ada yang alergi dengan pembahasan ini, karena selama ini membahas “kafir” dan “mengkafirkan” adalah pembahasan yang seolah-olrah seram, menakutkan dan merusak persaudaraan dan toleransi.
Asumsi ini tidaklah benar, pembahasan tentang hal ini jika dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan pada perasaan dan sangkaan semata) maka dalam pembahasan ini diperoleh:
1. Ketegasan dalam agama Islam, tak ada yang “abu-abu”, jika dia tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, maka disebutlah dia kafir sesuai nash dan dalilnya.
2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan tentang “mengkafirkan” tidak diterapkan serampangan dan langsung memberikan vonis saja, akan tetapi ada proses dan perinciannya. Tak dibenarkan seseorang langsung memberikan vonis saudara se-Islam dengan sebutan “kafir” tanpa adanya kaidah yang benar, apalagi ada pembahasan “takfir mutlak” dan “takfir mu’ayyan”

Baca Juga  Jangan Buru-buru Mengartikan Kebaikan Lelaki Sebagai Perlakuan Istimewa Untukmu Seorang


Pembaca yang dirahmati Allah, belakangan ini ada wacana yang telah dihembuskan secara cukup massif bahwa
“Non Muslim tak boleh dipanggil sebutan kafir”.
Mereka memiliki alasan bahwa kata kata “kafir” merupakan kata-kata yang kasar dan menunjukkan intoleransi. Tentu pendapat ini tidak lah benar dan mesti diluruskan.

Sebagai orang Indonesia kita mesti kembali pada pengertian “kafir” pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
“Kafir : orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”
Jadi, sangat tepat jika kita katakan dan kita sebut non-muslim sebagai sebutan kafir.
Sebuah ungkapan yang bijak:
لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَال
“Setiap tempat ada ucapan yang layak”

Baca Juga  GENIUS MBLOOO!!!...5 Alat Aneh yang Hanya diciptakan Untuk Wanita INFORMASIANA

Tentu kita tidak memanggil orang yang tak beriman atau non muslim dengan panggilan seperti ini:
“Hai kafir, mau kemana?”
“Perkenalkan ini tetanggaku yang kafir”
Tentu kata kata “kafir” kita posisikan sesuai pada tempatnya, bukan dihapus atau tak digunakan sama sekali dengan alasan perasaan semata atau alasan yang dibuat-buat.
Menghapus atau tidak menggunakan kata-kata kafir bertentangan dengan aqidah dasar Islam. Agama Islam adalah agama yang tegas dan tidak abu-abu. Salah satu aqidah Islam adalah mengkafirkan orang kafir dan menyebut mereka dengan “kafir”, sebagaimana Allah Ta’ala menyebut mereka langsung dalam Al-Quran,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya TELAH KAFIRLAH orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan juga Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah: 72)

Baca Juga  Suami, Berhentilah Menuntut Istrimu! Tapi Tuntunlah Ia Agar Bisa Bijaksana Memahami Tanggung Jawabnya

Pages: 1 2