by

Sekilas Kisah Menarik Fatimah Az-Zahrah Putri Nabi Muhammad Saw


Advertisement

Sekilas Kisah Menarik Fatimah Az-Zahrah | Fatimah binti Muhammad Rasulullah adalah anak keempat hasil perkawinan Rasulullah dengan Khadijah. Dilahirkan di Makkah pada tahun 15 SH. Ia dilahirkan pada saat, Rasulullah telah berumur 35 tahun, beliau dipercayakan untuk menyelsaikan pertikaian antara bangsa Quraisy soal peletakan batu hajar aswad yang menempatkan beliau sebagai al-Amien. Ia dilahirkan saat bangsa Quraisy, mendewa-dewakan anak laki-laki, sehingga Rasulullah sangat mencurahkan kasih sayang padanya. Fatimah adalah puteri Rasulullah yang melanjutkan keturunan Rasulullah. Dan hanya Fatimahlah satu-satunya anak yang sempat menunggui ayahnya wafat.

Fatimah telah ditempa dengan berbagai pelajaran berharga dari ayahnya, dengan berbagai nasehat dan kasih sayangnya. Dia juga merasakan langsung apa yang diderita oleh ayah dan keluarganya. Sejak kecil, ia telah merasakan ujian yang dialaminya saat pengasingan kaum muslimin di lembah Abu Thalib. Tiga tahun lebih derita kelaparan dan kesengsaraan dialaminya. Dan ketika keluar dari pengepungan itu, dia harus menyaksikan kematian ibunya yang tercinta, Khadijah. Peristiwa-peristiwa itu telah mengantarkannya sebagai wanita muliah, tahan uji dan penuh kesabaran.

fatimah
[tie_slideshow]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]Fatimah memiliki sifat dermawan dan berhati mulia. Pada suatu waktu, seorang dari suku Bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada nabi, melontarkan kata-kata makian. Tetapi ia menjawab dengan lemah lembut.

AHli sihir itu begitu heran menghadapi orang yang luar biasa ini, sehingga ia memeluk agama Islam. Nabi lalu bertanya:”Apakah kalian berbekal makanan?” Jawab orang itu:”Tidak”. Maka, nabi menanyakan kepada para sahabat yang hadir disitu:”Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta kepada tamu kita ini?”, lalu Muadz bin Ibada menghadiahkannya seekor unta.

Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan:”Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain untuk penutup kepada saudara seagama Islam?” Kepala orang itu tidak memakai imamah (tutup kepala sama sekali. Ali bin Abi Thalib langsung melepas sorbannya dan menaruh diatas kepala orang itu.

Kemudian nabi minta kepada Salman membawa kepada seseorang saudara seagama yang bisa memberinya makan, karena dia lapar. Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak ada yang dapat memberinya makan, karena waktu itu bukan waktunya makan.

Akhirnya, Salman pergi kerumah Fatimah, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Rasulullah ini mengatakan bahwa dirumahnya tidak ada makanan sejak tiga hari yang lalu. Namun putri Nabi itu enggan menolak seorang tamu, dan tuturnya:”Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang”

Fatimah lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Salman membawa barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itupun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatkaan bahwa Tuhan telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]Salman balik ke rumah Fatimah dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri Fatimah menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatimah menyisihkan beberapa buah roti untuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya untuk kepentingan Allah.

Perkawinan dengan Ali

Abu Bakar dan Umar berusaha agar dapat menikahi Fatimah binti Muhammad, tetapi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh nabi sendiri, seorang yang penuh keberanian dan keshalehan, cerdas dan berilmu, namun masih ragu-ragu untuk dapat meminang Fatimah. Karena dirinya begitu miskin.

Rasulullah mengetahui isi hati Ali, meskipun ia tidak mengungkapkannya. kemudian Rasulullah bertanya kepada Ali yang duduk disampingnya:”Apa keperluanmu kemari ya Ali?”.

Lalu Ali mencoba memberanikan diri untuk menyatakan keinginannya:” Aku menginginkan Fatimah, ya Rasulullah”. kepalanya tertunduk di bawah pandangan lembut Rasulullah.

“Marhaban ahlan wa sahlan”, jawab Rasulullah pendek, Kemudian Rasulullah diam. Ali pun didera kebingungannya sendiri mendengar jawaban yang pendek itu. Kawan-kawannya terus mendesak Ali agar kembali menyatakannnya kepada Rasulullah, karena pernyataan itu adalah kabar gembira dari Rasulullah.

Keesokan harinya, Ali datang menghadap Rasulullah. Dia berdiri agak jauh dan berkata sambil menguatkan hatinya:”Ya Rasulullah, aku datang hendak meminang Fatimah. Tapi aku tidak punya apa-apa untuk maharnya”, Rasulullah kemudian bertanya:”Apa yang kau punya Ali”, ia menjawab:”Tidak punya apa-apa ya seakan mengingat sesuatu, lalu berkata kepadanya:”Bukankah kau masih mempunyai dar’un (pakaian perang) yang aku berikan kepadamu dulu? Nah, bawa kemari pakaian itu, pakailah sebagai lamaran putriku, Fatimah”.

Saat itu fatimah baru berusia 18 tahun. Mahar itu adalah kwiras, baju besi yang kemudian dibeli Usman bin Affan dengan harga 470 dirham dan uangnya diserahkan kepada Ali kepada Rasulullah yang kemudian dibelanjakan perabotan kelluarga; sebuah tempat dari kulit binatang, kendi dari air tanah, sehelai tikar dan sebuah batu giling jagung.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] Kepada putrinya, Rasulullah berkata:”Anakku aku telah nikahkan engkau dengan seorang laki-laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi dari lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan”

Perkawinan dilakukan dengan amat sederhana. Para sahabat diundang untuk menyaksikan pernikahan Ali bin Abu Thalib dengan Fatimah, dan diakhiri dengan makan dan minum ala kadarnya. Hamzah bin Abdul Muthallib menyumbang seekor domba untuk jamuan tersebut. Dengan itulah para tamu disuguhkan makanan. Pernikahan itu berlangsung pada bulan Rajab setelah selesai perang Badar. Setelah semua pulang, Rasulullah mengutus Ummu Salamah untuk mengantar Fatimah menuju ke rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib. Dan bahagialah perkawinan mereka.

Perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib berjalan dengan baik, mereka dikarunia tiga orang anak pria yang sangat dicintai Rasulullah, Hasan (3H), Husein (4 H) dan Muhsin meninggal dunia sewaktu kecil. Dan dikarunia dua putri: Zainab dan Ummi Kulsum. Hasan dan Husain adalah dua cucu Rasulullah yang sangat disayangi, sehingga dalam shalatnya pun, kedua cucunya itu menggelayut di tubuh Rasulullah. beliau tidak melarang mereka bahkan membiarkannya demikian.

Fatimah meninggal dunia pada tahun 13 H tidak beberapa lama sepeninggal Rasulullah. Ia wafat dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Baqi. Berduyun-duyun masyarakat mengantarkan jenazahnya, beliau merupakan simbol seorang ibu yang suci dan mulia

Loading...

About Author: FAJAR ASHAR

Gravatar Image
Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed