Info Terbaru

Sejarah Bendungan Menurut Ahli


Advertisement
Sejarah Bendungan Menurut Ahli | Di dalam bukunya “Sejarah Bendungan” sejarawan Norman Smith memberikan penghargaan kepada bendungan buatan kaum Muslim, dia menulis “Sejarah teknik sipil hampir seluruhnya mengabaikan masa (keemasan) Muslim, khususnya dalam sejarah bendungan, seperti tidak mereferensikan karya kaum Muslim Umayyah atau Abbasiyyah pembangunan bendungan, irigasi dan aktivitas lainnya mengalami kemunduran tajam dan hampir punah. Pandangan seperti ini tidak bendar dan tidak adil”.
Maksud yang sama disampaikan oleh A. Pacey dalam bukunya “Teknologi dalam Peradaban Manusia” yang mencatat bahwa seringnya disebutkan bahwa teknik hidrolik “hanya memiliki kemajuan sedikit di bawah pemerintahan Muslim.” Pacey memperbaiki pandangan ini, dia menunjukkan bahwa peradaban Islam telah merubah teknik-teknik kuno untuk memenuhi tuntutan zaman, dan kaum muslim memperluas penggunaan perangkat mekanik dan hidrolik ini. Bendungan buatan kaum Muslim sangat bervariasi, kebanyakan bendungan yang pertama kali dibuat oleh kaum Muslim berada di wilayah Arabia, N.J. Schnitter di dalam bukunya “Sejarah Dam” menjelaskan secara lengkap mengenai tinggi dan panjang bendungan-bendungan tersebut. Dia juga menyebutkan bahwa bendungan Qusaybah dekat Madinah memiliki tinggi 30 meter dan panjang 205 meter, berbentuk melengkung berbeda dengan yang lain. Schnitter juga mengamati bahwa sepertiga dari bendungan awal yang dibangun di abad ke-7 dan 8 masih ada.
Cara yang dipakai oleh para Muslim mencapai tingkat tinggi dalam keasliannya. Para insinyur Muslim memakai cara canggih dalam menentukan lokasi bendungan, dan mereka juga membuat sistem kanal yang kompleks. Mereka menggunakan Astrolabe dan kalkulasi trigonometri. Bendungan dibangun dengan balok-balok batu, disambungan dengan pasak besi yang kemudian dikuatkan dengan cairan timah. Di Spanyol bukti-bukti menunjukkan bahwa para insinyur Muslim terbilang jenius, bendungan-bendungan ini hampir tidak memerlukan perbaikan selama seribu tahun. Delapan bendungan buatan kaum Muslim di sungai Turia Spanyol telah berumur delapan abad, sampai hari ini masih bekerja untuk mengairi kota Valencia tanpa perlu ada penambahan.
Waduk yang merupakan hasil karya umat Islam juga ditemukan di Qayrawan Tunisia. Waduk-waduk ini, seperti juga hasil karya umat Islam yang lain yang karena kualitasnya dan keindahannya disebut sebagai peninggalan bangsa Punisian dan Romawi. Meskipun bukti-bukti menyatakan bahwa waduk tersebut adalah karya kaum Muslim. Pandangan yang keliru ini dinyatakan oleh para ahli, sampai akhirnya para ahli arkeologi modern membuktikan bahwa bangunan waduk tersebut warisan kaum Muslim. Terdapat di dua ratus lima puluh wilayah dan waduk-waduk ini merupakan bangunan yang sangat menarik. Foto waduk Basi des Aghlabides yang dibangun pada abad 9 oleh Abu Ibrahim Ahmed memperlihatkan semacam bangunan kuil.
Dari wilayah Andalusia sampai Afganistan, pengairan adalah kebutuhan dasar pertanian dan pondasi dari kehidupan. Penguasa saat itu berperan besar, di negeri Mesir, mengurus waduk merupakan tanggung jawab SUltan dan aparat pemerintah, seperti tugas membersihkan kanal dan memelihara waduk. Di Irak, SUltan dan aparatnya bertugas memelihara bangunan besar dari waduk, sementara bangunan-bangunan kecil dipelihara oleh rakyat, pada setiap bagian terdapat pembagian tugas yang terperinci. Bahkan di Mesir ada orang yang bertugas untuk mengawasi waduk untuk masing-masing Provinsi, yang disebut Kashif al Djusur.
Di wiliyah Khuzistan, perangkat kincir ditempatkan di kanal-kanal menembus bebatuan pada sisi kanal, merupakan satu contoh pembangkit tenaga air pertama, dan ini bukan satu-satunya di dalam dunia Islam. Contoh lain adalah waduk jembatan di wilayah Dizful, dibangun dengan tujuan menyediakan air untuk sebuah noria, yaitu mesin pengangkat air yang mengalirkan air ke seluruh rumah-rumah di kota itu. Banyak mesin-mesin hidrolik semacam itu masih bisa terlihat sampai sekarang.
Penguasaan teknologi hidrolik oleh umat Islam lebih maju dari apa yang diakui oleh beberapa penulis. Perangkat-perangkat hidrolik kuno yang ditemukan oleh kaum Muslim dalam keadaan teronggok dan rusak, bukan saja diperbaiki, tetapi ditambahkan fungsinya dengan pengetahuan yang dimiliki. Di Spanyol misalnya umat Islam memberikan teknik-teknik irigasi yang bukan saja menjadi dasar kemakmuran negara itu tetapi menyumbangkan cara-cara yang paling efisien dan efektif yang tak pernah ada sebelumnya di Eropa.
Loading...
FAJAR ASHAR (494 Posts)

Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.


Sejarah Bendungan Menurut Ahli | FAJAR ASHAR | 4.5