Menu

Schistosomiasis, Penyakit Kuno di Lore Lindu

Hai Selamat datang di informasiana.com. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita tentang info kesehatan tentang Schistosomiasis, Penyakit Kuno di Lore Lindu.

Penyakit Liver dan Pengobatannya

INFORMASIANA- Matahari memanggang di Lembah Besoa, Kecamatan Lore Tengah, Sulawesi Tengah. Padang sabana di tengah Taman Nasional Lore Lindu terasa gerah. Air bening selokan kecil, yang dinaungi pepohonan, begitu permohonan. Namun, Idris Tinulele, warga lokal yang memandu perjalanan, mengingatkan agar tidak sembarangan mengatur udara.

Air memang menjadi teror di kawasan yang dikenal kaya akan peninggalan situs megalitik itu. Begitu dipindahkan desa-desa di sekitar kawasan itu, beberapa papan pengumuman terpasang di pinggir jalan dengan gambar tengkorak dan tulisan yang membuat ngeri: "Aduh! Berbahaya! Wilayah fokus keong ".

Bagi pendatang, perubahan itu akan menjadi tanda tanya. Namun, bagi warga lokal, fokus keong berarti sumber penyakit schistosomiasis, yang bisa menyebabkan kelainan hati dan jika terlambat diketahui bisa menyebabkan kematian.

Penyakit ini disebabkan oleh cacing pipih trematoda dari spesies Schistosoma japonicum. Berkaitan dengan genus Oncomelania, penyakit schistosomiasis atau dikenal sebagai bilharziasis, direvitalisasi berdasarkan nama dokter dari Jerman, Theodore Bilharz, yang menemukan penyakit pada tahun 1851, berkembang ke manusia.

"Satu tetes air yang sudah tercemar, ini bisa menyebabkan schistosomiasis sakit," kata Ronald Abe (31), pegawai honorer di Puskesmas Lore Utara, yang mengganti penyakit ini. Di daerah ini ada sembilan warga yang dipekerjakan untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini.

Triwibowo Ambar Garjito, biolog dari Universitas Gadjah Mada yang melakukan hubungan schistosomiasis sejak 2004, mengatakan, penyebaran cacing ini melalui pelacakan siput Oncomelania hupensis lindoensis. "Karena itu, penyakit ini juga dikenal oleh warga setempat sebagai demam keong," katanya.

Masuk ke pori-pori
Telur cacing menetas dalam udara, yang disebut mirasidium. Mirasidium inilah yang masuk ke tubuh keong, kemudian berkembang menjadi sporakista I dan sporakista II, yang berkembang menjadi serkaria. Serkaria berada di genangan air dan mampu hidup 2 × 24 jam, berenang-renang untuk mencari inangnya.

Baca Juga  Jangan Membawa Buah Saat Berkunjung di Rumah Sakit - Info Kesehatan

Dalam catatan para peneliti, serkaria mampu menginfeksi 13 mamalia, termasuk manusia, rusa, kucing, babirusa, sapi, kuda, dan kerbau. "Ketika kaki manusia yang tak terlindungi menginjak genangan udara, serkaria akan masuk ke pori-pori, mengambil peredaran darah, dan singgah di paru-paru untuk sementara," unkap trivibovo.

Serkaria sudah tergantung di paru-paru ditandai dengan korban yang mulai batuk-batuk. Dari hasi kemudian menuju kapal balik hati. Di sanalah berkembang menjadi cacing dewasa. Benih bertelur, dia akan melubangi dinding usus untuk membuang telurnya. "Inilah yang biasanya menghasilkan berak darah," katanya.

Sebagian telur berlawanan menuju ke hati dan terperangkap. Ketika terperangkap, sistem tubuh membuat jaringan pada telur-telur tersebut. "Dampak, hati akan membesar. Limfa juga membesar, suka penyakit kuning, badan kurus, perut besar, "paparnya.

Pinardi Hadidjaja dari Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam paper-nya, "Kelainan Hati dan Limpa pada Schistosomiasis" (1979), menyebutkan, penyakit ini menyebar di Jepang, Cina, Taiwan, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia, penyakit ini ditemukan sejak tahun 1937 di daerah Danau Lindu, Sulawesi Tengah. Tahun 1972, penyakit ini ditemukan daerah endemik baru, yaitu di Lembah Napu (termasuk Besoa), sekitar 50 kilometer sebelah Danau Lindu.

Penyakit kuno
Jauh sebelum ditemukan di Lore Lindu, penyakit ini diketahui pernah mewabah dari Mesir dan Cina pada masa lalu. Tahun 1500 sebelum Masehi (SM), Ebers papirus dari mesiratat reep untuk membunuh cacing dalam tubuh yang memerlukan pendarahan pada urin. Lembaran papirus ini adalah persetujuan dari dokumen asli yang dibuat tahun 3400 SM.

Baca Juga  Ada Tumor Ganas Sebesar Buah Jeruk pada Rahang Remaja Ini

Dalam penelitian yang dilakukan pionir paleopatologi, Marc Armand Ruffer (1859-1917), tahun 1910, menemukan telur Schistosoma haematobium pada ginjal dua mumi dari Dinasti Firaun ke-20 Mesir (1250 SM-1000 SM). Temuan ini membuka mata dunia tentang schistosomiasis di Lembah Sungai Nil sejak dulu.

Adanya schistosomiasis pada mumi juga ditemukan di Cina dalam penggalian situs prasejarah antara tahun 1971 dan 1974. Ditemukan telur Schistosoma japonicum yang dibawa mumi yang dicari 2100 tahun.

Dokumen kuno Tiongkok yang mencatat penyakit ini terlacak sejak 400 SM. Ge Hong dalam catatan medisnya, Zhouhou Beijifang, menggambarkan keberadaan "pembawa udara yang menyerang manusia seperti shegong, tetapi tak terlihat". Hingga kini diketahui, daerah sekitar Sungai Mekong merupakan daerah endemis yang menyebarkan penyakit schistosomiasis.

Bahkan, kata triwibowo, ada juga yang meyakini, negara-negara Asia yang memiliki perpindahan schistosoma japonicum, seperti Indonesia, memiliki sejarah masa lalu yang memberi makan dengan Sungai Mekong di Cina. "Spekulasi peneliti, dataran tinggi kini memiliki schistosoma di Asia pada masa lalu yang pernah terhubung dengan lempeng Asia, terutama dari Sungai Mekong," kata Triwibowo.

George Davis, dalam bukunya, Asal dan Evolusi Keluarga Gastropoda Pomatomidae (2007), memaparkan, asal-usul keong dari genus Oncomelania di Asia berasal dari Sungai Mekong kompilasi famili Pomatiopsidae menyebar ke penjuru dunia oleh activitas tumbukan lempeng India dengan lempeng Benua Asia.

Ia juga menjelaskan, subspesies keong di Sulawesi memiliki jalur yang memiliki aliran dari Cina, kemudian ke Jepang, Filipina, dan terakhir Sulawesi. Penyebaran keong Oncomelania hupensis juga dipicu aktivitas tektonik di Jepang pada era Miosen.

Karena proses isolasi yang panjang, akhirnya terbentuk subspesies terpisah, seperti ditemukan dari Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Sulawesi. Semua subspesies di negara-negara itu mirip karena berasal darenek moyang yang sama, yaitu Sungai Mekong dan Sungai Yangtze. Spesies ini berbeda dengan yang ada di Mesir.

Baca Juga  Ini Bahayanya Jika Kita Tidak Segera Menambal Gigi yang Berlubang

Pengendalian
Pengendalian penyakit ini termasuk cukup berhasil dan menurunkan prevalensi infeksi pada manusia. Di Napu, misalnya, prevalensi infeksi tahun 1973 sekitar 72 pers., Kemudian menurun menjadi 1.08 pers. Tahun 2006.

Penelitian Triwibowo dkk yang dimuat di jurnal Parasitologi Internasional berjudul "Schistosomiasis di Indonesia: Dulu dan Sekarang"(2008), memaparkan, Meskipun penyebaran penyakit ini hanya terbatas pada daerah endemis, pemberantasannya tetap menghadapi kesulitan, terutama dalam hal pencegahan pencegahan masyarakat yang kurang dan sulitnya memberantas keong transportasi di taman nasional.

Sebenarnya, dengan memecahkan keong yang suka daerah lembab, penanganan secara alami dapat dilakukan dengan mengeringkan habitatnya.

Balai Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Donggala, tempat Triwibowo, menemukan bukti baru sejak 2008, penyebaran schistosomiasis juga mencapai Lembah Bada. Ditemukan ada informasi itu schistosoma ditemukan di Bada, tetapi belum ada bukti telah menular ke manusia.

"Waktu itu kami punya anggap juga Lembah Bada, seperti Besoa dan Napu, merupakan lembah megalitikum yang punya sejarah tua. Karena itu, kami yakin di sana akan menemukan bukti penyebarannya ke manusia, terbukti benar, "kata Triwibowo.

Ronald Abe pun pesimistis penyakit ini benar-benar bisa dibasmi dari pengetahuan. "Penyakit ini sudah ada sejak dulu, dan mungkin akan terus ada. Apalagi, perawatannya setengah hati. "

Mudah-mudahan info kesehatan ini bisa menghadirkan manfaat kepada siapapun yang membutuhkan informasi tentang Schistosomiasis, Penyakit Kuno di Lore Lindu.