Info Terbaru

Perjalanan Restoran Mbah Jingkrak yang Menginspirasi

Halo guys selamat datang di situs informasiana.com. Kali ini kita akan membahas informasi menarik mengenai Perjalanan Restoran Mbah Jingkrak yang Menginspirasi. Anda jangan lupa yah untuk share tulisan di sosial media kalian.

Restoran Mbah Jingkrak menawarkan hidangan Jawa tengah dengan rasa yang sangat lezat. Semuanya berawal dari latar belakang pemilik yang gemar memasak.

Kisah Mbah Jingkrak lahir di Semarang, lebih tepatnya ketika seorang wanita bernama Ajeng Astri Dinaya melakukan usaha kuliner.

Dia memutuskan bahwa Ajeng, yang bekerja sebagai administrator di sebuah perusahaan mengundurkan diri jadi saya bisa berkonsentrasi melakukan bisnis. Keputusan ini juga membuahkan hasil yang baik.

Bahkan restoran Setiabudi di Jakarta selatan dipenuhi orang.

Penasaran dengan kisah penciptaan restoran Mbah Jingkrak yang akan terjual habis sejauh ini? Inilah ceritanya.

1. Mulai dengan saran teman

Niat Ajeng mendirikan restoran persis dengan ceritanya Lany Siswadi menciptakan Sambal Bu Rudy. Semuanya dimulai dengan saran seorang teman.

Ajeng mengakui bahwa memasak benar-benar hobinya. 24 jam di dapur Anda merasa kurang mengubah menu hidangan. Menurutnya, memasak adalah seni.

Pada akhir pekan selama liburan, Ajeng mengundang teman-temannya untuk menikmati hidangan buatan sendiri. Dan pada saat itu temannya menyarankan kepada Ajeng untuk membuka warung makan. Alasannya jelas: karena masakan Ajeng enak.

2. Mendirikan restoran pertama dalam bentuk restoran steak modal sebesar Rp. 14 juta

Ketika saya pertama kali membuka restoran, pikir Ajeng, restoran seperti apa yang tidak tersedia di Semarang? Dia memikirkan restoran steak yang cukup terkenal, tapi mahal.

Dia juga menciptakan restoran serupa tetapi dengan harga lebih murah pada tahun 1997. Sayangnya, daging yang dia gunakan hanya 100 gram. Saus ini juga dimodifikasi dengan rempah-rempah lokal dan pasar referensi diwakili oleh anak-anak usia sekolah atau orang muda.

Saat itu, modal yang dikeluarkan oleh Ajeng adalah 14 juta rupee. Nama sisanya adalah Bentuman.

Jangan salah paham, walaupun modalnya kecil dan restorannya hanya seluas 100 meter, restoran tetap diperlukan. Kabarnya dalam satu bulan, Ajeng bisa mendapat untung hingga 60 juta Rp.

Hanya beberapa bulan buka, dia sudah bisa memasang Kijang Capsule dan setahun kemudian dia bisa membayar rumah. Besar!

3. Dari Bentuman, Mbah Jingkrak lahir

Percaya Anda tidak percaya, restoran Mbah Jingkrak mungkin tidak ada jika tidak ada perkelahian.

Ceritanya begini, perlahan restoran Bentuman laris manis di kalangan orang tua siswa yang membersihkan anak-anak sekolah.

Dari sana mereka menasehati Ajeng jika lebih baik baginya untuk juga menyajikan hidangan nasi. Faktanya adalah bahwa tidak sedikit orang tua siswa berhenti di sana dan ingin makan siang.

Menanggapi hal ini, Ajeng berkata "Yowes". Dia juga mendirikan restoran lain bernama Mbah Jingkrak. Di restoran kedua ini, Ajeng menyapa para pelanggannya dari kalangan mana saja. Tua atau muda, hidangan Mbah Jingrak dijamin.

Baca Juga  Botox Testis Bikin Kepuasan Seks Pria Bertambah?

4. Konsep restoran tradisional Jawa tapi pedas

Hal yang unik tentang Mbah Jingkrak adalah, meskipun ini adalah restoran Jawa, tetapi rasa menu utamanya pedas. Bahkan pedas pun bisa mendidih. Beberapa menu pedas mereka adalah rambut iblis, jingkrak tempe dan setan sambal teri buto ijo.

Ada juga banyak variasi menu lainnya, ada tauge kacang oseng, daun singkong, tempe lodeh, lele goreng, ikan goreng goreng, ayam goreng, kue, brongkos, asem, sambal krecek goreng, gute sapi, mangut dan sebagainya. pada.

Apakah ini alasan mengapa Ajeng memilih nama Mbah Jingkrak? Rupanya kamu tidak tahu.

Nama itu juga muncul ketika Ajeng dan suaminya pergi ke Wonosari. Pada saat itu, Ajeng ingin belajar teknik membuat beras merah di warung Mbah Jirak.

Entah bagaimana sang suami bahkan mengatakan Mbah Jingkrak. Akibatnya mereka tertawa mendengar nama itu dan menjadikannya nama restoran.

5. Mbah Jingkrak ada di franchise

Salah satu faktor yang mendukung kesuksesan restoran ini adalah karena waralaba. Ajeng mengakui bahwa dia cukup bertekad untuk melakukannya.

Tapi sebaliknya, itu sebabnya restoran bisa terkenal dan membuka cabang di Jakarta. Pada 2008, restoran dibuka di Setiabudi, lalu pada 2010 hadir di Panglima Polim dan pada 2011 di Bogor di Pekanbaru.

Konsep waralaba cukup sederhana pada saat itu. Menu ini penting, kokidan inti SDM akan disediakan oleh Ajeng.

Hal utama adalah bahwa semua cabang rasa Mbah Jingrak harus seragam dan memenuhi standar. Inilah yang membuat restoran ini lebih populer.

Baca Juga  Ini 5 Artis Dangdut Terkaya yang Dulu Hidupnya Miris

Demikianlah sejarah berdirinya restoran eksentrik ini dengan kesukaan masyarakat. Mulai dari saran orang dan didukung oleh hobi dan bakat, restoran yang sukses dibuat.

Perjalanan sukses restoran Mbah Jingkrak tentu membuat kita sadar akan kesenangan berbisnis di daerah yang kita kuasai dan cintai. Ajeng juga mengajarkan hal-hal penting bagi pengusaha untuk mendengarkan rekomendasi konsumen atau pelanggan.

Jika konsumen tidak menyarankan Ajeng untuk menyediakan menu nasi, mungkin Mbah Jingkrak tidak akan ada sampai sekarang.

Baca Juga  Hiu Bambu Ini Bisa Bertelur Tanpa Pejantan

Gimana guys? kami berharap bro bisa terhibur dan pengetahuannya menjadi meningkat. Jangan lupa yah untuk share tulisan di sosial media kalian.

Perjalanan Restoran Mbah Jingkrak yang Menginspirasi | dr. Glenn | 4.5