Info Terbaru

Pengertian Wahabi, Sejarah Hadirnya dan Siapakah Tokoh Wahabi

Advertisement
Loading...


Berbicara Wahabi seringkali kita dengar, tapi sebagian besar tidak mengetahui pengertian wahabi. Oleh karena itu disini kami akan menjelaskan apa itu wahabi?? sejarahnya? tokohnya?. Pertanyaan tersebut memang amat sangat singkat, akan tetapi untuk menjelaskannya memerlukan jawaban yang tergolong cukup panjang dan akan disimpulkan dalam beberapa poin yaitu kondisi yang menjadi latar belakang kehadiran tuduhan wahabi, kepada siapa ditujukan tuduhan wahabi tersebut??, beberapa pokok landasan dakwah yang dicap atau dianggap sebagai wahabi??, bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap dakwah ahlusunnah wal jama’ah.

Orang-orang memang biasanya menuduh “Wahabi” kepada orang yang telah melanggar tradisi, bid’ah dan kepercayaan mereka. Sekalipun beberapa kepercayaan mereka itu rusak, berlawanan dengan Al-Quranul Karim dan hadits shahih. Mereka melakukan penentangan terhadap dakwah kepada tauhid dan tidak ingin berdoa selain kepada Allah SWT.

Suatu waktu, di depan seorang syaikh, penulis membacakan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang ada dalam kitab Al-Arba’in An-Nawa-wiyah dimana berbunyi.

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ،

“Kalau engkau memohon maka bermohonlah kepada ALlah, dan kalau engkau meminta pertolongan maka memintalah kepada Allah” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sangat kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi saat beliau mengatakan, “Kemudian kalau kebutuhan yang dimintanya menurut tradisi di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah atau petunjuk, ilmu, kesehatan dan kesembuhan maka hal-hal tersebut mestinya hanya meminta kepada Allah Swt. Dan kalau hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka dianggap sesuatu yang sangat tercela.

Kemudian penulis mengatakan “Hadits ini memberikan penegasan tidak diperbolehkannya meminta pertolongan selain Allah”. Dia pun kemudian menambahkan “Sebaliknya, hal itu dibolehkan”.

Penulis lalu memberikan pertanyaan “Apa dalil anda?” Syaikh itu langsung marah sambil berkata dengan suara tinggi,” Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’di” dan aku bertanya padanya “Wahai bibiku, apakah syaikh sa’d bisa memberikan manfaat kepadamu?” Dia menjawab, “Aku berdoa kepadanya sehingga dia menyampaikannya kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkanku.

Penulis lalu berkata, “Sesungguhnya engkau seorang yang alim dan banyak menghabiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Akan tetapi sungguh sangat mengherankan, mengapa engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang kemungkinan bodoh itu.”

Kemudian dia menjawab “Pola pikirmu adalah pola pikir orang wahabi. Engkau pergi umrah, lalu datang membawa kitab-kitabnya wahabi”.

Padahal penulis tersebut tidak mengenal sedikitpun mengenai wahabi, akan tetapi hanya mendengar dari para syaikh. Mereka berkata mengenai wahabi, “Orang-orang wahabi adalah orang yang melanggar tradisi orang banyak. Mereka tidak mempercayai para wali dan karamah-karamahnya, tak mencintai rasul dan berbagai macam tuduhan dusta yang lainnya.

Kalau orang-orang wahabi adalah orang yang percaya dengan pertolongan Allah semata dan percaya yang menyembuhkan hanya dari Allah, maka kita wajib untuk mengenal wahabi secara lebih jauh.

Setelah kita mengetahui beberapa alasan yang mendasari kehadiran wahabi tersebut maka anda akan menemukan dan memahami seperti apa itu wahabi. Mudah-mudahan informasi yang kami terangkan di bawah ini bisa membawa manfaat dan menjadi referensi untuk anda. Akan tetapi tolong informasi yang kami sajikan, jangan dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran karena tulisan ini dianggap oleh penulis masih jauh dari kesempurnaan.

Pengertian Wahabi dan Latar Belakang Munculnya Wahabi

pengertian wahabi

Pengertian Wahabi

Wahabi atau Wahhabisme atau salafi merupakan aliran reformasi keagamaan yang hadir di Islam. Aliran tersebut dikembangkan oleh seorang teolog Muslim yang ada di abad ke-18 bernama Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd, Arab Saudi dengan tujuan membersihkan dan mereformasi ajaran Islam supaya kembali lagi kepada ajaran yang sebenarnya, berdasar kepada Al-Quran dan Hadits. Kemudian meninggalkan ajaran yang tidak murni seperti khurafat, syirik dan beberapa praktik bidah.

Sekarang ini, wahhabisme termasuk aliran islam yang dominan di Qatar dan Arab Saudi. Dia bisa berkembang di dunia Islam lewat sekolah, program sosial dan pendanaan masjid. Dakwah utama aliran Wahabi yaitu Tauhid. Berbicara Tauhid, kita berbicara tentang mengesakan Allah. Ibnu Abdul Wahhab sudah dipengaruhi oleh beberapa tulisan Ibnu Taymiyyah dan mempertanyakan penafsiran Islam dengan menggunakan Al-Quran dan Hadits. Dia mengincar beberapa kemerosotan moral yang sudah dirasakan dan kelemahan politik yang ada di Arab. Kemudian mengutuk penyembahan berhala, pengkultusan orang suci, pemujaan kuburan orang yang saleh dan melarang menjadikan kuburan menjadi tempat beribadah.

tokoh wahabi

Secara etimologi, menurut seorang penulis yang berasal dari Saudi yaitu Abdul Aziz Qasim dan lainnya, pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada dakwah yang dilakukan Ibnu Abdul Wahhab pada masa kekhalifahan Ottoman. Kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah. Sehingga sekarang ini untuk istilah Wahabi dipropagandakan oleh aliran Syiah sebagai sebutan mayoritas aliran Sunni.

Wahabi tak menyukai istilah yang disematkan oleh beberapa kalangan tersebut kepada mereka dan menolak adanya penyematan nama individu termasuk memakai nama seseorang untuk menamakan aliran mereka. Mereka lebih menamakan dirinya dengan nama “salafi” dan gerakannya disebut Salafiyah.

Istilah Wahabi dan Salafi yang sering digunakan secara berganitan, tetapi wahabi sudah dikenal sebagai “Orientasi tertentu dalam salafism” yang diklaim ultra-konservatif. Akan tetapi bisa kita simpulkan bahwa Wahabi adalah gerakan Islam Sunni yang memiliki tujuan untuk memurnikan ajaran islam dari beberapa praktik atau ajaran yang sudah menyimpang seperti khurafat, bid’ah, penyembahan berhala, ilmu hitam dan syirik.

Latar Belakang hadirnya wahabi

Para pembaca yang kami hormati, dengan kita melihat gambaran secara sekilas mengenai kondisi Arab dan sekitarnya, maka kita akan mengetahui alasan atau sebab munculnya tuduhan wahabi. Sekaligus kita mengetahui latar belakang munculnya wahabi. Oleh karena itu, disini kita kaan menunjau dari aspek politik dan keagamaan secara umum. Kemudian secara terkhusus berbicara akidah.

Pada aspek politik, Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang sudah terpecah-pecah, apalagi di daerah Nejd, terjadi perebutan kekuasaan yang selalu hadir di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berpengaruh negatif terhadap kemajuan ekonomi dan pendidikan agama saat itu.

sejarah wahabi

Para penguasa telah hidup dengan mendapatkan upeti dari rakyatnya, jadi mereka tentu saja sangat merasa marah kalau ada dakwah atau kekuatan yang bisa menggoyang kekuasaan mereka. Begitu pula dari kalangan para tokoh agama dan adat yang biasa memungut iuran dari pengikutnya, sehingga mereka khawatir kalau pengikut mereka mengerti tentang agama dan aqidah yang benar. Oleh karena itu, dari sinilah mereka sangat berhati-hati kalau ada seseorang yang mencoba memberikan pengertian atau dakwah tentang agama dan aqidah yang benar.

PAda aspek keagamaan, di abad 12H / 17 M, kondisi beragama umat islam sudah sangat terlalu jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri, terutama dalam hal akidah, banyak sekali terjadi praktek bid’ah atau syirik, para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut. Akan tetapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak memiliki pengaruh secara luas atau hilang ditelan arus gelombang yang begitu sangat kuat dari pihak yang menentang karena jumlah mereka yang memang begitu banyak. Di samping itu, pengaruh kuat dari beberapa tokoh masyarakat yang mendukung praktek bid’ah dan syirik tersebut untuk keberlangsungan pengaruh mereka atau hanya karena mencari kepentingan duniawi semata. Sebagaimana kondisi seperti ini masih kita temukan di umat Islam, barangkali di negara kita masih sementara berada dalam proses tersebut dimana beberapa aliran sesat selalu dijadikan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan pengaruh politik.

Pada waktu itu di daerah Nejd menjadi tempat kelahiran sang penegak bendera tauhid yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang sangat menonjol dalam dakwahnya tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bahwa pada masa itu untuk pengaruh keagamaan mulai melemah di dalam tubuh kaum Muslim sehingga tersebarlah berbagai macam maksiat, bid’ah, syirik, khurafat dan sebagainya. Hal itu disebabkan kurangnya pendidikan ilmu agama di kalangan umat islam, sehingga beberapa praktek sirik terjadi dimana-mana seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta pada pepohonan dan batu-batu dengan memberikan sesajian atau mempercayai tukang tenun, peramal dan dukun. Salah satu daerah di Nejd, kampung Jubailiyah terdapat sahabat Zaid bin Khaththab yang merupakan saudara Umar Bin Khaththab yang syahid dalam peperangan melawan Musailamah Al Kadzab. Lewat kuburan itu, orang-orang berbondong-bondong ke sana untuk bisa meminta berkah, berbagai hajat. Begitu juga terjadi di kampung Uyainah, terdapat sebuah pohon yang sangat diagungkan, banyak orang yang mencari berkah di pohon tersebut, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup untuk meminta pohon tersebut.

Kemudian di daerah Hijaz (Madinah dan Mekkah) sekalipun tersebar ilmu disebabkan adanya kehadiran dua kota suci yang senantiasa dikunjungi oleh para penuntut ilmu dan ulama. Di ini tersebar kebiasaan suka bersumpa selain ALlah, menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan serta melakukan doa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau menolak mara bahaya dan sebagainya (lihatlah pembahasan ini di kitab Raudhatul Afkar karangan Ibnu Qhanim). Begitu juga dengan beberapa negeri di sekitar hijaz, apalagi negeri yang jauh dari kota suci tersebut dan ditambah kurangnya ulama, maka tentu saja akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang sudah terjadi di Jazirah Arab.

Hal tersebut dituangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Al-Qawa’id Arba’ “Sesungguhnya kesyrikan pada zaman kita sekarang sudah melebihi kesyirikan umat terdahulu, kesyirikan muta yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada waktu menghadapi bahaya, sedangkan untuk kesyirikan pada zaman kita senantiasa terjadi di setiap waktu, baik di saat aman apalagi ketika berada dalam kondisi bahaya”. Dalil dari Firman Allah:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa meraka saat berada dalam ancaman bencana yakni tenggelam di lautan, mereka berdoa hanya kepada Allah dan melupakan segala berhala atau sesembahan mereka baik dari pepohonan, batu, dan orang sholeh. Akan tetapi saat mereka sudah selamat hingga di daratan mereka akhirnya kembali lagi berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang telah melakukan syirik setiap saat.

Dalam kondisi di atas, Allah membuka sebab untuk kembalinya kaum Muslim kepada Jalan atau Agama yang benar dimana bersih dari bid’ah dan kesyirikan.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

« إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا »

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (HR. Abu Daud no. 4291, Al Hakim no. 8592)

Pada abad (12H / 17 M) Lahirlah seorang tokoh pembaharu di Nejd yakni Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab yang berasal dari Kabilah Bani Tamim.

Yang pernah mendapatkan pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Bahwa merekalah (yaitu Bani Tamim) adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal.” (HR. Bukhari no. 2405, Muslim no. 2525).

Tepatnya pada tahun 1115H di ‘Uyainah di salah satu perkampungan yang berada di daerah Riyadh. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama, bapak dan kakek beliau termasuk ulama yang terkenal di negeri Nejd. Umur 10 tahun, beliau sudah hafal Al-Quran, dia mulai melakukan petualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya. Dengan modal kecerdasan dan didukung oleh adanya semangat tinggi, akhirnya beliau melakukan petualangan ke berbagai daerah tetangga untuk bisa menuntut ilmu seperti di daerah Hijaz dan Basrah, sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama terdahulu yang mana mereka membekali diri dengan ilmu yang matang sebelum turun di medan dakwah.

Hal ini juga disebutkan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab dalam kitabnya yaitu “Ushul Tsalatsah: “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk bisa mengenal empat masalah: Pertama, ilmu mengenal Allah, mengenal nabinya, mengenal agama islam dengan dalil-dalilnya”. Kemudian beliau menyebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum melakukan dakwah dan beramal, beliau sebutkan ungkapan Imam Bukhari: “Bab Berilmu sebelum beraman dan berbicara, dalilnya firman Allah berbunyi:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Ketahuilah sesungguhnya tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan minta ampunlah atas dosamu.” Maka dalam ayat ini Allah memulai dengan perintah ilmu sebelum berbicara dan beramal”.

Setelah beliau kembali dari perjalanan mencari ilmunya, akhirnya beliau melakukan dakwah di kampung Huraimilak dimana ayah kandung beliau sudah menjadi Qadhi (hakim). Selain melakukan dakwah, beliau masih tetap menimba ilmu dari ayahnya sendiri, setelah ayahnya meninggal tahun 1153. Beliau semakin begitu gencar melakukan dakwah tauhid, ternyata situasi dan kondisi di daerah huraimilak kurang menguntungkan untuk melakukan dakwah, selanjutnya beliau akhirnya berpindah ke ‘Unaiyah, ternyata penguasa ‘Unaiyah waktu itu memberikan bantuan dan dukungan untuk menjalankan dakwah beliau yang dibawa. Akan tetapi, penguasa ‘Unaiya mendapatkan tekanan dari berbagai macam pihak. Kemudian beliau berpindah lagi dari ‘Unaiyah ke Dir’iyah. Ternyata masyarakat Dir’iyah sudah banyak mendengar mengenai dakwah beliau lewat beberapa murid beliau termasuk dintara murid beliau yang menjadi keluarga penguasa Dir’iyah. Akhirnya timbullah inisiatif dari sebagian murid beliaum untuk memberi tahu pemimpin Dir’yah tentang kedatangan beliau, maka dengan kerendahan hati Muhammad Bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah pada waktu itu mendatangi tempat di mana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tinggal. Disitulah dibuatlah perjanjian yang penuh berkah bahwa diantara keduanya berjanji akan melakukan kerja sama dalam melakukan penegakan agama Allah. Dengan mendengar perjanjian tersebut maka musuh-musuh Aqidah mulai kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai macam dalih untuk bisa menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud dan melakukan penyiksaan terhadap orang yang pro dengan dakwah tauhid.

Kepada Siapa diTuduhkan Gelar Wahabi Tersebut

Hari demi hari dakwah tauhid semakin tersebar dan para musuh dakwah tidak bisa lagi melawan dengan kekuatannya. Kemudian mereka berpindah arah dengan cara memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong supaya meraih dukungan dari pihak lain untuk bisa menghambat laju dakwah tauhid tersebut. Diantara fitnah yang tersebar yaitu sebutan wahabi untuk orang-orang yang mengajak ke tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kebenaran pasti akan berhadapan dengan berbagai macam tantangan dan onak duri dalam menapaki perjalanan dakwah.

Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab dalam kitab beliau Kasyfus Syubuhaat. “Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya di antara hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak diutus seorang nabi pun dengan tauhid ini, melainkan Allah menjadikan baginya musuh-musuh, sebagaimana firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh (yaitu) setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada bagian yang lain perkataan indah sebagai tipuan.” (QS. al-An-‘am: 112)

arti wahabi

Bila kita membaca sejarah para nabi tak seorang pun di antara mereka yang tak menghadapi tantangan dari kaumnya, bahkan di antara mereka ada yang terbunuh karena di bunuh, termasuk nabi Muhammad Saw yang di usir dari tanah kelahirannya, beliau dituduh sebagai orang gila, sebagai penyair dan tukang sihir. Begitu juga peran ulama yang melakukan ajakan kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Adanya dipenjara, disiksa, dibunuh dan sebagainya. Atau dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka di hadapan manusia, supaya orang lari dari kebenaran yang mereka ucapkan.

latar belakang wahabi

Hal inilah yang telah dihadapi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau untuk penduduk Qasim: “Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian, saya telah mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim (penentang dakwah tauhid) sudah sampai kepada kalian. Lalu sebagian diantara kalian ada yang telah percaya atas beberapa tuduhan bohon yang dia tulis, dimana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak ternah ada terlintas dalam ingatanku, seperti tuduhannya.

– Bahwa saya telah mengingkari empat kitab mazhab.
– Bahwa saya telah mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalau sudah tidak lagi mempunyai ilmu.
– Bahwa saya mengaku sebagai seorang mutjahid.
– Bahwa saya menyatakan perbedaan pendapat antara bencana dan ulama.
– Bahwa saya telah mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh.
– Bahwa saya pernah berkata: kalau saya mampu saya akan robohkan kubah yang berada di atas kuburan Nabi Muhammad Saw.
– Bahwa saya pernah menyatakan kalau saya mampu saya akan menggantikan pancuran ka’bah dengan pancuran kayu.
– Bahwa saya mengharamkan pergi ziarah kubur.
– Bahwa saya telah mengkafirkan orang bersumpah selain Allah Swt.
– Jawaban saya untuk beberapa tuduhan tersebut sesungguhnya ini semua hanyalah kebohongan yang nyata. Kemudian beliu menutup surat dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan.” (QS. al-Hujuraat: 6) (baca jawaban untuk berbagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut, 1. Mas’ud an-Nadawy, Muhammad bin Abdul Wahab Muslih Mazlum, 2. Abdul Aziz Abdul Lathif, Da’awy Munaawi-iin li Dakwah Muhammad bin Abdil Wahab, 3. Sholeh Fauzan, Min A’laam Al Mujaddidiin, dan kitab lainnya)

Baca juga:

Demikianlah informasi pengertian Wahabi dan sejarah wahabi serta alasan di sebut wahabi. Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat kepada anda yang sedang membutuhkan informasi tentang wahabi. Adapun tulisan diatas di sadur ulang dari tulisan Rektor Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember Jawa Timur yang disampaikan dalam tabligh akbar tanggal 21 Juli 2005 di kota Jeddah, Saudi Arabia.

Loading...
Advertisements
Pengertian Wahabi, Sejarah Hadirnya dan Siapakah Tokoh Wahabi | fajeros | 4.5