Info Terbaru

Pengertian pendidikan Karakter, Tujuan, Fungsi, Tugas dan Manfaatnya

Loading...
Advertisement


Loading...

Pengertian Pendidikan Karakter | Inilah arti pendidikan karakter yang sering dijadikan sebagai referensi dalam mengartikan seperti apa itu pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah suatu bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya ada tindakan mendidik dimana diperuntukkan kepada generasi yang selanjutnya. Adapun tujuan pendidikan karakter yaitu membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri untuk menuju arah hidup yang lebih baik.

Karakter juga seringkali dihubungkan dengan istilah apa yang kita sebut sebagai temperamen yang lebih memberikan penekanan pada definisi psikososial yang dikaitkan dengan konteks lingkungan dan pendidikan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial yang lebih menekankan kepada unsur somatopsikis yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang itu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang khas dimana ada pada orang yang bersangkutan disebut faktor bawaan (Nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tersebut tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan bisa dikatakan berada pada luar jangkauan individu dan masyarakat untuk mempengaruhinya. Sedangkan dari faktor lingkungan termasuk faktor yang berada pada jangkauan individu dan masyarakat. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang bisa dilakukan oleh individu atau masyarakat sebagai bagian dari lingkungan lewat rekayasa faktor lingkungan.

Penguatan pendidikan moral atau pendidikan karakter dalam konteks saat ini tergolong sangat relevan mengatasi krisis moral yang tengah melanda di negara Indonesia. Kemudian krisis tersebut antara lain berupa adanya peningkatan pergaulan bebas dimana semakin maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, pencurian remaja, kejahatan terhadap teman, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, kebiasaan menyontek dan perusakan milik orang lain yang telah menjadi permasalahan sosial yang sampai sekarang ini masih belum bisa diatasi secara tuntas. Oleh sebab itulah sangat penting pendidikan karakter.

Menurut pernyataan Lickona bahwa karakter berhubungan dengan konsep moral )moral knowing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behaviour). Dari ketiga komponen tersebut bisa dinyatakan bahwa karakter yang baik disupport oleh pengetahuan mengenai kebaikan, keinginan untuk melakukan perbuatan baik dan melakukan perbuatan kebaikan. Dibawah ini menjadi keterkaitan ketiga kerangka pikir tersebut.

pengertian pendidikan karakter menurut lickona

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

pengertian pendidikan karakter

Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Secara sederhana, pendidikan karakter bisa kita definisikan sebagai usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk dapat mempengaruhi karakter siswa. Akan tetapi untuk dapat mengetahui pengertian yang tepat, bisa dikemukakan disini. Definisi pendidikan karakter menurut Thomas Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang memang sengaja untuk dapat membantu seseorang sehingga dia bisa memahami, memperhatikan dan senantiasa melakukan nilai-nilai etika yang inti.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Suyanto

Suyanto mendefinisikan karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas pada setiap individu untuk bekerjasama dan hidup baik dalam lingkup keluarga, bangsa, masyarakat, maupun negara.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki pada setiap individu atau benda. Adapun ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian individu atau benda tersebut, serta menjadi “Mesin” yang mendorong seseorang bagimana bersikap, bertindak, berucap dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

Pengertian Pendidikan Karakter menurut kamus Psikologi

Karakter adalah suatu kepribadian ditinjau dari titik tolak moral atau etis, semisal kejujuran seseorang dan biasanya berhubungan dengan memiliki sifat yang relatif tetap. (Dali Gulo, 1982: p.29).

Pengertian Pendidikan menurut UU Sisdiknas

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk bisa mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, bangsa, negara dan masyarakat.

Nilai-nilai Dalam Pendidikan Karakter

Terdapat 18 butir memiliki nilai-nilai pendidikan karakter yakni jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, kreatif, Religius, cinta damai, peduli lingkungan, gemar membaca, tanggung jawab, bersahabat atau komunikatif, tanggung jawab dan peduli sosial.

Pendidikan karakter sudah menjadi perhatian berbagai macam negara dalam rangka untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas dimana bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara. Akan tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter bisa kita artikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character depelovpment (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah atau madrasah untuk dapat membantu dalam pembentukan karakter secara optimal).

Pendidikan karakter membutuhkan metode khusus yang tepat supaya tujuan pendidikan bisa tercapai. Diantara metode pembelajaran yang sesuai yaitu metode keteladanan, metode pujian, metode pembiasan dan hukuman.

Sejarah Pendidikan Karakter

Perang Melawan Lupa

Kegiatan pendidikan sudah sejak awal dijadikan sebagai cara bertindak dari masyarakat. Kemudian manusia mewariskan nilai yang menjadi bagian terpenting dari budaya masyarakat dimana tempat mereka hidup dan mewariskan nilai kepada generasi yang selanjutnya. Kemudian pendidikan mempunyai peran penting karena pendidikan tak hanya menentukan keberlangsungan masyarakat. Akan tetapi juga bisa menguatkan identitas individu dalam masyarakat. PAda prosesnya untuk berjuang melawan lupa dan berusaha membuat kenangan mengenai harta warisan kebudayaan yang menjadi awal kegiatan pendidikan.

Pendidikan Karakter Ala Romawi

Pendidikan karakter ala Romawi itu lebih mengedepankan pentingnya aspek keluarga dalam melakukan pemberian nilai karakter. Adapun bentuk nyata dari pembentukan karakter tersebut dimulai dengan memberikan nilai moral seperti pemberian rasa hormat untuk tradisi leluhur kepada setiap generasi pelanjut. Kemudian unsur dasar pendidkan karakter ala Romawi tersebut memberikan nilai seperti mengutamakan kesetiaan, kebaikan dan berperilaku sesuai dengan norma yang hadir di masyarakat.

Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal seperti Soekarno sudah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk identitas dan kepribadian bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang berkarakter.

Kelemahan Pendidikan Karakter di Indonesia

Persoalan pendidikan karakter yang ada di Indonesia sejauh ini berkaitan dengan pendidikan moral dan dalam aplikasinya terlalu membentuk satu arah pembelajaran khusus sehingga melupakan mata pelajaran yang lainnya, dalam pembelajaran terlalu membentuk satu sudut kurikulum yang telah diringkas dengan formula menu siap saji dengan tanpa melihat hasil dari proses yang dijalani. Dosen atau guru pun cenderung mengarahkan prinsip moral umum secara satu arah, tanpa melakukan pelibatan partisipasi siswa untuk bertanya dan mengajukan pengalaman empirisnya. Sejauh ini dalam melakukan proses pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada pembentukan karakter individu belum bisa dikatakan tercapai karena pada proses pendidikan di Indonesia terlalu mengutamakan penilaian pencapaian individu dengan tolak ukur tertentu terutama logik matematik sebagai ukuran utama yang telah menempatkan seseorang sebagai warga kelas satu. Dalam prosesnya, pendidikan karakter yang berorientasi pada moral dikesampingkan dan akibatnya banyak mengalami kegagalan nyata pada dimensi pembentukan karakter individu contohnya di Indonesia terkenal pada pentas dunia karena kisah yang buruk seperti korupsi dengan memiliki moralitasi yang lembek.

Pendidikan karakter adalah aspek yang sangat penting untuk generasi pelanjut. Seorang individu tidak cukup hanya diberikan bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka. Akan tetapi juga harus diberikan hal pada segi spritual dan moralnya, seharusnya pendidikan karakter diberikan seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini mesti dimulai sejak dini khususnya pada lembaga pendidikan. Pendidikan karakter di sekolah bisa dimulai dengan memberikan contoh yang bisa dijadikan teladan untuk murid yang diiringi pemberian pembelajaran seperti kewarganegaraan dan keagamaan sehingga bisa melakukan pembentukan individu yang berjiwa sosial, berfikir kritis, mempunyai dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai, menghormati orang lain serta adil dalam segala hal.

Tujuan Pendidikan Karakter

Lahirnya pendidikan karakter dapat dikatakan sebagai usaha dalam menghidupkan spritual yang ideal. Foerster seorang ilmuwan pernah menyatakan bahwa tujuan utama Pendidikan yaitu untuk membentuk karakter karena karakter adalah suatu evaluasi seorang individu atau pribadi serta karakter pun bisa memberikan kesatuan atas kekuatan dalam melakukan pengambilan sikap pada setiap situasi. Pendidikan karakter pun bisa dijadikan sebagai strategi dalam mengatasi pengalaman yang senantiasa selalu berubah sehingga bisa melakukan pembentukan identitas yang kokoh pada setiap individu dalam hal ini bisa dilihat bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk melakukan pembentukan sikap yang bisa membawa kita kearah kemajuan tanpa mesti bertentangan dengan norma yang sedang berlaku. Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang mesti dimiliki pada setiap individu supaya menjanjikan mereka sebagai individu yang bermanfaat untuk seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Pendidikan karakter bagi individu memiliki tujuan supaya: memahami sisi baik untuk menjalankan perilaku berkarakter, untuk menunjukkan contoh perilaku berkarakter pada kehidupan sehari-hari, dapat menjelaskan dan mengartikan berbagai karakter, dan mengetahui berbagai karakter baik untuk manusia.

Faktor Pendidikan Karakter

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter mempunyai peran yang tergolong sangat penting karena adanya perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari suatu proses pendidikan karakter yang sangat ditentukan oleh faktor lingkungan. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang meliputi diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, kurikulum, pendidik, manajemen sekolah dan metode pengajar. Pembentukan karakter lewat rekayasa faktor lingkungan bisa kita lakukan menggunakan strategi.

1. Keteladanan
2. Intervensi,
3. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten
4. Penguatan.

Dengan kata lain bahwa perkembangan dan pembentukan karakter membutuhkan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi lewat proses pembelajaran, pembiasaan, pelatihan secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang dimana dilakukan secara konsisten dan penguatan serta mesti dibarengi dengan nilai-nilai keluhuran.

Pilar-pilar Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter berdasar pada enam nilai-nilai etis bahwa pada setiap orang bisa menyetujui beberapa nilai yang tidak mengandung religius, bias budaya atau politis. Beberapa hal yang di bawah ini bisa kita jelaskan dalam membantu siswa untuk memahami enam pilar pendidikan karakter yakni sebagai berikut:

1. Trustwhorthiness (Kepercayaan)

Jangan menipu, menjiplak, jujur, mencuri, jadilah handal, melakukan apa yang anda katakan, minta keberaniaan untuk melakukan sesuatu yang benar, membangun reputasi yan gbaik, patuh – berdiri dengan teman, keluarga dan negara.

2. Respect
Bersikap toleran terhadap perbedaan, menggunakan bahasa sopan santun, bukan bahasa buruk, mempertimbangkan perasaan orang lain, jangan memukul, menyakiti orang lain atau mengancam, damailah dengan kemarahan, perselisihan dan hinaan.

3. Responsibility (tanggung jawab)
Selalu melakukan yang terbai, gunakan kontrol diri, berfikir sebelum bertindak, disiplin, mempertimbangkan konsekuensi dan bertanggung jawab atas pilihan anda.

4. Fairness (Keadilan)

Bermain dengan sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berfikiran terbuka; mendengarkan orang lain, janganlah mengambil keuntungan dari orang lain, dan jangan menyalahkan orang lain sembarangan.

5. Caring (Peduli)

Bersikaplah dengan penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, membantu orang yang membutuhkan, dan memaafkan orang lain.

6. Citizenship (Kewarganegaraan)

Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup dan mentaati aturan dan hukum.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Pendidikan yang telah diterapkan di sekolah juga menuntut adanya pemaksimalan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan adanya pemahaman seperti itu, sebenarnya terdapat hal lain dari anak yang tidak kalah penting yang tanpa kita sadari sudah terabaikan yaitu memberikan pendidikan karakter pada setiap anak didik. Pendidikan karakter sangat penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang seringkali kita temukan bersama bahwa seorang pengusaha kaya raya justru tak dermawan, seorang politikus malahan tidak memperdulikan tetangganya yang sedang kelaparan, atau seseorang guru yang justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak memperoleh kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti dari tidak adanya keseimbangan antara pendidikan karakter dan pendidikan kognitif.

Terdapat sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa “Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu itu lumpuh” yang berarti bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta maka tidak dapat berjalan, berjalan pun pasti asal nabrak. Kalaupun berjalan memakai tongkat pun pasti tetap berjalan lambat. Sebaliknya dengan pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif maka akan lumpuh sehingga sangat mudah disetir, dikendalikan dan dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan pada karakter anak didik.

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang lebih menekankan pada pembentukan nilai karakter pada setiap anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang sudah dirumuskan oleh seseorang pencetus pendidikan karakter yang berasal dari Jerman yaitu FW Foerster:

1. Pendidikan karakter lebih menekankan setiap tindakan yang berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik akan menghormati setiap norma yang ada dan berpatokan pada norma tersebut.

2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik tersebut akan dapat menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tak mudah terombang-ambing dan tak takut terkena resiko pada setiap kali menghadapi situasi baru.

3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar hingga menjadi nilai-nilai bagi setiap pribadinya. Dengan demikian, anak didik dapat mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh adanya desakan yang berasal dari pihak luar.

4. Kesetiaan dan keteguhan. Keteguhan adalah suatu daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan termasuk dasar penghormatan atas komitmen yang akan dipilih.

Pendidikan karakter penting untuk pendidikan di indonesia. Pendidikan karakter tersebut akan dapat menjadi dasar atau basic dalam membentuk karakter berkualitas bangsa yang tak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti kebersamaan, toleransi, saling membantu dan menghormati, kegotongroyongan dan sebagainya. Pendidikan karakter senantiasa akan melahirkan kepribadian unggul yang tak hanya mempunyai kemampuan kognitif saja. Akan tetapi mempunyai karakter yang bisa mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan penelitian di Universitas Harvard Amerika Serikat bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinya (hard skill) saja. Akan tetapi terletak oleh adanya kemampuan mengelola diri dan orang lain (Soft Skill).

Pada penelitian ini telah mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan oleh sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan kecakapan soft skill tersebut terbentuk lewat adanya pelaksanaan pendidikan karakter pada setiap anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter yang ada diatas maka kita dapat menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada setiap anak didik. Semisal, memberikan suatu pemahaman hingga mendiskusikan mengenai hal yang buruk dan baik, memberikan kesempatan dan peluang untuk bisa mengembangkan dan mengeksplorasi segala potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mendukung anak dalam melakukan pengambilan keputusan terhadap dirinya sendiri, menanamkan pada setiap anak didik akan arti keajekan dan bertanggung jawab dan berkomitmen terhadap pilihannya. Kalau menurutu saya, sebenarnya yang terpenting itu bukan pilihannya. Akan tetapi kemampuannya memilih kita dan mempertanggung jawabkan kita terhadap pilihan kita tersebut yakni dengan cara berkomitmen pada setiap pilihan tersebut.

Pendidikan karakternya itu hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan dalam metode pendidikan dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain daripada itu, pada lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan demikian, semua generasi Indonesia yang unggul akan lahir dari sistem pendidikan karakter.

Proses Pembentukan Karakter Pada Anak

Pada suatu hari seorang anak laki-laki tengah memperhatikan sebuah kepompong, lalu ternyata di dalamnya terdapat kupu-kupu yang tengah berjuang untuk bisa melepaskan diri dari kepompongnya. Kelihatannya sangat begitu sulit, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan terhadap kupu-kupu nya dan berpikir tentang bagaimana cara untuk membantu si kupu-kupu supaya dapat keluar secara mudah. Akhirnya si anak laki-laki menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu dalam memotong kepompong supaya kupu-kupu nya bisa segera keluar dari kepompongnya. Alangkah senang dan leganya si anak tersebut. Akan tetapi apa yang terjadi?? si kupu-kupu memang dapat keluar dari kepompongnya, kupu-kupu tersebut tidak bisa terbang dimana hanya bisa merayap. Apa penyebabnya??

Ternyata, bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya. Terdapat suatu cairan yang ada dalam tubuhnya mengalir secara kuat pada seluruh tubuh sehingga membuat sayapnya dapat mengembang dan terbang. Akan tetapi karena tidak adanya lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak bisa mengembang sehingga jadilah dia seekor kupu-kupu yang hanya bisa merayap. Itulah potret singkat mengenai pembentukan karakter bahwa akan terasa sangat jelas kita memahami lewat contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali guru dan orang tua melupakan hal tersebut. Bisa intention atau niat baik kita belum tentu dapat menghasilkan sesuatu yan ggbaik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita seringkali membantu mereka karena kasihan atau sayang. Akan tetapi sebenarnya malahan membuat mereka menjadi tidak mandiri. Membuat potensi yang ada di dalam dirinya tidak berkembang. Memandukan kreativitiasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka bisa berhasil melewatinya maka justru menjadi berkarakter kuat.

Sama halnya untuk pembentukan karakter seorang anak bahwa memang membutuhkan waktu dan komitmen dari sekolah dan orang tua atau guru dalam mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Membutuhkan upaya, cinta dan waktu dari lingkungan yang merupakan tempat dia bisa bertumbuh, cinta disini jangan kita salah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses tersebut maka dampaknya bukan pada anak kita, kepada kita pun akan berpengaruh positif, paling tidak berkarakter sabar, toleransi, mampu memahami setiap masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan mempunyai integritas terpancar pada diri kita sebagai guru atau orang tua. Hebatnya, proses tersebut mengerjakan pekerjaan baik untuk guru, orang tua dan anak. Kalau kita berkomitmen pada setiap proses pembentukan karakter maka segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun membutuhkan proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin. Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak ingin mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tak memakai seragam lengkap.

Karakter suatu bangsa termasuk aspek penting yang dapat mempengaruhi pada setiap perkembangan sosial ekonomi. Adapun kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat dimana tentu saja akan menumbuhkan keinginan yang kuat dalam meningkatkan kualitas bangsa. Pengembangan karakter yang terbaik yaitu jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang dipercayai secara luas menyatakan bahwa “Jika kita gagal menjadi orang baik di usia dini, maka di usia dewasa kita akan dapat menjadi orang yang jahat atau bermasalah”.

Thomas Lickona mengatakan bahwa “Seorang anak hanyalah wadah dimana seorang dewasa yang senantiasa bertanggung jawab dapat diciptakan”. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi investasi manusia yang tergolong sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal yang mengungkapkan bahwa “Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25 persen dari total populasi. Akan tetapi menentukan 100 persen dari masa depan”. Sudah terbukti bahwa periode yang sangat efektif untuk dapat membentuk karakter anak yaitu sebelum usia 10 tahun. Diharapkan adanya pembentukan karakter anak pada periode ini akan mempunyai dampak yang bertahan lama terhadap pembentukan moral anak tersebut.

Efek berkelanjutan atau multilier effect dari pembentukan karakter positif anak akan bisa terlihat seperti yang telah digambarkan oleh Jan Wallanderm, “Kemampuan emosi dan sosial pada masa anak-anak akan dapat mengurangi perilaku yang beresiko, seperti mengonsumsi alkohol yang menjadi salah satu penyebab utama permasalahan kesehatan sepanjang masa; perkembangan sosial dan emosi pada anak-anak juga bisa meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap tekanan yang akan berpengaruh secara langsung pada setiap proses penyakit; kemampuan sosial dan emosi yang tinggi pada orang dewasa mempunyai penyakit bisa membantu dalam meningkatkan perkembangan fisiknya.

Memang sangat wajar kalau kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik dasar-dasar moral pada anak. Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang tinggal pada daerah miskin, tak memperoleh pendidikan moral dari orang tua mereka.

Kondisi sosial ekonomi yang rendah berhubungan dengan berbagai macam permasalahan seperti pengangguran, kemiskinan, tingkat berpendidikan rendah, kehidupan bersosial yang rendah, biasanya berhubungan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan jauh lebih lagi berpengaruh terhadap pola asuhnya. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal pada daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima perilaku negatif seperti kekerasan mental dan fisik serta ditelantarkan dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki pendapatan lebih tinggi.

Banyak hasil studi telah menunjukkan bahwa anak-anak yaang sudah memperoleh pendidikan pra-sekolah memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak masuk ke TK, terutama dalam kemampuan akademik, motivasi, inisiatif, kemampuan sosial, dan kreatifitasnya. Anak-anak yang tidak dapat masuk ke TK umumnya akan mendaftar ke SD dalam usia yang sangat muda yakni 5 tahun. Hal tersebut akan dapat membahayakan karena mereka belum siap secara psikologis dan mental sehingga bisa membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri dan bisa membunuh kecintaan mereka untuk bisa belajar. Dengan demikian sebuah program penanganan masalah ini diperlukan dalam mempersiapkan anak dengan berbagai macam pengalaman penting untuk bisa menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk bisa mulai memasukkan anaknya ke prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk secara bersama-sama melakukan pendidikan karakter.

Dorothy Law Nolte pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Adapun selengkapnya sebagai berikut:

– Jika anak kita dibesarkan dengan celaan maka dia belajar memaki.
– Jika anak kita dibesarkan dengan permusuhan maka dia akan belajar berkelahi.
– Jika anak kita dibesarkan dengan cemoohan maka dia belajar rendah diri.
– Jika anak kita dibesarkan dengan penghinaan maka dia belajar menyesali diri.
– Jika anak kita dibesarkan dengan toleransi maka dia belajar menahan diri.
– Jika anak kita dibesarkan dengan pujian maka dia belajar menghargai.
– Jika anak kita dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan maka dia belajar keadilan.
– Jika anak kita dibesarkan dengan rasa aman maka dia belajar menyenangi diri.
– Jika anak kita dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabat maka dia belajar menemukan cinta di dalam kehidupannya.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang pengertian pendidikan karakter, tujuan, fungsi, tugas dan manfaatnya. Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua yang membutuhkan informasi mengenai pengertian pendidikan karakter.

Advertisements
Pengertian pendidikan Karakter, Tujuan, Fungsi, Tugas dan Manfaatnya | fajeros | 4.5