Menu

11+ Pengertian Keluarga Menurut Ahli, Peran, Tugas dan Fungsi Keluarga

Pengertian Keluarga – Berbicara tentang keluarga maka setiap orang tentu saja langsung mengingat ayah, ibu dan anak serta kebahagiaan rumah tangganya. Ya, tiga nama dan satu situasi tersebutlah yang menjadi faktor utama dalam membentuk sebuah keluarga. Tanpa dilengkapi oleh salah satu nama dan kondisi tersebut maka sebuah keluarga tak akan bisa berfungsi secara baik.

Pada dasarnya setiap orang yang ada di dunia ini sudah tentu mengenal istilah keluarga. AKan tetapi pada prakteknya, masih banyak orang yang tak mengetahui arti dari kata keluarga atau pun menjalankan seperti apa fungsi keluarga yang sebenarnya.

Lantas seperti apa saja sebenarnya arti kata keluarga tersebut? dan apa saja kah fungsi dari keluarga dalam kehidupan manusia.??

Pengertian Keluarga, Peran, Tugas dan Fungsi

Keluarga adalah bagian unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal pada suatu tempat di bawah suatu atap dalam kondisi saling ketergantungan dan biasanya selalu ada ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, hubungan darah.

Dari pengertian keluarga di atas juga senada dengan pengertian keluarga menurut para ahli yakni sebagai berikut:

Pengertian Keluarga Menurut Duvall dan Logan

Keluarga adalah sekumpulan orang yang memiliki ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang memiliki tujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, emosional, mental dan sosial dari setiap anggota keluarga.

Pengertian Keluarga Menurut Bailon dan Maglaya

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup pada satu rumah tangga karena adanya suatu hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka senantiasa saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, memiliki peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahakan budaya tertentu./

PEngertian Keluarga Menurut Departemen Kesehatan RI

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal pada suatu tempat di bawah satu atap dalam kondisi saling ketergantungan.

Pengertian Keluarga Menurut Narwoto dan Suyanto

Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial yang lainnya berkembang. Di masyarakat mana pun di dunia, keluarga merupakan suatu kebutuhan manusia yang universal dan menjadi hal yang terpenting dari kegiatan dalam kehidupan setiap individu.

Pengertian Keluarga Menurut Sigmund Freud

Keluarga pada dasarnya terbentuk karena hadirnya perkawinan pria dan wanita.

Menurut UU. No. 10 Thahun 1992

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas suami-istri atau suami-istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.

Menurut Sayekti (1994)

Keluarga adalah suatu persekutuan atau ikatan hidup atas dasar perkawinan antar orang dewasa yang berlainan jenis dimana hidup bersama atau seorang laki-laki atau perempuan yang sudah sendiri dengan atau tanpa anak, baik itu anaknya sendiri atau adopsi yang tinggal pada sebuah rumah tangga.

Pengertian Keluarga Menurut Friedman (1998)

Keluarga adalah suatu kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan memiliki keterikatan aturan dan emosional serta individu memiliki peran masing-masing yang merupakan bagian-bagian dari keluarga.

Pengertian Keluarga menurut Effendy (2005)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang berkumpul serta tinggal pada suatu tempat di bawah suatu atap dalam kondisi saling menggantungkan diri.

pengertian keluarga

Ciri-ciri Keluarga

Suatu keluarga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Terdiri atas orang-orang yang mempunyai ikatan darah atau adopsi.

2. Anggota suatu keluarga itu biasanya hidup secara bersama-sama dalam satu rumah dan mereka senantiasa membentuk satu rumah tangga.

3. Mempunyai satu kesatuan orang-orang yang saling berinteraksi dan berkomunikasi dimana ada yang memainkan peran sebagai suami, istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.

4. Mempertahankan suatu kebudayaan bersama dimana sebagian besar berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas.

Jenis Keluarga

Terdapat beberapa jenis keluarga yaitu:

– Keluarga Inti yang terdiri atas suami, istri dan anak

Keluarga Inti biasa disebut keluarga batin yaitu terdiri atas ayah, ibu dan anak. Keluarga inti adalah suatu bagian dari lembaga sosial yang terdapat di masyarakat. Bagi masyarakat primitif yang mata pencahariannya berupa bertani dan berburu, keluarga sudah menjadi struktur yang tergolong cukup memadai untuk bisa menangani produksi dan konsumsi. Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga yang lainnya berkembang karena kebudayaan yang semakin begitu kompleks dimana menjadi lembaga-lembaga tersebut sangat penting.

– Keluarga Konjugal yang terdiri atas pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang memiliki interaksi bersama kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.

– Keluarga luas yang ditarik berdasarkan garis keturunan di atas keluarga alinya. Keluarga luas mencakup hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek dan keluarga nenek.

Baca Juga  Fungsi Komponen Abiotik dan Biotik Serta Contohnya Masing-masing

Peran Keluarga

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat dan kegiatan yang berkaitan dengan pribadi dalam posisi dan kondisi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga itu didasari oleh adanya harapan dan pola perilaku keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai macam peranan yang terdapat pada keluarga yakni sebagai berikut:

1. Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan untuk mencari nafkah, pendidik, pelindung dan memberikan rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari bagian kelompok sosialnya sebagai anggota dari kelompok sosialnya dan sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

2. Ibu sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu memiliki peran dalam mengurusi rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, melindungi dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu bisa berperan untuk mencari nafkah tambahan bagi keluarganya.

3. Anak-anak menjalankan peranan psikososial sesuai dari tingkat perkembangannya baik secara fisik, sosial, mental dan spritual.

Tugas Keluarga

Pada dasarnya tugas dari keluarga ada delapan tugas pokok yakni sebagai berikut:

– Membangkitkan dorongan dan semangat dari para anggotanya.
– Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
– Pemeliharaan ketertiban terhadap anggota keluarga.
– Pengaturan jumlah anggota keluarga
– Sosialisasi antar anggota keluarga
– Pembagian tugas masing-masing dari anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
– Pemeliharaan sumber-sumber daya yang terdapat dalam keluarga.
– Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.

Fungsi Keluarga

Fungsi yang dijalankan pada keluarga yaitu:

– Fungsi biologis bisa dilihat dari bagaimana keluarga bisa meneruskan keturunan sebagai generasi pelanjutnya.
– Fungsi rekreatif dilihat dari bagaimanakah menciptakan suasana yang menyenangkan di dalam keluarga seperti kegiatan nonton tv bersama, bercerita mengenai pengalaman masing-masing dan lain-lainnya.

– Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala kelaurga mencari suatu penghasilan, melakukan pengaturan penghasilan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

– Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anaknya dan anggota keluarga lainnya lewat kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan yang mengelola kehidupan sekarang dan kehidupan lain setelah dunia.

– Fungsi perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara institutif merasakan adanya perasaan dan suasana dari anak dan anggota yang lainnya dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama keluarga sehingga muncul saling pengertian satu sama lain dalam upaya menumbuhkan keharmonisan pada keluarga.

– Fungsi perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga bisa melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindungi dan merasa aman.

– Fungsi sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga bisa mempersiapkan anak dapat menjadi anggota masyarakat yang baik.

– Fungsi pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk bisa mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anaknya.

Bentuk Keluarga

Terdapat dua macam bentuk keluarga, itu dilihat dari bagaimana pengambilan keputusannya yakni berdasarkan pola prioritas dan lokasi.

– Berdasarkan lokasi
1. Adat Natalokal yakni adat yang menentukan bahwa suami dan istri itu masing-masing hidup terpisah dan masing-masing dari mereka juga akan tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri.

2. Adat avunkulokal yakni adat yang mengharuskan pasangan suami istri untuk menetap pada sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami.

3. Adat Neolokal yakni adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri bisa menempati tempat yang baru, dalam arti kata tak berkelompong dengan kaum kerabat suami maupun istri.

4. Adat bilokal yakni adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri bisa tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada masa tertentu, dan disekitar pusat kediaman kaum kerabat istri dimasa tertentnu juga (bergantian).

5. Adat Uxurilokal yakni adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri mesti tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri;

6. Adat virilokal yakni adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri diharuskan untuk menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami.

7. Adat utrolokal yakni adat yang memberikan kebebasa kepada suami istri untuk bisa memilih tempat tinggal baik itu di sekitar kediaman kaum kerabat suami atau di sekitar kediaman kaum kerabat istri.

– Berdasarkan pola otoritas

1. Patriakal yakni suatu otoritas pada keluarga dimiliki oleh laki-laku, umumnya laki-laki tertua atau ayah.

2. Matriarkal yakni suatu otoritas pada keluarga dimiliki oleh seorang perempuan tertua atau ibu.

3. Equalitarian yakni suami dan istri berbagai otoritas secara seimbang.

Subsistem Sosial

Ada tiga jenis subsistem pada keluarga yaitu subsistem suami istri, subsistem orang tua- anak, dan subsistem sibling (kakak-adik). Subsistem suami-istri terdiri atas seorang laki-laki dan perempuan yang hidup bersama dengan tujuan secara eksplisit dalam membangun keluarga. Pasangan tersebut menyediakan dukungan mutual satu dengan yang lainnya dan membangun sebuah ikatan yang dapat melindungi subsistem tersebut dari adanya gangguan yang ditimbulkan oleh adanya kepentingan maupun kebutuhan dari subsistem-subsistem lainnya. Subsistem orang tua-anak terbentuk sejak dari kelahiran seorang anak dalam keluarga, subsistem ini mencakup transfer nilan dan pengetahuan akan tanggung jawabn yang berhubungan dengan orang tua dan anak.

Baca Juga  Fungsi Protein

Keluarga Sejahtera

Keluarga adalah suatu unit terkecil yang ada dalam masyarakat terdiri atas suami-istri atau suami-istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. Keluarga sejahtera itu dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bisa memenuhi kebutuhan hidup secara spritual dan materi yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa mempunyai hubungan yang sama, selaras, seimbang antara setiap anggota keluarga bersama masyarakat dan lingkungannya.

Tahapan Keluarga

– Keluarga Pra Sejahtera

Keluarga-keluarga yang belum bisa memenuhi kebutuhan dasar secara minimal seperti agama, sandang, pangan, pengajaran, papan dan kesehatan.

– Keluarga Sejahtera Tahap1.

Keluarga bisa memenuhi kebutuhan dasar secara minimal (sesuai kebutuhan dasar pada keluarga pra sejahtera). Akan tetapi belum bisa memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologis keluarga seperti pendidikan, interaksi dalam keluarga, KB, interaksi dengan lingkungan.

– Keluarga Sejahtera Tahap 2

Keluarga-keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan psikologis. Akan tetapi masih belum bisa memenuhi kebutuhan perkembangan (menabung dan mendapatkan informasi)

– Keluarga sejahtera tahap 3.

Keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan pada tahapan keluarga 1 dan 2 akan tetapi belum bisa memberikan sumbangan maksimal terhadap masyarakat dan berperan secara aktif di masyarakat.

– Keluarga sejahtera tahap 3 plus

Keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan semua kebutuhan keluarga pada tahap 1 sampai 3. Pelaksanaan pembangunan dalam keluarga sejahtera. Dalam PP No. 21 Th 1994, pasal 2: pembangunan keluarga sejahtera diwujudkan melalui pengembangan kualitas keluarga diselenggarakan secaramenyeluruh, terpadu oleh masyarakat dan keluarga.Tujuan Mewujudkan keluarga kecil bahagia, dejahtera bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, produktif, mandiri dan memiliki kemampuan untuk membangun dirisendiri dan lingkungannya.

Pokok-pokok Kegiatan Pembangunan Keluarga Sejahtera

– Pembinaan Ketahanan Fisik Keluarga
Kegiatan-kegiatan yang bersifat meningkatkan ketahanan fisik keluarga, seperti pembinaan gizi keluarga semisal gizi ibu hamil, stimulasi pertumbuhan balita, usaha tanaman obat keluarga, pembinaan kesehatan lingkungan keluarga dan lain-lainnya.

– Pembinaan ketahanan non fisik keluarga.

Kegiatan-kegiatan yang bersifat meningkatkan ketahanan non fisik keluarga. Seperti, pembinaan kesehatan mental keluarga, stimulasi perkembangan balita, konseling keluarga dan lain-lainnya.

Pembinaan Keluarga Sejahtera

Pembinaan keluarga sejahtera didalam aspek agama, pendidikan, budaya, sosial dan ekonomi.

Pembinaan Keluarga dalam Aspek Agama

Agama mempunyai peran yang pentung untuk membina keluarga sejahtera. Agama bertanggung jawab dan penyelesaian terhadap segala fungsi kehidupan manusia berupa ajaran atau sistem yang telah mengatur tata keimanan atau kepercayaan dan peribadahan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berkaitan dengan pergaulan manusia dan lingkungannya. Oleh sebab itu, sebuah keluarga mestilah mempunyai dan berpegang pada suatu agama yang diyakininya supaya pembinaan keluarga sejahtera bisa terwujud sejalan dengan apa yang telah diajarkan oleh agama.

Pembinaan Keluarga dalam Aspek Pendidikan

Pendidikan keluarga sangat penting, akan tetapi seringkali kita menganggapnya tak penting. Etika yang benar mesti diajarkan kepada anak sejak kecil, sehingga saat seorang anak menjadi dewasa maka dia senantiasa akan berperilaku baik. Tentu saja perilaku orang tua juga mesti baik dan benar sebagai contoh kepada anaknya. Kalau sejak kecil seorang anak kita diajarkan secara baik dan benar maka keluarga tersebut akan berjalan harmonis. Dan seandainya setiap keluarga mengajarkan mengenai etika yang benar maka semua manusia senantiasa hidup berdampingan dan damai. Keluarga termasuk wahana pertama dan utama pada pendidikan karakter anak. Kalau keluarga gagal menjalankan pendidikan karakter pada anak-anaknya maka akan sangat sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (sekolah ) untuk bisa memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berpengaruh pada perkembangan yang tidak berkarakter. Oleh sebab itulah, setiap keluarga mesti mempunyai kesadaran bahwa karakter bangsa itu sangat bergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak itu sangat tergantung dari jenis pola asuh yang telah diterapkan orang tua kepada anaknya. Pola asuh bisa didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dan orang tua yang mencakup pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, minum dan lain-lain dan kebutuhan psikologis seperti (rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat supaya anak bisa hidup selaras bersama lingkungannya. Dengan kata lain bahwa pola asuh juga mencakup pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak.

Baca Juga  Pengertian Demokrasi dan Macam Macam Demokrasi

Aspek ekonomi
pemerintah mengelompokkan keluarga diIndonesia ke dalam dua tipe : keluarga pra-sejahtera Yang kita bayangkan ketika mendengar keluarga tipe ini adalah keluarga yang masih mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya berupa sandang, pangan, danpapan. Keluarga pra-sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya banyak, tidak dapatmenempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki penghasilan tetap, belummemperhatikan masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyaimasalah tempat tinggal dan masih perlu mendapat bantuan sandang dan pangan. tipe keluarga sejahtera Yang terbayang ketika mendengar keluarga tipe ini adalahsebuah keluarga yang sudah tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Keluarga sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya dua atau tiga,mampu menempuh pendidikan secara layak, memiliki penghasilan tetap, sudah menaruhperhatian terhadap masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyaitempat tinggal dan tidak perlu mendapat bantuan sandang dan pangan.Selama ini konsentrasi pembinaan terhadap keluarga yang dilakukan oleh pemerintahadalah menangani keluarga pra-sejahtera. Hal itu terlihat dari program-program dasar pembinaan keluarga seperti perencanaan kelahiran (KB), Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU), pelayanan kesehatan gratis, pembinaan lansia, pengadaan rumah khususkeluarga pra-sejahtera dan sejenisnya

Aspek sosial budaya
Perkembangan anak pada usia antara tiga-enam tahun adalah perkembangan sikapsosialnya. Konsep perkembangan sosial mengacu pada perilaku anak dalam hubungannyadengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi atau untuk menjadimanusia sosial. Interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan yangmenimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan sesama manusia,perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong menolong, saling memberi dan menerima,simpati dan empati, rasa setia kawan dan sebagainya.

Tiga Elemen Utama dalam Keluarga

Ada tiga elemen utama pada struktur internal keluarga yaitu:

1. Status Sosial
dimana dalam keluarga distrukturkan oleh adanya tiga struktur utama yakni bapak atau suami, ibu atau istri dan anak-anak. Sehingga keberadaan status sosial menjadi sangat penting karena bisa memberikan identitas kepada individu serta memberikan rasa memiliki karena dia termasuk bagian dari sistem tersebut.

2. Peran sosial.

Menggambarkan peran dari setiap individu atau kelompok berdasarkan status sosialnya.

3. Norma Sosial

Yakni standar tingkah laku seperti sebuah peraturan yang menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial.

Ciri-ciri Keluarga Sejahtera

Ciri-ciri keluarga sejahtera adalah sebagai berikut :

saling terbuka antar anggota keluarga
terciptanya rasa saling percaya
terpenuhinya segala kebutuhan
adanya saling kerja sama antar keluarga
adanya keseimbangan dalam memberikan pendidikan untuk bekal didunia dan akhirat
terciptanya keharmonisan dalam keluarga
terjalinnya komunikasi yang baik antar keluarga.s
Faktor Yang perlu diberikan orang tua kepada anak agar anak mencapai dewasa yang bertanggung jawab moral :

Aktif melakukan komunikasi dengan anak
Memberikan teladan
Melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri
Mengejar prestasi
Mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain
Mampu berpikir
Kreatif dan penuh inisiatif
Mampu mengatasi masalah yang dihadapi
Mampu mengendalikan tindakan-tindakan
Mampu mempengaruhi lingkungan
Percaya kepada diri sendiri
Menghargai keadaan dirinya
Memperoleh kepuasan dari usahanya
Selain itu agar anak dapat bertanggung jawab moral, maka orang tua dapat melakukan :

Biarkan anak-anak membuat pilihan-pilihan masukan sendiri
Tunjukkan rasa hormat terhadap upaya anak
Jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan
Jangan langsung menjawab pertanyaan anak
Dorong anak-anak menggunakan sesuatu/bahan dari luar rumah
Jangan menyirnakan harapan anak.

Referensi[sunting | sunting sumber]
^ Sugeng Iwan, “Pengasuhan Anak dalam Keluarga”
^ Baron, R. A dan Donn Byrne. 2003. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga
^ a b c d e f g h i j Richard R Clayton. 2003. The Family, Mariage and Social Change. hal. 58
^ Anita L. Vangelis.2004.Handbook of Family Comunication.USA:Lawrence Elbraum Press. hal 349.
^ a b c d e Jhonson, C.L. 1988. Ex Familia. New Brunswick: Rutger University Press.
^ Paul B. Horton. 1987.Sosiologi. Jakarta:Erlangga. Hal 266
^ Fr Tderique Holdert dan Gerrit Antonides, “Family Type Effects on Household Members Decision Making”, Advances in Consumer Research Volume 24 (1997), eds. Merrie Brucks and Deborah J. MacInnis, Provo, UT: Association for Consumer Research, Pages: 48-54
^ a b c d Minuchin, S (1974). Families and Family Therapy. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang pengertian keluarga, jenis, fungsi dan tugas keluarga. Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat kepada anda yang sedang membutuhkan informasi tentang pengertian keluarga. Sekian dan terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.