by

Pengertian Kata

“Kata” dalam bahasa Indonesia dan Melayu Ngapak diambil dari Katha. Dalam bahasa Sansekerta, Katha sebenarnya berarti “pembicaraan”, “bahasa“, “cerita” atau “dongeng”. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia penyempitan menjadi makna semantik “kata”.

Contoh-Kata

Pengertian Kata

Kata atau ayat adalah unit bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya terdiri dari akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Kata dikombinasikan untuk membentuk frase, klausa, atau kalimat.

1. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi dari kata:

Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau tertulis dan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam bahasaPercakapan, bahasaMorfem atau kombinasi morfem yang dapat diucapkan sebagai bentuk bebasUnit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari morfem tunggal (misalnya kata) atau beberapa morfem gabungan (misalnya kata)

KBBI definisi pertama bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi isi kamus atau entri. Kemudian definisi kedua mirip dengan katha satu pengertian yang sebenarnya dalam bahasa Sansekerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat dapat diartikan sebagai kombinasi morfem atau morfem.

Baca Juga : Pengertian Kata Serapan

2. Menurut Crystal (1980:383-385)

Kata adalah satuan ujaran yang mempunyai pengenalan intuitif universal oleh penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.

3. Menurut Muib Ba’dulu dan Herman, 2010:4

Definisi kata yang umum sebagai satuan makna atau gagasan tidak membantu karena kesamaran konsep.

4. Menurut Chaer, 2008: 63

Kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas dalam kalimat.

Jenis-Jenis Kata

Berdasarkan bentuk, dapat diklasifikasikan ke dalam empat kata: kata dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar bagi pembentukan sebuah kata turunan atau kata-kata berimbuhan. Mengubah derivatif kata karena membubuhkan atau imbuhan baik di awal (prefix atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), atau akhir (akhiran atau sufiks) kata-kata.

Baca Juga : Pengertian Katalis (Katalisator)

Kata adalah dasar dari kata atau atas dasar pengalaman perulangan bentuk semua atau bagian dari senyawa sementara adalah kombinasi dari beberapa kata-kata dasar yang berbeda untuk membentuk makna baru.

Dalam tata bahasa Indonesia standar, kelas kata dibagi menjadi tujuh kategori, yaitu:

Kata Benda (Nomina)

Kata benda (nomina) adalah kata-kata yang merujuk pada pada bentuk suatu benda, bentuk benda itu sendiri dapat bersifat abstrak ataupun konkret.dalam bahasa Indonesia kata benda (nomina) terdiri dari beberapa jenis, sedangkan dari proses pembentukannya kata benda terdiri dari 2 jenis, yaitu :

Kata Benda (Nomina) Dasar: Kata benda dasar atau nomina dasar ialah kata-kata yang yang secara konkret menunjukkan identitas suatu benda, sehingga kata ini sudah tidak bisa lagi diuraikan ke bentuk lainnya.

Contoh :

Buku yang tertinggal di kelas itu milik Slamet.Para pengerajin itu sedang mengukir meja.
Kursi yang rusak itu merupakan barang inventaris kampus.Pria tua itu seorang teknisi radio yang handal.Menggambar bayangan gedung itu sebaiknya menggunakan pensil 2B.Kata Benda (Nomina) Turunan: Nomina turunan atau kata benda turunan ialah jenis kata benda yang terbentuk karena proses afiksasi sebuah kata dengan kata atau afiks. Proses pembentukan ini terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :Verba + (-an).
contoh: Makanan yang dimasak itu untuk korban badai.(Pe-) + Verba.
contoh: Kakek itu seorang pelukis terkenal hingga saat ini.(Pe-) + Adjektiva.
contoh: Sebaiknya kita jauhkan diri dari sifat pemarah.(Per-) + Nomina + (-an).
contoh: Di jaman yang maju ini masih saja ada perbudakan di Tangerang.Kata Kerja (Verba)

Kata kerja atau verba adalah jenis kata yang menyatakan suatu perbuatan. Kata kerja dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

Kata Kerja Transitif: Kata kerja transitif merupakan kata kerja yang selalu diikuti oleh unsur subjek.

contoh : – Orang itu membeli makan di warteg seberang jalan.
– Supri membunuh nyamuk itu dengan sadis.
– Juru masak memotong bawang dengan sangat cepat.

Kata Kerja Intransitif: Kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap. Seperti kata tidur untuk contoh kalimat berikut: saya tidur, pada kalimat tersebut kata tidur yang berposisi sebagai predikat (P) tidak lagi diminta menerangkan untuk memperjelas kalimatnya, karena kalimat itu sudah jelas.

Di dalam Bahasa Indonesia ada 2 dasar dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena telah memiliki makna, dan bentuk dasar yang berafiks atau turunan. dari bentuk verba ini dapat dibedakan menjadi :

Verba Dasar Bebas: ialah verba yang berupa morfem dasar bebas, misalnya: duduk, makan, mandi, minum, dll.

Contoh kalimat: – Andi duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.
– Saya makan siang di warteg depan gang itu.
– Sebaiknya kita mandi minimal 2 kali sehari.
– Sebaiknya kita tidak minum sambil berdiri.

Verba Turunan: ialah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem.

Beberapa bentuk verba turunan :

Verba berafiks : berbuat, terpikirkan, dll.

Contoh kalimat: – Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena posisinya yang
terjepit.
– Ayah saya selalu memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan
oleh orang lain.

Verba bereduplikasi : makan-makan, ingat-ingat, dll.

Contoh kalimat: – Kemarin saya dan teman sekelas makan-makan di restoran
yang terkenal di kota kami.
– Untuk melupakan masa lalu dengan orang itu jangan ingat-
ingat kembali kenangan bersamanya.

Verba berproses gabungan : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, dll.

Contoh kalimat: – Malam itu kami bernyanyi-nyanyi dengan riang di depan
sebuah vila.
– Kami tersenyum-senyum setelah saling bertatap muka.

Verba majemuk : cuci mata, cuci tangan, dll.

Contoh kalimat: – Kemarin sore kami berdua jalan-jalan ke desa untuk cuci
mata.
– Orang itu cuci tangan setelah melakukan kejahatan.

Baca Juga : Kata Baku Dan Tidak Baku – Pengertian, Ciri, Contoh, Kalimatnya, Artinya

Kata Sifat (Adjektifa)

Kata sifat ialah kelompok kata yang mampu menjelaskan atau mengubah kata benda atau kata ganti menjadi lebih spesifik. Karena kata sifat mampu menerangkan kuantitas dan kualitas dari kelompok kelas kata benda atau kata ganti.

D.1. Ciri-ciri Kata Sifat

Kata sifat terbentuk karena adanya penambahan imbuhan ter- yang mengandung makna paling.

Contoh: – Andi merupakan orang terpandai di kelas.
– Bang Pudin orang terkuat yang ada di kampung ini.
– Bunga itu adalah bunga terindah yang pernah saya lihat.

Kata sifat dapat diterangkan atau didahului dengan kata lebih, agak, paling, sangat & cukup.

Contoh: – Anak yang tinggi itu lebih sopan dibandingkan anak yang disebelahnya.
– Orang yang jarang olah raga agak lemah dibandingkan yang sering berolah
raga.
– Rani adalah gadis paling ramah di kampung ini.
– Juned salah satu orang yang sangat menyenangkan yang pernah saya kenal.
– Pak Andi merupakan pribadi yang cukup baik.

Kata sifat juga dapat diperluas dengan proses pembentukan seperti ini : se- + redupliasi (pengulangan kata) + -nya, contoh : sehebat-hebatnya, setinggi-tingginya, dll.

Contoh: – Sehebat-hebatnya petinju, pasti akan kalah juga.
– Setinggi-tingginya ilmu yang didapat jika tidak diamalkan maka akan sia-
sia.

D.2. Beberapa Proses Pembentukan Kata Sifat

Kata sifat yang terbentuk dari kata dasar, misalnya: kuat, lemah, rajin, malas, dll.Kata sifat yang terbentuk dari kata jadian, misalnya: terjelek, terindah, terbodoh, dll.Kata sifat yang terbentuk dari kata ulang, misalnya: gelap-gulita, pontang-panting, dll:Kata sifat yang terbentuk dari kata serapan, misalnya: legal, kreatif, dll.Kata sifat yang terbentuk dari kata atau kelompok kata, misalnya: lapang dada, keras kepala,baik hati, dll.Kata Ganti (Pronomina)

Kelompok kata ini dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan. Kelompok kata ini dapat dibedakan menjadi 6 bentuk, yaitu:

Kata Ganti Orang: ialah jenis kata yang menggantikan nomina. Kata ganti orang dapat dibedakan lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:Kata ganti orang pertama tunggal, misal: aku, saya.Kata ganti orang pertama jamak, misal: kami, kita.Kata ganti orang kedua tunggal, misal: kamu.Kata ganti orang kedua jamak, misal: kamu, kalian, Anda, kau/engkau.Kata ganti orang ketiga tunggal, misal: dia, ia.Kata ganti orang ketiga jamak, misal: mereka, beliau.

Contoh kalimat: – Aku seorang pelaut.
– Kami semua bersaudara.
– Kamu sangat cantik sekali.
– Kalian sangat luar biasa sekali.
– Dia salah satu mahluk cantik di dunia ini.
– Mereka semua bersahabat dari kanak-kanak.

Kata Ganti Kepemilikan: ialah kata ganti yang dipakai untuk menyatakan kepemilikan, misal: “buku kamu/bukumu”, “buku aku/bukuku”, “buku dia/bukunya”,dsb.

Contoh: Buku yang tertinggal di kelas kemarin adalah bukunya.

Kata Ganti Penunjuk: ialah kata ganti yang dipakai untuk menunjuk suatu tempat atau benda yang letaknya dekat ataupun jauh, misal: “di sini”, “di sana”, “ini”, “itu”, dsb.

Contoh: Letakkan meja itu di sana.

Kata Ganti Penghubung: ialah kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat kata yang dipakai yaitu: “yang”, “tempat”,”waktu”.

Contoh: Kami sedang menyaksikan pertandingan sepak bola yang disiarkan langsung
dari Myanmar.

Kata Ganti Tanya: ialah kata ganti yang dipakai untuk meminta informasi mengenai sesuatu hal, kata Tanya yang dimaksud ialah “apa”, “siapa”, “mana”.

Contoh: Siapa yang menjadi pemain terbaik di Liga Indonesia tahun lalu?

Kata Ganti Tak Tentu: ialah kata ganti yang digunakan untuk menunjukkan atau menggantikan suatu benda atau orang yang jumlahnya tak menentu (banyak), misal: masing-masing, sesuatu, para, dsb.

Contoh: Para siswa diminta untuk membawa buku catatan saat seminar nanti.

Baca Juga : Bentuk Kata – Pengertian, Kelas, Makna, Relasi, Contohnya

Kata Keterangan (Adverbia)

Kata keterangan adalah jenis kata yang memberikan keterangan pada kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan bahkan mampu memberikan keterangan pada seluruh kalimat. Kata keterangan dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Kata Keterangan Tempat: ialah jenis kata yang memberikan informasi mengenai suatu lokasi, misal: di sini, di situ, dll.

Contoh: Silakan letakkan payungnya di sana.

Kata Keterangan Waktu: ialah jenis keterangan yng menginformasikan berlangsungnya sesuatu dalam waktu tertentu, misal: sekarang, nanti, lusa, dll

Contoh: Saya masih sangat mencintaimu sampai sekarang.

Kata Keterangan Alat: ialah jenis kata yang menjelaskan dengan cara apa sesuatu itu dilakukan ataupun berlangsung, misal: “dengan tongkat”, “dengan motor”, dll.

Contoh: Ayah mengambil mangga itu dengan bambu.

Kata Keterangan Syarat: ialah kata keterangan yang dapat menerangkan terjadinya suatu proses dengan adanya syarat-syarat tertentu, misal: jikalau, seandainya, dll.

Contoh: Kamu sekarang pasti masih mencintaiku seandainya orang itu tidak hadir ke
kehidupan kita.

Kata Keterangan Sebab: ialah jenis kata yang memberikan keterangan mengapa sesuatu itu dapat terjadi, misal; sebab, karena, dsb.

Contoh: Kecelakaan itu terjadi karena tidak tertibnya para pengguna jalan.

Kata Bilangan (Numeralia)

Kata bilangan ialah jenis kelompok kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, urutan sesuatu yang dibendakan. Kata bilangan juga dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

Kata bilangan tentu, contoh: satu, dua, tiga, dst.

Contoh: Empat kilometer adalah jarak antara rumahku dengan rumahnya.

Kata bilangan tak tentu, contoh: semua, beberapa, seluruh, dll.

Contoh: Semua kontestan wajib datang 30 menit sebelum acara dimulai.

Kata bilangan pisahan, contoh: setiap, masing-masing, tiap-tiap.

Contoh: Setiap regu diharuskan menyiapkan satu yel untuk penyemangat.

Kata bilangan himpunan, contoh: berpuluh-puluh, berjuta-juta.

Contoh: Berpuluh-puluh kilometer jarak yang aku tempuh hanya untuk menemuimu.

Kata bilangan pecahan, contoh: separuh, setengah, sebagian, dll.

Contoh: Separuh dari pendapatan hari ini akan kita sumbangkan.

Kata bilangan ordinal/giliran, contoh: pertama, kedua, ketiga, dst.

Contoh: Anisa menjadi orang yang pertama merasakan wahana di tempat wisata itu.

Kata Tugas

Kata tugas ialah kata yang memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas juga memiliki fungsi sebagai perubah kalimat yang minim hingga menjadi kalimat transformasi. Dari segi bentuk umumnya, kata-kata tugas sukar mengalami perubahan bentuk. Kata-kata seperti : dengan, telah, dan, tetapi dan sebagainya tidak bisa mengalami perubahan. Tapi, ada sebagian yang bisa mengalami perubahan golongan kata ini jumlahnya sangat terbatas, misalnya: tidak, sudah kedua kata itu dapat mengalami perubahan menjadi menidakkan & menyudahkan.

H.1. Ciri-ciri Kata Tugas

Ciri dari kata tugas ialah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang dapat diturunkan menjadi mendatangi, mendatangkan & kedatangan. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab & sampai tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang membentuknya sama tapi kategorinya berbeda.

H.2. Jenis-jenis Kata Tugas

H.2.1. Preposisi

Preposisi (kata depan): ialah jenis kata yang terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya : dari, ke & di. Ketiga kata depan ini dipakai untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat. Contoh : Di Jakarta, di rumah, ke pasar, dari kantor.

Contoh lain: – Sudah 4 hari Anto pergi ke hutan untuk berburu.
– Di Surabaya kami menghabiskan waktu selama 2 hari untuk berlibur.
– Stadion Benteng Tangerang berjarak 20 km dari rumah.
– Saya mengantar Jono ke stasiun untuk membeli tiket kereta api.
– Intan menemani Indah untuk pergi ke salon.

H.2.2. Konjungsi

Konjungsi (kata sambung): ialah jenis kata yang dapat menggabungkan 2 satuan bahasa yang sederajat, misalnya : dan, atau & serta. Jenis kata tugas yang mampu menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi (kata sambung) dapat dibagi menjadi 4, yaitu:

Konjungsi Koordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama contoh: dan, atau & serta.

Contoh: – Saya mendapat juara pertama dan ibu sangat bahagia.
– Dilarang membawa petasan atau senjata tajam untuk masuk ke stadion.
– Rahmah suka menanam bunga serta merawatnya dengan baik.

Konjungsi korelatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 kata, frasa atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan oleh : baik …. maupun, tidak …. tetapi.

Contoh kalimat: – Baik saya maupun dia sama-sama suka padamu.
– Anak-anak itu tidak merepotkan tetapi rajin membantu tetangga.

Konjungsi Antarkalimat: yaitu konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi jenis ini selalu membuat kalimat baru, tentu saja dengan huruf kapital di awal kalimat. Contoh : Biarpun begitu, akan tetapi ….

Contoh kalimat: – Saya tidak suka ucapannya. Biarpun begitu, saya harus tetap santun
kepadanya.
– Sosial media salah satu wadah kita berhubungan dengan teman
lama. Akan tetapi, banyak dari kita yang menyalahgunakannya.

Konjungsi Subordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 klausa atau lebih dan klausa itu merupakan anak kalimat. Konjungsi ini terbagi lagi menjadi 12 kelompok, yaitu:Konjungsi subordinatif waktu : sejak, semenjak, sedari, sewaktu.

Contoh kalimat: Ayahku seorang petinju, sejak diriku masih kecil.

Konjungsi subordinatif syarat : jika, jikalau, bila, kalau.

Contoh kalimat: Kita akan mendapat pahala, jika kita berbuat kebaikan.

Konjungsi subordinatif pengandaian : seandainya, seumpama.

Contoh kalimat: Aku akan sangat bahagia, seandainya dirimu menjadi
milikku.

Konjungsi subordinatif konsesif : biarpun, sekalipun.

Contoh kalimat: Saya akan terus menyayangimu, sekalipun jarak memisahkan
kita.

Konjungsi subordinatif pembandingan : seakan-akan, seperti.

Contoh kalimat: Iwan sangat gelisah semenjak kehilangan tas, seperti orang
kebakaran jenggot.

Konjungsi subordinatif sebab : sebab, karena, oleh sebab.

Contoh kalimat: Hubungan Iwan dan Indah harus berpisah sebab tidak
diijinkan oleh orang tuanya.

Konjungsi subordinatif hasil : sehingga, sampai.

Contoh kalimat: Adik saya sangat rajin belajar sehingga mendapatkan hasil
yang memuaskan.

Konjungsi subordinatif alat : dengan, tanpa.

Contoh kalimat: Bapak itu memukul anaknya dengan tangannya sendiri.

Konjungsi subordinatif cara : dengan, tanpa.

Contoh kalimat: Sebelum menikmati makanan itu kita harus memasaknya
terlebih dahulu dengan direbus  hingga matang.

Konjungsi subordinatif komplementasi : bahwa.

Contoh kalimat: Aku harus jujur bahwa sesungguhnya aku sangat
mencintaimu.

Konjungsi subordinatif atribut : yang

Contoh kalimat: Siapa yang bersalah maka dia yang akan dihukum.

Konjungsi subordinatif perbandingan : sama … dengan, lebih … dari.

Contoh kalimat: Lebih baik yang merah dari pada yang hitam.

H.2.3. Artikula

Artikula (kata sandang): ialah jenis kata yang mendampingi kata benda atau yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang tidak mengandung suatu arti tapi memiliki fungsi. Fungsi kata sandang sendiri ialah untuk menentukan kata benda, mensubstansikan suatu kata yang besar, yang jangkung, dan lain-lain. Kata-kata sandang umum yang terdapat dalam Bahasa Indonesia ialah yang, itu, -nya, si, sang, hang, dang. Kata-kata sandang seperti sang, hang, dang banyak ditemui dalam kesusastraan lama, sekarang sudah tidak terpakai lagi terkecuali kata sandang sang. Kata sandang sang terkadang masih dipergunakan untuk mengagungkan atau untuk menyatakan ejekan maupun ironi. Dalam Bahasa Indonesia terdapat beberapa kelompok artikula, yaitu:

Artikula yang bersifat gelar ialah artikula yang bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis artikula yang bersifat gelar : sang, hang, dang, sri.

Contoh: – Sang sultan sangat marah mendengar berita itu.
– Hang Tuah adalah seorang laksamana yang sangat pemberani.
– Dang Karayan Partapan adalah seorang raja yang bergelar haji.
– Sekarang rakyat Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono X

Artikula yang mengacu ke makna kelompok / makna korelatif ialah kata para. Karena artikula ini bermakna ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai ialah para guru bukan para guru-guru.

Contoh kalimat: Setelah pelaksanaan ujian, para guru sibuk mengoreksi
jawaban siswa.

Artikula yang menominalkan. Artikula si yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, tergantung pada konteks kalimat.

Contoh: Si Kabayan merupakan salah satu judul cerita rakyat Jawa Barat.

H.2.4. Interjeksi

Interjeksi (kata seru): ialah kata yang mengungungkapkan perasaan. Macam-macam kata seru yang masih dipakai hingga sekarang ialah :

Kata seru asli, yaitu : ah, wah, yah, hai, o, oh, nah, dll.

Contoh: – Wah, indah sekali pemandangannya!
– O, seperti itu?
– Hai, boleh kita berkenalan?

Kata seru yang berasal dari kata-kata biasa, artinya kata seru yang berasal dari kata-kata benda atau kata-kata lain yang digunakan, contoh : celaka, masa’, kasihan, dll.

Contoh: – Celaka, aku lupa mengunci pintu.
– Kasihan, dia tidak tau hal itu.

kata seru yang berasal dari beberapa ungkapan, baik yang berasal dari ungkapan Indonesia maupun yang berasal dari ungkapan asing, yaitu : ya ampun, demi Allah, Insya Allah, dll.

Contoh: – Insya Allah, jika tidak ada halangan saya akan hadir.
– Demi Allah, saya tidak melakukan hal buruk itu.
– Ya ampun, kamu tidak percaya dengan saya?

H.2.5. Partikel Penegas

Partikel Penegas: ialah kategori yang meliputi kata yang tidak tunduk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas, yaitu: -lah, -kah, -tah & pun.

Contoh: – Bacalah dengan baik dan benar!
– Motor atau mobil kah yang dikendarainya?
– Apatah dia orangnya?
– Adikku pun tahu tentang hal itu.

Penentuan Batas Kata

Dalam linguistik setidaknya ada lima cara dalam menentukan batas-batas kata:

Seorang pembicara diminta untuk mengulang kalimat yang diberikan perlahan-lahan, yang memungkinkan untuk beristirahat dan mengambil istirahat. Pembicara akan cenderung memasukkan jeda pada batas kata. Namun, metode ini tidak sempurna: pembicara dapat dengan mudah memilah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.

Seorang pengguna diminta untuk mengucapkan kata-kata kasar dan kemudian diperintahkan untuk mengatakannya lagi dan menambahkan beberapa kata.

Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.

Beberapa bahasa memiliki aturan pelafazan khusus yang membuatnya lebih mudah untuk mempelajari yang membatasi kata yang benar. Misalnya, dalam bahasa teratur menjatuhkan tekanan pada suku kata terakhir, maka batas kata mungkin terjadi setelah setiap menekankan suku kata.

Contoh lain bisa didengar dalam bahasa yang memiliki harmoni vokal (seperti Turki): vokal dalam beberapa kata-kata memiliki “kualitas” yang sama, oleh karena itu batas kata mungkin terjadi setiap kali perubahan kualitas vokal. Namun, tidak semua bahasa memiliki aturan fonetik nyaman seperti, jika ya, dalam bahasa ini ada pengecualian.

Seperti di banyak bentuk bebas minimal yang disebutkan di atas, metode ini memilah kalimat ke dalam unit semantik terkecil. Namun, bahasa sering mengandung kata-kata yang memiliki nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih tata bahasa), atau unit senyawa semantik.

Dalam prakteknya, ahli bahasa menggunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas-batas kata dalam kalimat. Namun, penggunaan metode ini, definisi yang tepat dari kata tersebut sering masih sangat sulit dipahami.

News Feed