Info Terbaru

Kontroversi Terkait Aborsi Aman Bagi Korban Pemerkosaan

Hai bro selamat datang di website informasiana.com. Kali ini kami akan membahas informasi menarik tentang Kontroversi Terkait Aborsi Aman Bagi Korban Pemerkosaan. Kamu jangan lupa yah untuk bagikan artikel di sosial media kalian.

INFORMASIANA – Kasus kriminalisasi yang dialami oleh Flora (bukan nama sebenarnya), seorang remaja berusia 15 tahun dari Jambi pada tahun 2018, telah menjadi catatan penting bagi para korban perkosaan yang masih kesulitan mendapatkan layanan aborsi yang aman.

Flora, yang menyela karena perkosaan berulang-ulang oleh saudara-saudaranya sendiri, dihukum enam bulan penjara oleh hakim pengadilan distrik Muara Bulian. Meskipun Pengadilan Tinggi Jambi akhirnya memutuskan untuk membebaskan Flora, celah dalam kriminalisasi kasus serupa masih dimungkinkan.

Ini karena pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, belum menunjuk fasilitas kesehatan resmi untuk dibatalkan oleh korban perkosaan.

Pemerintah Republik Indonesia melarang siapa pun melakukan aborsi. Namun ada pengecualian terkait indikasi kedaruratan medis, serta kehamilan karena pemerkosaan. Semua ini diatur dalam undang-undang kesehatan n. 36 tahun 2009, pasal 75. Artikel berikutnya juga menyatakan bahwa aborsi hanya dapat dilakukan sebelum usia kehamilan enam minggu dihitung dari hari pertama menstruasi dan menerima bantuan psikologis.

Baca Juga  Tips Makanan Untuk Diet Yang Baik Dan Sehat

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 Pasal 35 juga menetapkan bahwa praktik aborsi yang aman, berkualitas dan bertanggung jawab harus dilakukan oleh dokter sesuai dengan peraturan dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan yang ditetapkan oleh menteri.

Ilustrasi positif kehamilan

Tidak hanya itu, juga manajemen aborsi telah diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan n. 3 tahun 2016 tentang pelatihan dan implementasi aborsi untuk indikasi darurat medis dan kehamilan karena pemerkosaan. Namun, meskipun semua peraturan telah diadopsi, implementasi di lapangan masih berlaku. Hal ini juga diakui oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat di Departemen Kesehatan, ketika dihubungi oleh INFORMASIANA.

"Padahal, untuk implementasinya, kalau dikatakan tidak berfungsi, tidak berfungsi. Karena pada saat kita melakukannya, ada juga banyak pemborosan dan bahkan demonstrasi," katanya. Eni INFORMASIANA.

Eni menjelaskan, di Indonesia, aborsi masih dianggap tabu karena bertentangan dengan norma agama. Kebanyakan orang beragama di Indonesia percaya bahwa melakukan aborsi adalah hal yang berdosa. Sementara itu, Eni melanjutkan, dari sudut pandang medis, ada banyak dokter yang menghargai kehidupan. Karena itu, implementasi undang-undang aborsi masih berlaku.

Baca Juga  Jika Saat Ini Kamu Masih Sendiri, Itu Bukan Soal Kamu Tak Laku, Tapi Allah Tahu Kamu Memang Belum Siap

"Kadang-kadang bahkan oleh dokter adalah seseorang yang tidak ingin melakukannya. Bahkan jika peringatan sudah ada di sana. Tetapi ketika dokter tidak ingin berada dalam etika medis ketika mereka tidak ingin berada di dasar apa pun, saya harus merujuk ke kolega yang lebih cakap. "Ada aturan etika," kata Eni.

"Dan masih terlalu banyak OBGYN siapa yang tidak mau. Jadi mari kita kembali ke persepsi teknis dan personal. "

Hal ini juga diakui oleh Presiden Manajemen Nasional PKBI Dr. Sarsanto W. Sarwono, SpOG, Asosiasi Keluarga Berencana Indonesia. Meskipun selama bertahun-tahun ia terus mendukung para korban perkosaan untuk mendapatkan aborsi yang memadai, dalam organisasi profesionalnya, menurutnya, memang ada perbedaan pendapat mengenai aborsi. Meskipun dalam undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2019 tentang kesehatan itu sendiri, dikatakan bahwa pelaksanaan pelayanan kesehatan harus dilakukan dengan cara yang aman, bertanggung jawab, adil dan tidak diskriminatif.

Baca Juga  Masih Dipercaya, Mitos Tentang Kanker Ini Ternyata Tidak Benar

"Jadi profesinya masih terbagi, tapi kami punya ngumpulin siapa pun yang kita ingin mendidik jika perlu dan juga dokter umum ingin menyenangkan, tetap di tempatnya Kembali ke Kementerian Kesehatan, jika sulit bagi mereka untuk memberikan tempat, beri kami izin untuk bekerja dengan asosiasi ini, "kata Sarsanto.

Inilah yang menurut presiden Yayasan Kesehatan Wanita, Herna Lestari, membuat banyak korban perkosaan memilih untuk melakukan aborsi yang tidak aman. Ini tentunya akan berkontribusi pada angka kematian ibu yang menurut SUSENAS pada tahun 2015 masih 305 per 100.000 kelahiran. Angka yang jauh dari target 126 untuk setiap 100.000 kelahiran.

Gimana bro? Mudah-mudahan bro bisa terhibur dan pengetahuannya menjadi bertambah. Jangan lupa yah untuk bagikan artikel di sosial media kalian.

Kontroversi Terkait Aborsi Aman Bagi Korban Pemerkosaan | dr. Glenn | 4.5