Info Terbaru

Kisah Perjalanan Hidup Imam Malik


Advertisement

Kisah Perjalanan Hidup Imam Malik | Imam Malik adalah tokoh ulama yang disegani pada zaman khalifah Harun al-Rasyid. Nama lengkapnya, Malik bin Anas bin Abu Amir, lahir di Madinah pada tahun 93 H (712M). Ia mewarisi keshalehan leluhurnya dan kecerdasan ayahnya. Awal mulanya ia berguru kepada ABdurrahman bin Hurmuz, dan tinggal bersamanya dalam waktu cukup lama. Ia berguru kepada Nafi’ maula Ibnu Umar, Imam Jafar Shdiq, Muhammad bin Syihab az-zuhri, Yahya bin Saeeb dan Rabiah. Dalam masa belajarnya ia pernah mengalami kesulitan, untuk melunasi ongkos pendidikannya ia pernah menjual tiang rumahnya. Ia mengatakan bahwa puncak kemenangan intelektual akan dicapai oleh seseorang manakala ia dapat menghadapi kemiskinan, baginya kemiskinan merupakan ujian hakiki manusia. Dengan keyakinan itulah ia berhasil menempatkan dirinya sebgai seorang alim terhomat di antara ulama lainnya.

imam malik

Ketenaran beliau sebagai seorang alim diketahui banyak orang melalui bukunya “Muwattha”. Para ahli hadis menyatakan bahwa kitab ini menjadi buku perpustakaan penting kemudian eliau mentashihnya dan menguranginya menjadi 1.720 hadis. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dengan beragam edisi. Banyak orang berguru kepadanya untuk memperdalam ilmu agama dan menyebarkan madzhabnya. Majlis Imam Mali adalah majlis yang terhormat dan santun, dalam majlisnya tidak ada pura-pura dan kegaduhan. Ia sangat dihormati dan berwibawa. Murid-muridnya tidak hanya rakyat, tetapi juga para bangsawan termasuk anak khalifah, makmun al-Rasyid. Kealimannya telah tersebar sampai keempat penjuru kerajaan islam di masa itu.

Sikapnya tegas, pendiriannya kuat dan tidak terpengaruh oleh jabatan maupun hadiah yang ditawarkan oleh para pejabat maupun raja. Ia mendukung keturunan fatimah dan membelah hak mereka, baiat terhadap al-Mansur dinilainya merupakan paksaan terhadap rakyat karena ketidakberdayaan mereka terhadap ancaman raja. Ia melarang perceraian paksa, sehingga akhirnya ia didera dengan 70 dera oleh gubernur Madinah dengan tuduhan menghina gubernur jafar. Kekerasan itu telah mengakibatkan al-Mansur gusar dan memerintahkan gubernur Madinah meminta maaf kepada Imam Malik. Malik berkata:”Saya tidak berfatwa sampai tujuh puluh orang guru ahli ilmu telah mengakui bahwa saya berhak atas kedudukan itu.

Ia banyak mendapat bantuan materi dari para bangsawan dan kepala negara. Tetapi hadiah-hadiah yang diterimanya tidak pernah digunakan untuk berfoya-foya dan bermewah-mewahan. Seringkali khalifah memberikan hadiah agar ia membangun rumahnya, tetapi uang hadiah itu justru diberikan kepada rakyat miskin dan pelajar-pelajar yang kehabisan bekal.

Pada suatu saat, seorang murid beliau melihat kuda yang bagus milik Imam Malik. Kuda tersebut diletakkan disamping rumahnya. Diantara kuda-kuda itu ada satu kuda yang bagus, baru kali itu sang murid melihat kuda itu. Maka berkatalah sang murid “Bukan main bagusnya kuda ini”. Perkataannya rupanya didengar oleh Imam Malik. Lalu ia berkata:”Inilah yang akan aku berikan kepadamu Abu Abdillah” Abu Abdillah adalah julukan Imam Syafiie, ia pun menjawab: “Ah, tidak usah, guru lebih pantas mengendarainya” Imam Malik kemudian berkata:”Aku malu kepada Allah mengendarai kuda di tanah Rasulullah ini”.

Ia wafat dalam usia 86 tahun pada tanggal 11 Rabiul Awal 179 H. Jasa besarnya terhadap ilmu pengetahuan memberikan inspirasi luas kepada penerus-penerusnya; Ghazali dan Ibnu Khaldun untuk berkiprah sebanyak-banyak seperti dirinya.

Loading...
Kisah Perjalanan Hidup Imam Malik | fajeros | 4.5