Info Terbaru

Kisah nabi nuh as yang diabadikan dalam al-Quran


Advertisement

Kisah nabi nuh as | Dahulu kala di sebuah negeri Armenia, terdapatlah masyarakat kuno yang menyembah berhala. Penyembahan berhala itu berawal dari patung-patung yang dibuat oleh para leluhur bangsa itu untuk mengenang orang tua mereka; nama-nama mereka adalah Wadd, Sugwa, Yaghuts, Yauq dan Nashr. Setelah lama kematian mereka, syetan kemudian menggoda manusia dengan keyakinan bahwa patung-patung itu memberikan berkah pada mereka. Kemudian Allah menurunkan kepada mereka nabi Nuh as keturunan nabi Idris untuk memberikan petunjuk dan menyadarkan mereka atas kekeliruan mereka. Disebutkan bahwa kaum itu adalah kaum Biywarasib.

Namun sayangnya, ucapan Nabi Nuh selalu ditanggapi dingin dan mendapat cacian dari mereka. Nabi Nuh as dan kaumnya ditakdirkan Allah mempunyai umur yang panjang, sebagaimana manusia-manusia purba dahulu. Umur beliau Sembilan ratus lima puluh tahun. Selama itu beliau berdakwah mengajak manusia ke jalan yang benar.

” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dia berkata) : “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan” (QS. Hud 11:25-26)

Allah memerintahkan kepadanya untuk mengajak manusia mengabdi hanya kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun juga. Apabila mereka ingkar maka sesungguhnya adzab Allah amatlah pedih.

Karena ajakan-ajakannya itu, banyak di antara kaumnya yang memusuhinya. Bertahun-tahun beliau menyeru manusia, tiada lelah, tiada pernah mengeluh, siang dan malam ia menyeru mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Maka yang didapatinya hanya caci-maki, dan mereka menutup telinga mereka dengan baju apabila nabi menyeru pada mereka.

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir dari kaumnya: “Kami tidak pandang dirimu, melainkan (hanya sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, malah kami menganggap kamu adalah orang-orang yang berdusta “(QS. Hud 11:27)

Kisah nabi nuh as yang diabadikan dalam al-Quran

kisah nabi nuh

Sungguh keterlaluan mereka menganggap Nabi Allah Nuh as sebagai pendusta. Bukannya sadar akan kesalahan dan kesesatan yang mereka perbuat tetapi justru memperolok-olok nabi dengan kata-kata yang tidak senonoh.

Nabi Nuh menjawab: ” Ia berkata: Hai kaumku! Bagaimana fikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan Dia memberi rahmat kepadaku dari sisiNya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu, apakah bisa kami paksa kamu menerimanya padahal kamu tidak suka padanya?. Dan (dia berkata): “Hai kaumku! Aku tidak minta harta-benda kepada kamu (sebagai upah) dari seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali bukan pengusir orang-orang yang beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu Tuhan mereka, tetapi aku melihat kamu sebagai kaum yang bodoh”. Dan (ia berkata); “Wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (adzab) Allah, jika aku usir mereka? Maka tidaklah kamu mengambil pelajaran?” “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak mengetahui barang yang ghaib” dan aku tidak (pula) mengatakan (bahwa): “Sesungguhnya aku ini Malaikat”, dan tidak (juga) aku mengatakan kepada orang-orang yang dihinakan oelh pandangan-pandangan kamu (bahwa) :” Allah sekali-kali tidak akan memberi kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka, sesungguhnya bila demikian aku benar-benar termasuk orang-orang yang dzalim

Mendengar ucapan-ucapan itu, kaum Nabi Nuh tidak kurang akal untuk mematikan dalil-dalil kebenaran yang diajukannya. Mereka berkata: “Hai Nuh! Sesungguhnya engkau telah mengajak berdebat dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka datngkanlah apa yang telah engkau janjikan (adzab) kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang benar.

Akhirnya, Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh as untuk membuat sebuah perahu di atas bukit. Ketika Nabi Nuh membuat kapal itu, banyaklah cemoohan orang-orang kafir terhadap Nabi Nuh dan pengikut-pengikutnya. Selama ratusan tahun beliau berdakwah hanya 80 orang yang mau mengikuti nasehat-nasehat beliau. Mereka yang beriman ialah anak-anak Nuh : Sam, Ham, Yafits dan istri-istrinya, dan 73 dari keturunan Syits.

Segala ejekan dan hinaan itu diterimanya dengan hati yang pasrah, sabar atas ujian yang mereka hadapi. Tidaklah mereka berhenti membuat perahu itu, meskipun begitu gencarnya orang-orang memusuhi Nabi. “Sesungguhnya kamu ini mengejek aku dan menghina aku, tetapi sebentar lagi kamu akan dapat mereasakan akibat kekufuranmu”. Nabi Nuh pun berdoa pada Allah: “Ya Allah aku menyeru kepada kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya tiap kali aku menyeru kepada mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingangkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, Janganlah Engkau biarkan seseorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kebinasaan.

Air bah menutup Dunia.

Setelah kapal itu jadi, janji ALlah pun segera tipa. hujan dan angin topan yang tidak ada henti-hentinya berhari-hari lamanya, dan mata air bersemburan pula dari dalam bumi, sehingga semakin besarlah air mengalir, banjirpun terjadilah. Semakin hari, air bah semakin besar dan pasang. Nabi Nuh tidak lupa untuk mengajak mereka bertaubat pada Allah. Tetapi mereka tidak mau mendengarnya.

Nabi Nuh kemudian membawa binatang-binatang yang sejenis, sepasang-sepasang, tumbuh-tumbuhan dan bekal mereka selama air belum surut sampai permukaan.

“Hingga ketika datang perintah Kami dan permukaan bumi telah memancarkan air (bumi mendidih dan mengakibatkan taufan), Kami berfirman: “Bawalah padanya sepasang-sepasang dari tiap jenis, dan keluargamu, kecuali orang yang telah ditentukan lebih dahulu atasnya siksaan dan (bawa pula) orang yang beriman”. Dan tidak ada yang beriman kepadanya kcuali sedikit” Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (QS. Hud 11: 40-41)

Air mengombang-ambingkan perahu itu, dan gelombang laksana gunung mengiringi perjalanan mereka. Ketika air bah itu melanda, dilihatnya anaknya yang dicintainya tidak ikut bersamanya. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada ditempat yang jauh terpencil: “Hai anakku! Naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memelihara aku dari air bah ini.

Nabi Nuh memberitahukan padanya: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyanyang, hingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ditenggelamkan”

Menangislah ayah yang duka itu melihat anaknya tidak mematuhi petunjuknya. Dan ia pun tenggelam terbawa banjir, hanyut bersama keingkarannya. Lamat-lamat ia berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Maka Allah berfirman kepadanya:

“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah keluargamu (Yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah engkau meminta kepadaku sesuatu yang engkau tidak tahu. Sesungguhnya aku memperingatkanmu agar jangan sampai termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak berpengetahuan ” (QS. Hud 11:46)

Demi mendengar wahyu itu, maka berkatalah Nabi Nuh: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada meminta apa yang tidak ada padaku pengetahuan padanya, dan jika Engkau tidak mengampuni aku dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya jadilah aku termasuk orang-orang yang merugi.

Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman selamat, naik perahu itu, sedang orang-orang yang menentangnya tenggelam bersama kekufuran mereka dalam banjir bandang yang melumat seluruh is alam raya. Selama berada di kapal itu orang-orang beriman melakukan puasa sebagai rasa syukur mereka kepada Allah

“Dan difirmankan: “Hai bumi! Telanlah airmu, dan hai langit (hujan )berhentilah!” dan air pun disurutkan dan perintahpun diselesaikan serta berlabuhlah (Kapal Nuh) diatas gunung Judy, dan dikatakan (pula): “binasalah kaum yang dzalim” (QS. Hud 11:44)

Merekapun turun dari gunung itu dengan selamat dan sukacita. Mereka telah selamat dari malapetaka yang telah menimpa orang-orang yang kafir. Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi Nuh.

“Difirmankan: Hai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat yang bersamamu. Dan ada (pula) beberapa umat yang kami beri mereka kenikmatan kemudian mereka akan menerima adzab yang pedih dari Kami (karena dosa mereka) “(QS. Hud 11:48)

Orang-orang yang selamat dari malapetaka itu menjadi kakek moyang manusia. Dari merekalah keturunan Bani Adam dilanjutkan. Demikianlah, akhirnya orang-orang yang tinggal sedikit itu melanjutkan kehidupan manusia. Hikmah yang harus kita ambil dari sejarah ini ialah bahwa bagi orang-orang yang kafir akan mendapat siksa yang amat pedih di sisi Allah. Dan bagi mereka yang beriman akan selamatlah mereka. Dan selamanya, manusia harus waspada kepada dirinya, Manusia selalu lupa pada nikmat Allah kemudian mengingkari nikmatNya.

Hanya sedikit hamba-hamba Allah yang mensyukuri nikmat Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Demikianlah informasi kisah nabi nuh as. Semoga informasi kisah nabi nuh as ini dapat memberikan manfaat dalam menambah wawasan mengenai kisah nabi nuh as. Baca juga kisah nabi idris dan kisah nabi adam

Loading...
FAJAR ASHAR (486 Posts)

Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.


Kisah nabi nuh as yang diabadikan dalam al-Quran | FAJAR ASHAR | 4.5