Info Terbaru

Kisah Nabi Muhammad Saw: Toleransi Perjanjian Hudaibiyah


Advertisement

Kisah Nabi Muhammad Saw: Toleransi Perjanjian Hudaibiyah | Inilah kisah nabi muhammad saw pada saat telah menetapkan dasar toleransi dalam hubungan-hubungan beliau dengan kaum musyrikin, baik dalam naskah-naskah perjanjian, atau di medan peperangan. Toleransinya dapat kita lihat misalnya pada perjanjian Hudaibiyah tahun ke-6 H, antara nabi dan kaum musyrikin, ketika beliau bermaksud umrah di bulan Ramadhan bersama sekitar seribu empat ratus pengikutnya, mereka dihalangi oleh kaum musyrikin. Nabi menyampaikan kepada mereka bahwa mereka datang bukan untuk berperang namun untuk melaksanakan umrah dan tawaf di Kabah.

Nabi kemudian mengutus Usman untuk mengadakan pendekatan dengan suku Quraisy. Dan Usman dianggap orang yang paling tepat untuk berbicara dengan mereka. Ketika Usman telah kembali dalam waktu yang lama, di saat-saat kaum muslimin menunggu kedatangannya dengan berbagai tanda tanya, dengan tangan hampa Usman datang kepada Rasulullah dan menyatakan bahwa Quraisy tetap berkeras hati menolak mereka. Disinilah kemudian, toleransi yang sangat mengesankan dari pihak Nabi terlihat. Mereka mengutus beberap orang untuk mengadakan perjanjian di tempat itu untuk melarang Nabi bersama kaum muslimin umrah tahun itu juga. Meskipun nabi waktu mempunyai kekuatan pasukan yang dapat menghancurkan negeri mereka namun beliau menerima syarat tersebut.

Kisah Nabi Muhammad Saw: Toleransi Perjanjian Hudaibiyah

perjanjian hudaibiyah

Sewaktu merumuskan naskah perjanjian itu Nabi menerima baik keberatan-keberatan yang diajukan oleh utusan orang-orang Quraisy, Suhail bin Amr. Sebaliknya Suhail tetap tidak pernah mau bergeser dari posisinya, sehingga membuat banyak sahabat Nabi jengkel dan menahan marah, termasuk Umar bin Khattab. Sebagai awal perjanjian Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menuliskan “Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Suhail memotongnya dnegan mengatakan bahwa ia tidak mengenal sifat-sifat “Maha Pengasih dan Maha Penyayang”, Suhail memotongnya dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal sifat-sifat “Maha Pengasih dan Maha Penyayang” itu, dan dia minta supaya diganti menjadi “Dengan namaMu ya Tuhan”, dan Nabi perintahkan kepada Ali untuk mengikuti keinginan Suhail. Ketika Nabi meminta Ali untuk menulis:”Berikut ini adalah naskah perjanjian yang dicapai oleh Muhammad Utusan Allah dan Suhail bin Amr”, Suhail juga memotongnya dengan mengatakan bahwa kalau ia terima atau percaya bahwa Beliau adalah utusan Allah ia tidak akan memusuhinya, dan dia minta agar kata-kata “Muhammad utusan Allah” diganti menjadi dengan hanya “Muhammad anak Abdullah”-suatu hal yang membuat marah para sahabat. tetapi nabi sekali lagi meminta kepada ALi untuk menulis sesuai dengan yang dikehendaki oleh Suhail.

Dalam pada itu mereka mensyaratkan lagi bahwa barang siapa yang keluar dari Mekah dan masuk Islam serta menggabungkan diri kepada Nabi, tanpa izin keluarganya, harus dikembalikan ke Mekah.Sebaliknya, barangsiapa yang memisahkan diri dari Nabi dan kembali ke Mekah serta murtad dari agama Islam, mereka boleh menerimanya kembali, dan ia tidak diwajibkan bagi mereka untuk mengembalikannya ke Madinah. Syarat ini pun diterima oleh Nabi.

Hikmah Menepati Janji

Perjanjian Hudaibiyah ternyata telah memberikan hikmah besar kepada kaum muslimin. Terbukti dengan banyaknya orang-orang yang lari ke Madinah dan masuk Islam. Perjanjian yang telah disepakati bersama itu tidak pernah dilanggar. Tetapi justru kaum kafir Quraisylah yang selalu melanggar perjanjian itu.

Sikap politik yang dilakukan oleh Rasulullah itu mengundang berbagai tanda tanya, terutama di hati Umar yang agresif dan bertemperamen keras. Bahkan karena tidak mengerti latar belakang alur pemikiran Rasulullah, Umar pun sempat meragukan kerasulan Muhammad Saw. “Ya Rasulullah bukankah kita benar? Dan mereka dalam kebatilan?”Rasulullah mejawab: “YA”. Kemudian Umar berkata:”Bukankah kematian kita dijamin surga dan kematian mereka dijamin Neraka?” Kembali Rasulullah mejawab:”Ya”, “lalu, mengapa kita harus tunduk kepada mereka, bukankah kita berhukum dengan hukum Allah untuk kita dan mereka?” Rasulullah akhirnya berkata: “Hai, anak Khattab! Sesungguhnya aku Rasulullah dan Allah tidak akan meninggalkanku selamanya”. Mendengar pernyataan itu ia terdiam, dan dipendamnya keraguan itu karena cintanya kepada Rasulullah.

Kemudian ia berkata kepada Abu Bakar:”Wahai Abu Bakar benarkah ia seorang Rasul”. Abu bakar menjawab dengan tegas “Ya, dia adalah seorang Rasul utusan Allah dan dia seorang Nabi, aku tidak ragu sedikitpun”, “Ya Abu Bakar bukankah kita benar?” Dan mereka dalam kebatilan?” Abu Bakar menjawab: “Ya”. Kemudian Umar berkata:”Lalu mengapa kita harus tunduk kepada mereka, bukankah kita berhukum dengan hukum Allah untuk kita dan mereka?”, Abu Bakar menenangkan Umar:”Hai Umar! Sesungguhnya Allah menguji RasulNya dan memberitahukan kepadanya bahwa kemenangan Allah sangat dekat”.

Toleransi Rasulullah terhadap kaum Quraisy secara logika telah membuat kekalahan besar dalam diplomasi. Apa yang telah ditulis dalam perjanjian Hudaibiyah nyata-nyata memihak Quraisy Makkah dan mengenyampingkan hak-hak kaum muslimin. Namun kenyataannya, justru perjanjian Hudaibiyah menjadi perbincangan luas di seantero Arab. Atas kelemahlembutan Rasullah dan toleransi yang tinggi terhadap kaum Quraisy, justru telah mengangkat kehormatan kaum muslimin sementara kaum Quraisy semakin dicibir oleh berbagai kabilah.

Karena perjanjian itu telah disetujui oleh kedua belah pihak maka tidak boleh ada yang melanggar kesepakatan tersebut. Islam dengan tegas melarang pengkhianatan. Salah satu instruksi Nabi apabila beliau melepas tentaranya ke peperangan adalah : “Janganlah engkau membuat kesalahan dengan mengkhianati kepercayaan”. Perintah ini diulang-ulang dalam Al-Quran, bahwa walaupun musuh melakukan pengkhianatan, biarlah mereka berbuat demikian, tapi kaum muslimin tak boleh melanggar janji yang telah mereka perbuat.

Setelah perjanjian Hudaybiyah usai, nama harum Nabi Muhammad terdengar ke seluruh penjur. Kharisma dan wibawa yang besar dalam peristiwa itu telah memberikan suasana baru kepada masyarakat Arab yang suka berperang.

Suatu hari seorang Badui masuk ke dalam masjid dengan kudanya, rupanya ia tidak tahu sopan santun. Para sahabat yang melihat itu segera bangkit terutama Umar langsung menghunuskan pedangnya tetapi Rasulullah melarang mereka dan membiarkan Badui itu masuk dan bercakap-cakap dengan Rasulullah.

Orang Badui itu bertanya kepada majlis dengan kasarnya:
“Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”

“Inilah beliau” kata Anas yang duduk dekat nabi.
“Anak Abdul Muthallibkah engkau? tanyanya lagi.
“Benar” jawab Rasulullah dengan ramah tamahnya.
“Engkaukah yang menyuruh kami sembahyang lima waktu?”
“Benar… Sahut Rasulullah.
“Dan yang menarik harta dari orang-orang kaya dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin?” tanyanya lagi dengan kasar pula.
“Semuanya itu benar” Jawab Rasulullah dengan tenangnya.
“Kalau demikian percayalah saya dengan engkau. Dan sekarang saya akan kembali pulang menyuruh kaumku pula supaya mereka memeluk agama yang engkau bawa ini”.

Orang Badui itu akhirnya masuk Islam tanpa dipaksa sedikitpun. Sikap Nabi yang ramah dan lembut itu telah mengubah kekerasan hati Badui, sehingga dalam sekali pertemuan yang demikian itu ia sudah takluk.

Tidak berapa lama, setelah perjanjian itu, datanglah seorang pemuda dari Makkah, ABu Bashir Namanya. Dia datang ke Madinah dengan sukarelanya sendiri dan meminta diterima sebagai seorang Muslim. Permintaannya niscaya dikabulkan oleh Nabi. Tetapi kemudian datang dua orang utusan dari Makkah yang meminta Nabi mengembalikan Abu Bashir ke Makkah berdasarkan surat permintaan keras dari Ayahnya. Nabi Muhammad tidak mau melanggar perjanjian itu, ia menyuruh Abu Bashir kembali ke Makkah di kawal oleh dua orang itu.

Ditengah jalan Abu Bashir bertindak berani. Salah seorang pengawalnya dapat dibunuhnya, dan seorang lagi diikat. Dan pedang yang dipakai membunuh pengawalnya itu disentaknya terus ke leher pengawalnya sampai berlumuran darah. lalu Abu Bashir pun berkata:”Engkau telah memenuhi janjimu ya Rasulullah dan sekarang Tuhanpun telah melepaskan engkau dari ikatan jani itu. Tetapi saya sebagai muslim tidaklah mau agamaku difitnah oleh mereka, sebab itu sekarang saya datang kembali kemari.

Rasulullah termenung sejurus memikirkan kenyataan sulit ini. Akhirnya beliau berkata tetapi ia tidak menghadapkan wajahnya ke pemuda itu “Dia telah memancing peperangan pula! Baiknya dia berangkat meninggalkan Madinah dan memilih sendiri tempat yang lain…

Isyarat yang demikian saja sudah cukup buat dimengerti oleh Abu Bashir. Diapun undur dari majlis itu. Rupanya sudah ada lima orang pemuda Makkah lain yang telah lari dari Makkah ke Madinah dan masuk Islam, yang menunggu waktu dijempu oleh orang Quraisy menurut bunyi perjanjian. Mereka berbisik-bisik berenam kemudian mereka berangkat meninggalkan Madinah tidak setahu Nabi. Mulanya menuju ke padang Sahara dan akhirnya pergi ke tepi laut, jalan sehubungan dengan perniagaan orang Quraisy yang digunakan untuk berniaga ke Syam. Setiap kafilah niaga yang hendak berangkat ke Syam, mereka rampok dan mereka kocar-kacirkan. Pendeknya, ABu Bashir telah membentuk suatu barisan gerilya.

Setelah mereka bertindak, terdengarlah kabar kepada beberapa pemuda Quraisy yang lain, yang telah menganut Islam dengan diam-diam. Abu Jandal, anak utusan kaum musyrikin yang menandatangani perjanjian tersebut, datang dengan tubuh babak belur dan meminta pertolongan kepada kaum muslimin, Rasul berkata kepadanya:

“Karena perjanjian telah ditandatangani kami tidak bisa menolongmu. Kamu harus kembali kepada Ayahmu. Insya Allah, Allah akan memberimu jalan lain untuk melepaskan diri dari pengkhianatan ini”

Seluruh tentara kaum muslimin hanya bisa menitikkan air mata melihat penderitaan Abu Jandal. Tetapi ketika NAbi mengatakan bahwa “Kita tidak bisa melanggar perjanjian”, maka tak seorangpun tentara muslim yang maju ke depan untuk menolong rekan mereka yang menjadi tawanan musuh itu, hingga orang-orang kafir leluasa menyeretnya kembali ke Mekah. Ini adalah contoh yang tak ada tandingannya dalam kepatuhan kaum muslimin kepada perjanjian yang telah mereka buat.

Maka dengan diam-diam, Abu Jandal dan kawan-kawannya berangkat mengikuti jejak Abu Bashir, mencegat, merampok dan membuat kocar-kacir kafilah QUraisy itu, sehingga keamanan yang mereka harapkan selama sepuluh tahun itu menjadi hampa belaka. Dan mereka tahu bahwa Muhammad sendiri tidaklah melanggar perjanjian itu. Melainkan anak-anak mereka sendiri yang selama ini mereka kungkung kemerdekaannya.

Tidak ada jalan lain lagi! Orang Quraisy terpaksa mengirim utusan ke Madinah, memohonkan kepada Rasulullah supaya beliau memakai pengaruhnya buat mencegah tindakan pemuda-pemuda itu. Rasululullah menyatakan dengan tegas bahwa untuk langsungnya perjanjian damai 10 tahun, orang Quraisy hendaklah menyetujui agar perjanjian yang pincang itu dihapuskan saja. Kalau orang Quraisy sudi menerima anjuran itu beliau sanggup mencegah pemuda-pemuda itu. Maka turunlah kemudian ayat Al-Quran:

“Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka ditengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Fath 48:24).

Maka terpaksalah utusan Quraisy itu menyetujui penghapusan perjanjian yang berat sebelah dalam pasal itu. Maka Rasulullah pun mengirim utusan memanggil gerombolan gerilya itu pulang semua ke Madinah sebab perjanjian itu telah dihapuskan sehingga mereka tidak akan dijemput lagi dari Makkah. Dengan taat dan gembira mereka pulang ke Madinah. Tetapi sayang dalam satu pertempuran dengan kafilah Quraisy, sebelum mereka dipanggil pulang, Abu Bashir mendapat luka parah, sehingga ketika utusan Rasulullah datang menyampaikan kabar itu, ditengah-tengah kegembiraan itu kawan-kawannya Abu Bashir bertanya kepada utusan itu: “Marahkah beliah kepada saya? Dan apa kata beliau tentang saya?”

Utusan menjawab: “Rasulullah selalu menyebutkan namamu dengan penuh pujian. Rasulullah ridho kepadamu dan menjanjikan surga untukmu”

Beberapa saat kemudian, Abu Bashir pun menutup mata buat selama-lamanya dan dari bibirnya tersungging senyuman kebanggan dan bahagia.

Loading...
Kisah Nabi Muhammad Saw: Toleransi Perjanjian Hudaibiyah | fajeros | 4.5