Info Terbaru

Kisah Nabi Hud As dan kaumnya yang dibinasakan


Advertisement

Kisah Nabi Hud AS | Inilah kisah nabi hud yang diabadikan dalam Al-Quran yang dapat dijadikan pelajaran buat kita semua. Bagi anda ingin tahu kisah Nabi Hud As, maka berikut ulasannya:

Seruan Nabi Hud kepada kaumnya

Nabi Hud selalu menyeru kaumnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala, serta melarang berbuat dzalim kepada sesama manusia. Nabi Hud as diutus kepada kaumnya untuk mengingat akan nikmat yang telah mereka peroleh dari Allah. Karena di antara mereka banyak yang melupakan nikmat Allah, mereka melupakan darimana asal kebahagiaan yang mereka peroleh. Justru mereka berterimakasih kepada batu-batu. Mereka minta tolong kepada batu dan meminta perlindungan dari batu untuk kesusahan mereka. Justru mereka bertambah kufur dengan memberinya nama-nama Tuhan mereka.

Nabi Hud menyeru mereka untuk kembali kepada kebenaran dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga.

Dan kepada kaum Aad (Kami utus) saudara mereka yang bernama Hud, ia berkata: “Hai kaumku! Sembahlah Allah, tiadalah Tuhan bagi kamu sekalian selain Dia. Tiadalah kamu melainkan orang-orang yang selalu mengada-adakan saja” Hai kaumku! Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, tiada yang memberi upah kepadaku, selain Allah yang telah menciptakan aku. Maka tidaklah kamu memikirkannya!” Dan (ia berkata):”Hai kaumku! Mintalah ampun kepada Tuhanmu dan bertobatlah kamu kepadaNya, niscaya ia menurunkan atasmu hujan yang lebat dari langit dan ia menambah kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling, dengan berbuat dosa” (QS. Hud 11: 50-52)

Kisah Nabi Hud As dan kaumnya yang dibinasakan

Maka mereka menjawab: “Wahai Hud! Tiadalah engkau mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, Dan kami tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami semata-mata karena perkataan engkau, dan sekali-kali tiadalah kami percaya kepada engkau” “Tiadalah kami mengatakan, melainkan (bahwa) di antara sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila kepada engkau”. Hud menjawab: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan jadi saksilah kamu, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri daripada yang kamu sekutukan”.

Tidak henti-hentinya Nabi Hud terus mengajak kaumnya, ia tidak mengenal kata putus asa dalam kamus hidupnya, ia kembali menyeru mereka: “Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk main-main (bermaksud untuk unjuk kekayaan). Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal di dunia?. Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa seperti orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak dan anak-anak dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar” (QS As Syuaraa 26: 128-135)

Kaumnya pun tidak kalah pandainya menolak ajakannya, mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat. (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu dan kami sekali-kali tidak akan diadzab.” (QS. As-Syuaraa 26:136-137).

Demikianlah dialog yang terjadi antara Nabi hud dengan kaumnya. Mereka tetap tidak mau menerima ajakan Nabi Hud. Namun Nabi Hud terus mengajak mereka, bagaimanapun juga sambutan yang diperoleh mereka yang ingkar itu. Demikian dari waktu-kewaktu, tahun ke tahun, beratus-ratus tahun pula konon lamanya. Hanya sedikit sekali yang ikut ajaran Nabi Hud as.

Awan siksa menggantung di Langit

Memang mereka benar-benar tidak mau beriman, mereka tidak mau berhenti berbuat durhaka dan jawah, mereka hanya berbuat apa yang mereka kehendaki belaka dengan tidak menghiraukan siapa saja. Sifat takabur mereka sudah demikian hebatnya, sehingga tidak dapat diubah oleh siapapun juga.

Karena begitu hebat ingkar mereka terhadap ajaran Nabi Hud As. Maka Allah memberikan laknat kepada mereka, terbentanglah di langit awan yang hitam pekat dan panjang. melihat keadaan yang begitu ganjil, mereka semua keluar rumah untuk melihat awan itu. Akhirnya mereka berkata: “Itulah awan panjang, menandakan sebentar lagi hujan akan turun untuk menyiram tahan tanaman kita, memberi minum kepada binatang-binatang ternak kita.
kisah nabi hud
Nabi Hud berkata kepada mereka: “itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin samun yang akan menewaskan kamu semua, angin yang penuh dengna siksa yang sepedih-pedihnya”. Kemudian pada hari Jumat angin dahsyatnya itu berhembus, luar biasa hebatnya. Binatang-binatang ternak mereka yang sedang berkeliaran di padang ternak terbang berhamburan. Yang kecil dan besar terbang meninggi ke angkasa.

Mulailah mereka takut dan lari kian kemari masuk rumah mereka masing-masing. Tujuh malam dan delapan hari lamanya, angin laknat itu bertiup sehebat-hebatnya. Jangankan manusia dan binatang-binatang, batu-batu dan gunungpun hancur. Mereka semua binasa karena kekufurannya, dan tidak mengindahkan seruan nabinya.

Demikianlah jadinya manusia kuat yang takabbur itu. Kecuali Nabi Hud dan kaumnya yang beriman selamat terhindar dari siksaan Allah itu, sebagaimana firman Allah:

“Adapun Aad dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kelihatan mereka bergelimpangan mati sebagai batang kurma yang telah roboh. Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal diantara mereka” (QS. Al-Haaqqah 69: 6-8 disebutkan pula di QS Al-Qamar 54:19-20)

Adapun Nabi Hud as dan pengikut-pengikutnya tetap saja di rumah mereka, tanpa merasakan sedikit juga akan bahaya angin ribut yang dahsyat. Setelah terjadi peristiwa itu. Nabi Hud pindah dari tempat itu karena negeri itu sudah rusak binasa. Dia pindah ke Hadramaut dimana beliau hidup sampai wafatnya.

Demikianlah informasi kisah nabi hud as. Semoga informasi kisah nabi hud as dapat memberikan manfaat dalam menambah wawasan mengenai kisah nabi hud as. Baca juga kisah nabi nuh as

Loading...
Kisah Nabi Hud As dan kaumnya yang dibinasakan | fajeros | 4.5