Menu

Kisah Haru Orang Tua yang Sukses Kuliahkan Anak , Semoga Bisa Jadi Inspirasi Hidup Kamu

Halo guys selamat datang di website informasiana.com. Kali ini kami akan menyajikan informasi menarik tentang Kisah Haru Orang Tua yang Sukses Kuliahkan Anak , Semoga Bisa Jadi Inspirasi Hidup Kamu. Kamu jangan lupa yah untuk bagikan tulisan di sosial media kalian.

Siapa sangka, sejumlah orang tua bisa mengirim anak-anak mereka untuk menjadi sarjana. Tetapi inilah yang terjadi pada keluarga Mugiyono, seorang ayah di Kendal.

Pria paruh baya ini pusing dan harus menghidupi keluarganya sebagai petugas jaga malam di PT Kayu Lapis Kaliwungu. Melihat putranya, Raeni, hanya bisa masuk sekolah menengah sudah sangat buruk.

Terlebih ketika Raeni diizinkan masuk Universitas Negeri Semarang dengan status penerima beasiswa. Mugiyono tidak membayar sepeser pun.

Tapi masalahnya datang. Untuk mengambil pelajaran di departemen akuntansi, Raeni membutuhkan laptop. Tidak mungkin merasa seperti seorang siswa yang belajar tanpa laptop.

Apakah Anda memasak, apakah Anda menggunakan kertas? Jika di masa lalu, Anda bisa.

Selanjutnya, Raeni membutuhkan biaya hidup untuk belajar di Semarang. Jelas gaji kerja malam tidak cukup.

Untungnya, Mugiyono telah menemukan solusi. Dia telah berhasil mendapatkan pinjaman uang dari saudara jauh. Tetapi ini berarti bahwa masalah lain muncul: hutang harus dibayar dengan angsuran.

Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan untuk pensiun dini. Harapannya adalah bahwa uang pesangon dapat digunakan untuk membayar laptop dan membayar biaya hidup Raeni.

sukses pada anak-anak pascasarjana
Anak itu juga dilantik menggunakan becak dengan pistolnya selama gelarnya, kereeeen (Mugiyono dan Raeni / WordPress)

Agar dapur tetap mengepul, Mugiyono berubah menjadi pengemudi becak. Namun, sebelum memutuskan untuk menjadi sopir transportasi tradisional, ia terlebih dahulu bertanya kepada Raeni. "Apakah kamu malu jika kamu menjadi pilot becak?"

Raeni menjawab dengan tegas: "Tidak." Dia hanya menyatakan harga dirinya karena ayahnya mampu berjuang sekuat tenaga untuk masa depannya.

Perjuangan sang ayah tidak sia-sia. Dia punya waktu untuk bekerja siang dan malam karena gaji mengayuh pedalo tidak banyak. Ketika sore hari adalah becak, ketika malam mengurus sekolah.

Pada akhirnya, perjuangan Mugiyono telah membuahkan hasil. Raeni lulus dengan pujian dengan kesuksesan, ia juga menerima beasiswa untuk studi universitas di Inggris.

Ayah mana yang tidak bangga dengan putranya yang dapat mencapai hasil ini? Apalagi mengingat kondisi ekonomi di bawah rata-rata.

Keluarga Yuniati

Baca Juga  Imunisasi Berlebihan, Berbahayakah bagi Anak?

Di Yogyakarta, ada Ibu Yuniati yang berhasil mempersembahkan kedua anaknya, bahkan pergi ke luar negeri. Bahkan jika dia hanya bekerja sebagai pencuci piring.

sukses pada anak-anak pascasarjana
Orang tua harus bangga melihat anak-anak mereka lulus dari universitas, terutama dengan tarif terbatas (Ibu Yuniati / Liputan6)

Anak perempuan pertamanya, Satya Candra Wibawa Sakti, berhasil memasuki Universitas Hokkaido di Jepang untuk mempelajari program universitas melalui program beasiswa. Sebelumnya, ia belajar program gelar di Universitas Negeri Yogyakarta dan S-2 di Universitas Gadjah Mada.

Putra kedua, Octaviani Ratna Cahyani, dapat lulus dari kebidanan dan bekerja di rumah sakit terkenal di Yogyakarta. Semua ini berkat kerja keras dan ketangkasan sang ibu.

Bagaimana tidak sembrono. Mengetahui bahwa kemampuan finansialnya tidak bagus karena statusnya sebagai tukang cuci, Yuniati berutang kepadanya biaya sekolah untuk kedua anaknya.

Dia bahkan memiliki hutang untuk meminjamkan hiu. Ketahuilah sendiri bunga yang ditetapkan oleh rentenir. Karena tidak ada aturan, mereka dapat secara sewenang-wenang menghubungkan jauh di atas bunga bank.

Sejauh tetangganya itu dalam sikap. "Hidup itu sulit, bagaimana kalau memberi pelajaran kepada anak-anak".

Namun karena ditentukan oleh baja, Yuniati tidak mau menyerah. Hutang Yuniati masih ada, tetapi kedua anaknya telah mencapai standar hidup yang lebih baik daripada dia.

Ini mimpinya. Dia tidak ingin anak-anaknya hidup sekeras dia.

Dari dua kisah inspiratif ini, kita dapat mengambil pesan moral untuk karier dan kehidupan. Maksudnya tujuan membanting ke dalam rupee menggali untuk rupiah tidak selalu harus untuk diri sendiri.

Demi kebahagiaan dalam hidup, kesejahteraan keluarga bisa menjadi tujuan utama karier seseorang. Itu bukan target ambisi pribadi.

sukses pada anak-anak pascasarjana
Saya tidak bisa egois, saya harus memikirkan keluarga (bergandengan tangan / squarespace)

Lagi pula, ketika tujuan dipenuhi, kita juga dipengaruhi secara positif. Sebagai sebuah keluarga, sulit untuk bersama.

Terutama bagi mereka yang orang tua. Melihat anak-anak hidup dalam kemakmuran adalah kebanggaan. Ambisi pribadi harus disisihkan untuk masa depan masa depan anak yang cerah.

Baca Juga  Ambil Hikmahnya, Lupakan Masalahnya Dan Ikhlaskan Sesuatunya Maka Kamu Akan Lebih Dekat Dengan-Nya

Terkait dengan artikel ini:

[Baca: Inspirasi: Muda dan Meraih Puncak Karir, Wanita Usia 24 Tahun yang Sudah Bisa Jadi CEO]

[Baca: Ngajarin Anak Tentang Bisnis Sedari Dini, Kenapa Gak?]

Baca Juga  Bawang Putih Bisa Cegah Pikun

[Baca: 6 Kebiasaan Jelek Orangtua yang Bisa Bikin Anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Boros]

Gimana mas bro? kami berharap mbak bro dapat terhibur dan pengetahuannya menjadi meningkat. Jangan lupa yah untuk share tulisan di sosial media kalian.