Info Terbaru

Kisah Cinta Berkarat Raja Yazid II


Advertisement

Kisah Cinta Berkarat Raja Yazid II | Dia adalah Yazin bin Abdul Malik bin Marwan, ia diangkat sebagai khalifah sesuai wasiat raja sulaiman bin Marwan setelah Umar bin Abdul Aziz wafat penggantinya adalah Yazid bin Abdul Malik, ia menjadi raja dalam usia 29 tahun.

Semerbak wangi taman Baghdad tertiup angin, memainkan harumnya di hidung setiap orang yang menikmati pemandangannya yang indah. Ditengahnya air mengambang dengan kejernihannya yang menggoda jiwa.

Disitulah Yazid sang putra mahkota tertegun duduk termenung. Jiwanya sedang terbang, melamunkan seorang dara Habbbabah namanya, yang dilihatnya di Madinah. Ia adalah seorang budak Ummu Imran, berasal dari keturunan Arab dan Persia. Sang putra mahkota tergoda oleh pandangan matanya yang tajam dikala ia singgah di kota itu dan telah membidik panah cinta ke dalam lubuk hatinya hiangga ia jatuh kedalam lamunan yang panjang.

kisah yazid II

[tie_slideshow]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]Akhirnya, ia datang kembali ke madinah dan dibebaskanlah Habbabah dan diganti dengan uang seribu dinar kepada Ummu Imran. Dengan saling mempertimbangkan, dan saling melihat akhirnya Ummu Imran membebaskan Habbabah dan memberikannya kepada Yazid.

Diboyonglah Habbabh menuju Bagdad. Dan bunga kegembiraan di hati Yazid bagai melur baru merekah dari kuncupnya. Mereka berdua bercengkerama dan bersenda gurau tiada hentinya. Bagaikan Romeo dan Juliet yang bercinta. Sementara Yazid sendiri lupa, bahwa dirinya adalah putra mahkota yang tidak pantas menghabiskan waktunya hanya untuk senda gurau yang tak berguna.

Raja Sulaiman amat marah kepadanya dan segera mengusir Habbabah. Cintanya telah buta oleh kecantikan Habbabah yang amat jelita. Yazid pun tak kuasa menolak perintah raja. Akhirnya dikembalikanlah Habbabah kepada Ummu Imran dan ia mendapatkan kembali uangnya. Betapa hancur hati Yazid, hancur berkeping-keping meninggalkan kekasihnya, menjadi genangan air mata yang membasahi pipinya setiap malam di taman-taman Baghdad. Harum bunga disekitarnya justru menambahkan rasa pilunya bila mengingat Habbabah yang dicintainya.

Tidak berapa lama waktu berselang, seorang pengawal kerajaan pun menyatakan raja Sulaiman bin Abdul Malik telah meninggal dunia (99H/717M.). Gembira hatinya karena ia akan memperoleh mahkota raja. Dibayang-bayangkannya impian bersama Habbabah. Namun sayang seribu sayang, kakaknya telah mengubah impiannya menjadi hampa, raja telah mengeluarkan wasiat yang telah didiktekan kepada orang shaleh Raja bin Haywah, bahwa mahkota raja diserahkan kepada iparnya, raja berhati mulia dan berakhlaq kharimah, Umar bin Abdul Aziz. Ia baru mendapatkan mahkota raja sepeninggal Umar bin Abdul Aziz sesuai wasiat raja Sulaiman bin Abdul Malik. Pupuslah harapannya, tinggal harapan dan impian.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]Yazid II akhirnya dinobatkan sebagai raja sepeninggal Umar bin Abdul Aziz (111 H/733 M). Setelah ia menjadi raja, terkabullah keinginannya untuk kembali memanggil Habbabah ke Istana raja. Dipanggillah Habbabah putri elok nan jelita untuk dipersunting oleh raja Yazid yang baru menaiki tahta.

Betapa gembiranya hati Yazid dan Habbababh, keduanya tenggelam dalam nostalgia yang begitu menggoda. Suka cita telah menghapuskan duka yang menggantung selama beberapa waktu lamanya, seakan sudah lama sekali mereka berpisah, dan saat perjumpaan itu, hanya canda tawa, dan senda guray yang terdengar dari mereka berdua.

Di taman kerajaan yang begitu luas, mereka saling menyuapi makanan, terlampau gembira mereka berdua. Sampai akhirnya, syahdan Habbabah tersedak sebuah jambu dalam tawanya, diguncangnya berkali-kali badannya tapi tetap tak keluar juga jambu itu. Berkali-kali digoyangkan tubuhnya tetap saja tak dapat dikeluarkan hingga akhirnya ia kehabisan nafas dan jatuh lunglai diatas tanah.

Terkejut melihat kejadian itu Yazid mengguncangkan tubuh Habbabah, ia tidak percaya melihat Habbabah jatuh lunglai saat itu. Diciuminya Habbabah, dipanggil-panggil namanya. Namun, ia tidak menjawab. Ia telah mati tersedak jambu.

Semua penduduk negeri tersontak kaget mendengar kejadian itu, raja Yazid kehilangan Habbabah yang dicintainya. Tiga hari lamanya Habbabah belum dikuburkan. Raja Yazid terlihat memangku jenazahnya, terkadang diciuminya, terkadang dibaringkannya. Kesedihan itu terdengar ke seluruh negeri. Raja Yazid telah buta karena cinta, ia terus menciumi jenazah Habbabah yang semakin lama semakin membusuk. Ia baru sadar ketika ia ditegur bahwa Habbabah telah membusuk.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] Habbabah dikubur di taman kota, setelah upacara penguburan uai, Yazid pun tetap berada dalam kesedihannya, makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Hanya kenangan yang membayang di pelupuk matanya. Ia tak sadar bahwa ia harus mengemban tugas-tugas kenegaraan yang harus diselesaikannya. Tetapi angan-angan hilang datang membayang. Wajah Habbabah senantiasa datang menjemputnya. Iapun semakin kurus, cintanya telah memakan saripati tubuhnya menjadi kering kerontang tak berdaya. Lama-kelamaan, sakit pun mendera dirinya dan akhirnya ia mati karena lamunannya.

Cinta telah mengaburkan mata raja karena durinya tak pernah kenal kasta. Ia datang tanpa diundang dan ia pergi tanpa disuruh. Maka sudah sepatutnya setiap orang menyadari bahwa sesungguhnya cinta sejati hanya untuk ilahi. Jangan terbawa nafsu birahi, kelak, akan menyesal nanti.

Loading...
FAJAR ASHAR (486 Posts)

Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.


Kisah Cinta Berkarat Raja Yazid II | FAJAR ASHAR | 4.5