Menu

Islam Melarang Merebut Suami Orang Bahkan Menikahinya, Ini Hukuman dari Allah Swt!

INFORMASIANA.COM – Agama Islam tak pernah melarang kepada siapapun untuk mencintai orang lain bahkan untuk mencintai orang yang haram untuk kita nikahi sekalipun.

Karena cinta itu sesuatu yang fitrah dan ada tanpa harus diundang. Bahkan orang yang mencintai mempunyai derajat yang tinggi dan mulia disisi Allah SWT.

Akan tetapi, merebut dan mengganggu pasangan keluarga orang lain apalagi itu orang dekat, sama saja dengan merampas sesuatu yang bukan menjadi haknya sehingga sangat menyakit hati sang korbannya.

Misalnya, perempuan merebut suami orang atau malah sebaliknya pria merebut istri orang lain, apalagi mereka dalam lingkaran kekerabatan atau sahabat sehingga ada pihak yang akan sangat menderita.

“Dalam Islam memang tidak ada istilah karma tetapi dikenal dengan doktrin sebab akibat, pelaku kejahatan akan mendapat siksa atas dosanya yang berbuat baik akan mendapat pahala,” ujar pengamat Hukum Islam di Banjarmasin, Hj Mariani MHI, kepada BPost Online yang dikutip Radarislam.com dari laman Tribunnews.

Baca Juga  Modali Diri Kita Dengan Rasa Yakin yang Besar, Karena Disitulah Keajaiban Allah Akan Kita Temukan

Islam Melarang Merebut Suami Orang Bahkan Menikahinya, Ini Hukuman dari Allah Swt!

Allah Swt sangat melarang perbuatan tersebut, sehingga Allah Swt bersabda dalam Al-Qur’an:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[wp-like-locker url=”https://web.facebook.com/BeritaAkuratdanTerpercaya/” message=”Tekan Like untuk Melihat Artikel Selengkapnya”]

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. ar-Rum: 41)

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. as-Sajadah: 21)

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. an-Nahl: 61)

Baca Juga  Yang Membuatmu Patah Hati Sebenarnya Bukan Cinta, Tapi Besarnya Harapan Yang Kau Pertaruhkan Kepadanya

Tiga surah tersebut, menurut pegawai Kemenag Kalsel ini, mengingatkan setiap orang agar bertanggung jawab atau memikul akibat dari segala perbuatannya.

“Tentu saja termasuk dalam kasus merebut istri atau suami orang lain sehingga ada pihak korban yang menderita” ujarnya.

Dosa sebab akibat ini yang sering juga diterjemahkan sebagai qisas, pasti akan dialami oleh mereka yang telah melakukan siksaan kepada orang lain. Bahkan bisa sejak di dunia sampai ke akhirat.

Adapun hukum dalam mencintai suami orang lain dan memiliki tujuan untuk merusak rumah tangganya supaya bisa menikahinya adalah sesuatu yang haram besar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda”

“Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami” [Hadîts shahîh diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzâr, Ibn Hibbân, Al-Nasâ-î dalam al-Kubrâ dan Al-Baihaqî].

Baca Juga  Bersikaplah Tegas Dengan Seorang Wanita, Jika Tidak Katakan Tidak, dan Jika Serius Segeralah Meminangnya

Dari hadits diatas, ulama dari kalangan madzhab Maliki berpendapat bahwa sesungguhnya orang yang telah merusak istri orang lain supaya dia bisa menikahinya setelah dicerai, maka haram untuk orang tersebut menikahinya untuk selama-lamanya.

Sedangkan ulama yang dari kalangan Madzhab Syafii dan Hanafi menyatakan bahwa orang yang merusak seorang istri dari suaminya, maka boleh bagi orang tersebut menikahinya sesudah dicerai.

Akan tetapi orang semacam ini termasuk orang yang paling fasiq dan paling maksiat serta lebih parah dosanya menurut Allah nanti dihari kiamat. Sumber: radarislam.com

[/wp-like-locker]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.