Info Terbaru

Inilah Petunjuk Dasar Pegangan Orang Tua untuk Mengatasi Bayi tidak BAB

Advertisement
Loading...


Anda jangan merasa panik kalau menemui bayi tidak buang air besar untuk beberapa hari karena hal tersebut belum tentu membahayakannya. Frekuensi buang air besar pada balita bisa berbeda-beda tergantung dari usia dan jenis asupan yang diberikan kepadanya.

Kalau bayinya terlalu jarang buang air besar maka orang tua mungkin akan terpikir kemungkinan bayi telah mengalami konstipasi atau sembelit. Hanya saja, pastikanlah orang tua bisa mengetahui seperti bagaimana tingkat normal BAB pada bayi.

Terdapat beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai pegangan oleh para orang tua didalam menentukan apakah bayinya mengalami konstipasi atau tidak. Patokan tersebut antara lain frekuensi BAB, kondisi bayi dan kondisi tinjanya.

Frekuensi Normal BAB pada Bayi

Patokan normal atau tidak normalnya buang air besar pada bayi itu secara garis besar yaitu 3 sampai 4 kali sehari. Angka tersebut sudah normal untuk ukuran bayi yang masih berumur di bawah empat bulan. Setelah bayi mulai mengenal makanan padat, maka frekuensi buang air besar itu biasanya berkurang sampai menjadi satu kali saja dalam seharinya.

Meskipun demikian, frekuensi buang air besar itu bukanlah satu-satunya patokan bagi para orang tua untuk menentukan apakah bayi telah mengalami konstipasi. Kondisi tinja dan kondisi sang bayi juga mesti diperhatikan.

Salah satu faktor yang mesti diperhatikan yaitu warna tinja bayi. Pastikanlah bahwa warnanya kuning cerah, bukan hijau atau cokelat. Adanya darah pada tinja bayi juga bisa menjadi petunjuk bahwa bayi sedang mengalami konstipasi. Kondisi sembelit yang menyebabkan bayi tidak BAB selama waktu tertentu terjadi karena tinja yang sudah mengeras sehingga sangat sulit dikeluarkan. Pada tahap tertentu, tinja memiliki resiko dapat menyebabkan pendarahan di anus bayi. Kalau pendarahan terjadi maka biasanya darah segar akan ikut muncul pada kotoran bayi.

Perhatikanlah juga bagaimana ekspresi bayi ketika sedang BAB. Kalau wajah mereka senantiasa terlihat tegang atau menangis ketika buang air besar maka kemungkinan dia telah mengalami sembelit. Bayi yang menderita sembelit secara umum akan merasa kesakitan ketika perutnya disentuh dan dia cenderung menolak untuk makan.

Tanda-tanda Bayi tidak BAB yang harus Diwaspadai

Bayi tidak BAB karena sembelit memang wajarlah terjadi, terutama ketika terdapat perubahan pada pola makan. Akan tetapi kalau sembelit terjadi pada bayi baru lahir maka ada baiknya orang tua bisa segera menghubungi dokter supaya dapat ditangani secepatnya. Kalau yang mengalaminya yaitu bayi yang sedang dalam masa peralihan pola makan dari cair ke makanan padat, maka orang tua dapat mencoba memberi bayi berupa tambahan air atau jus buah. Selain daripada itu, berikanlah bayi berupa bubur kacang dan gantilah nasi dengan sereal jelai.

Memasukkan obat supositoria ke dalam anusnya mungkin saja dapat membantunya meringankan proses BAB. Hal tersebut hanya bisa dipakai ketika sudah terjadi perubahan pola makan tidak berhasil dalam menanggulangi bayi tidak BAB karena sembelit. Orang tua disarankan untuk dapat menghindari penggunaan minyak mineral, obat pencuci perut atau obat pencahar apa pun untuk mengatasi bayi tidak BAB karena sembelit.

Orang tua wajib untuk menghubungi dokter kalau bayi tak BAB karena sembelit semakin terus berlanjut meskipun penanggulangan di atas sudah kita lakukan. Bayi juga sebaiknya ditangani oleh dokter kalau sembelit yang dideritanya dibarengi dengan muntah atau bayi telah mengalami perdarahan rektum.

Loading...
Advertisements
Inilah Petunjuk Dasar Pegangan Orang Tua untuk Mengatasi Bayi tidak BAB | fajeros | 4.5