by

Ingin Tahu Jenis Kelamin Bayi, Inilah Mitos dan Faktanya!


Advertisement

Ada banyak mitos seputar kehamilan yang sudah beredar secara turun temurun dan akhirnya dipercayai oleh sebagian bunda di Indonesia, termasuk salah satunya mengenai spekulasi menentukan jenis kelamin bayi yang terdapat di kandungan. Kemudian, bagaimanakah fakta sebenarnya? Yuk, mari kita simak ulasan tentang mitos dan fakta tentang jenis kelamin bayi berikut ini!

Ultrasonografi (USG), tes amniosentesis, pemeriksaan vili koronik (bagian dari jaringan plasenta yang dimana terdapat pada DNA bayi), hingga tes DNA darah ibu merupakan cara yang akurat dalam mendeteksi jenis kelamin bayi yang terdapat pada kandungan bunda. Pemeriksaan USG untuk menentukan jenis kelamin bayi bisa kita lakukan sejak usia kehamilan 18 sampai 20 minggu. Tergantung dari posisi tubuh janin yang berada dalam kandungan, tingkat akurasi mencapai 80 sampai 90 persen. Pemeriksaan DNA, termasuk pemeriksaan vili korionik dan amniosentesis adalah pemeriksaan yang tak rutin dilakukan karena biayannya yang mahal dan hanya ada di laboratorium khusus.

Kendati demikian, jauh sebelum hadirnya teknologi tersebut muncul, sudah banyak tanda-tanda yang dipercayai oleh sebagian orang dalam menentukan atau menebak jenis kelamin pada sang buah hati. Mitos tersebut sudah turun temurun di kalangan masyarakat yang sampai sekarang ini masih dipercayai oleh sebagian orang.

MITOS DAN FAKTA KELAMIN BAYI

Mitos dan Fakta Seputar Jenis Kelamin Bayi yang Mesti Bunda Pahami

Calon ibu, khususnya bagi mereka yang baru pertama kalinya hamil maka sangat rentan terhadap rumor seputar kehamilan yang belum tentu saja benar. Jadi, penting bagi bunda untuk dapat mengetahui faktanya, supaya tidak salah kaprah dalam menerapkan informasi pada masa kehamilan.

Morning Sickness

Mitos: Kerapkali mengalami morning sickness parah di masa kehamilan konon pertanda anda akan mempunyai bayi berjenis kelamin perempuan.

Fakta: Mitos ini mungkin saja benar. Sebuah penelitian yang telah menemukan bahwa wanita yang mengalami morning sickness parah atau hiperemesis gravidarum cenderung melahirkan anak berjenis kelamin perempuan.

Hal tersebut lantaran adanya kadar hormon kehamilan yang memicu morning sickness cendereung lebih tinggi pada ibu yang sedang hamil bayi berjenis kelamin perempuan. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dijadikan acuan penentu jenis kelamin pada janin yang akurat, karena seorang perempuan yang sedang hamil bayi yang berjenis kelamin laki-laki pun dapat mengalami morning sickness yang parah. Berdasarkan penelitian juga diperoleh bahwa pemeriksaan USG itu jauh lebih akurat dalam menentukan jenis kelamin pada bayi. Meskipun pemeriksaan tersebut tidak bisa memberikan hasil yang 100 % tepat.

Detak Jantung

Mitos: KOnon jika detak jantung memiliki detak kurang dari 140 kali per menit maka hal itu menjadi tanda bahwa bunda sedang mengandung bayi berjenis kelamin laki-laki.

Fakta: Bunda, spekulasi ini hanyalah mitos! karena faktanya, tak ada perbedaan yang signifikan antara denyut jantung bayi perempuan dan laki-laki selama proses awal kehamilan. Rata-rata denyut jantung pada bayi laki-laki berada di trimester pertama yaitu 154,9 kali per menit (Bisa lebih atau kurang dari 22,8 kali per menit). Dan untuk bayi berjenis kelamin perempuan sebesar 151,7 kali per menit (bisa lebih atau kurang dari 22,7 kali per menit). Jadi detak jantung pada bayi tidak dapat kita jadikan sebagai acuan dalam menentukan jenis kelamin pada bayi.

Bentuk Perut Bulat dan Lonjong

Mitos: Di Indonesia telah beredar mitos bahwa bentuk perut yang terlihat membulat ketika hamil menjadi tanda bahwa bunda sedang hamil bayi perempuan. Sementara itu, jika bentuk perut bunda terlihat lonjong atau turun maka itu berarti bunda sedang mengandung bayi laki-laki.

Fakta: Bunda, spekulasi ini juga termasuk mitos. Faktor bentuk tubuh dan perut ketika ibu hamil dipengaruhi oleh berat badan pada masa kehamilan. Jadi bukan karena jenis kelamin bayi yang mempengaruhi perut bunda.

Ngidam Makanan atau Minuman Manis dan Asam

Mitos: Wanita yang sedang mengandung bayi perempuan itu konon lebih sering ngidam makanan yang memiliki rasa manis-manis, sedangkan saat mengandung bayi laki-laki akan cenderung menginginkan atau ngidam makanan dan minuman yang asin atau asam.

fakta: Tak ada data ilmiah yang telah membuktikan mengenai kebenaran mitos ini. Jika bunda merasa ngidam makanan atau minuman manis maka mungkin itu karena adanya perubahan hormon kehamilan yang bisa meningkatkan sensitivitas indera penciuman anda. Ada banyak alasan mengapa ibu hamil ngidam atau merasa ingin sesuatu yang manis-manis, salah satunya yaitu kadar gula darah yang rendah, kurang tidur, kelelahan dan kurang energi.

Selain mitos dan tanda-tanda ilmiah ketika hamil, terdapat banyak perdebatan mengenai cara yang dapat meningkatkan kemungkinan mempunyai bayi berjenis kelamin tertentu. Misalnya, anjuran diet spesifik untuk mengonsumsi makanan asam bisa membantu dalam mengandung bayi laki-laki dan makanan basa untuk dapat membantu hamil anak perempuan. Faktanya tak ada bukti ilmiah untuk anjuran ini. Makanan bervariasi dan bergizi sangat penting untuk kesehatan bayi dan ibu, membatasi asupan nutrisi atau menjalani diet tertentu ketika hamil itu bukanlah ide bagus. Dan tak bukti ilmiah terkait anjuran rutin ketika berhubungan badan sebelum masa ovulasi supaya mengandung bayi perempuan, kendati ini didasarkan pada fakta bahwa sperma jenis kelamin bayi perempuan itu tampaknya dapat bertahan lebih lama dibandingkan sperma yang berjenis kelamin laki-laki. Begitupun dengan mitos berhubungan badan sehabis masa ovulasi itu cenderung akan menghasilkan bayi berjenis kelamin laki-laki.

Manusia dilahirkan dengan memiliki 46 kromosom sebanyak 23 pasang. Kromosom X dan Y akan menentukan jenis kelamin seseorang. Normalnya, kromosom wanita adalah 46XX dan kromosom pria adalah 46XY. Jenis kelamin bayi dalam kandungan diatur segera sesudah sperma bertemu sel telur dalam proses pembuahan. Alat kelamin janin itu belum berkembang pada masa awal kehamilan sampai 6 minggu kehamilan.

Umumnya, pada usia kehamilan 4 atau 5 minggu, dokter dapat mendeteksi jenis kelamin bayi dalam kandungan Bunda dengan beberapa tes prenatal seperti USG, amniosentesis, serta pemeriksaan lainnya. Posisi bayi saat pemeriksaan USG adalah aspek terpenting dalam mendeteksi jenis kelamin bayi, terlebih untuk memastikan bahwa bayi yang dikandung adalah bayi laki-laki.

Cara yang paling akurat untuk dapat menentukan jenis kelamin pada bayi di dalam kandungan yaitu pemeriksaan DNA. Pemeriksaan ini bisa menentukan jenis kelamin bayi mulai dari usia kehamilan sekitar 9 minggu. Di dunia medis, tujuan utama pemeriksaan DNA bayi. Sebenarnya itu bukanlah untuk dapat mengetahui jenis kelamin pada bayi, akan tetapi untuk dapat mendeteksi apakah ada kelainan bawaan pada janin yang sedang dikandung untuk menentukan apakah bayi itu sehat atau tidak. Pemeriksaan ini belum rutin dilakukan karena memiliki harga yang mahal dan tak tersedia pada seluruh daerah. Dan tak kalah penting, untuk dapat mencari tahu tentang jenis kelamin dan tentunya menjaga kesehatan ibu dan janin maka lakukanlah kontrol kehamilan secara rutin pada dokter atau bidan untuk bisa mendapatkan pemeriksaan, informasi dan suplemen prenatal yang memiliki manfaat untuk dapat menunjang kehamilan yang optimal.

Loading...

About Author: dr. Glenn

Gravatar Image
Saya dr. Glenn, lahir di Jakarta, 11 Agustus 1991. Saya pernah belajar di SDN 2 Jakarta, SMPN 1 Jakarta, SMAN 2 Jakarta, dan Kedokteran Universitas Indonesia. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed