by

Cerita AlQamah, Melupakan Ibu demi Istri


Advertisement

Cerita AlQamah, Melupakan Ibu demi Istri | Alqamah adalah orang shaleh yang sangat berbakti pada orang tuanya. Ia selalu memperhatikan ibunya, apa yang diperintahkannya selalu dipatuhinya, dan apa yang dilarangnya selalu dijauhinya. Berat hatinya bila ibunya sedang sakit. Sehingga ibunya sangat cinta pada Alqamah. Dan Alqamah dikenal pula taat beribadah baik shalat maupun bershadaqah.

Alkisah Alqamah telah tumbuh dewasa, dan iapun telah mempersunting seorang gadis untuk dijadikan istrinya. Alqamah sangat bahagia sekali setelah ia kawani. Untuk menempuh takdir yang lebih baik maka ia pindah dari rumahnya dan memilih mandiri. Ia harus meninggalkan ibu yang sangat dicintainya. Namun masa depan harus terus dikejar untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akherat.

alqamah

[tie_slideshow]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]Lama waktu berselang, dari hari berganti ke minggu, minggu berganti bulan, dari bulan berganti tahun. Cukup lama pula Alqamah meninggalkan orang tuanya. Alqamah, tidak hendak melupakan orang tuanya, namun ia dihadapkan pada masalah kehidupan yang harus diselesaikannya. Akhirnya kerinduannya pun memudar, berganti pada kecintaan dan kerinduan pada istrinya. Kebahagiaan suami istri itu membuat Alqamah terhibur dan semakin giat bekerja. Tetapi manusialah namanya, kebahagiaan itu justru telah melupakan dirinya dari orang tua renta yang mesti disayanginya, mesti ia perhatikan nasibnya. Ia lebih mendahulukan istri daripada ibunya.

Suatu hari ia jatuh sakit. Sakitnya sulit sekali disembuhkan sehingga ia harus berbaring di tempat tidurnya. Lama-kelamaan sakitnya bertambah parah dan ajal mulai membayang di benaknya. Sementara sakitnya tetap tak memberikan harapan kesembuhan sedikitpun.

Istrinya kemudian diutusnya untuk datang kepada Rasulullah dan mengabarkan kepadanya tentang sakit yang dideritanya. Maka berkatalah istrinya:”Ya Rasulullah suamiku sekarang ini sedang sekarat, aku berharap agar Rasulullah mengetahui keadaannya. Rasulullah kemudian mengutus Amar, Suaib dan Bilal seraya berkata:”Tunggulah Alqamah dan talkinlah dia dengan kalimat laa ilaaha illallaah”.

Ketiga utusan itu datang kepada Alqamah lalu masuk ke tempat di berbaring. Mereka melihat Alqamah dalam keadaan sekarat, sesuai perintah Rasulullah, mulailah mereka membimbingnya untuk membaca laa ilaaha illallaah, namun sayang Alqama sama sekali tidak dapat menirukannya. Berkali-kali dicoba seperti itu pula hasilnya. Maka disampaikanlah keadaan Alqama kepada Rasulullah sebagaimana mereka lihat. Kemudian Rasulullah bertanya:”Apakah ibu bapaknya masih ada yang hidup?”, maka dijawablah bahwa Alqamah mempunyai seorang ibu yang sudah lanjut usia.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] [one_fourth]

[/one_fourth][three_fourth_last]AKhirnya Rasulullah mengutus sahabat untuk menyampaikan kepada orang tuanya seraya mengatakan:”Kalau ia dapat berjalan agar menghadap rasulullah dan bila tidak biarlah tetap di rumah beliau saja yang akan datang padamu”. Maka datanglah sahabat memberitahukan bahwa Alqamah dalam keadaan sakit parah, sekarat dan tidak dapat membaca syahadat. Ibu Alqamah tidak lagi seperti dulu, setelah lama ditinggalkan Alqamah meranalah hati ibunya. Alqamah lebih cinta kepada istri dan anaknya ia telah melupakan ibunya. Sehingga ia tidak rela kepadanya. Rasa sakit hatinya, telah mengalahkan kerinduannya dan membuat hatinya tidak ridho padanya.

Utusan itu juga memberitahukan bahwa Rasulullah datang kepadanya. Ibu Alqamah menjawab:”Demi Allah jiwaku mau berkorban untuk itu aku yang datang menghadap beliau adalah lebih wajib bagiku”. Orang tua itu berjalan tertatih-tatih, dengan tongkat di tangannya menghadap kepada Rasulullah saw dan memberi salam kepadanya: “Wahai ibu Alqamah! Percayalah kepadaku apabila engkau mendustakan aku maka pasti telah turun wahyu dari Allah. Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?”, ia menjawab:”Ya Rasulullah, dia itu sangat rajin shalat, puasa dan banyak bersedekah”, lalu Rasulullah bertanya kembali:”Lalu bagaimana keadaan ibu?”, ia menjawab:”Aku benci kepadanya!” nampak suara paraunya menunjukkan kemarahan terhadap anaknya.

Maka Rasulullah bertanya kembali:”Apa sebabnya?” ia menjawab:”Ya Rasulullah ia lebih mengutamakan istrinya dan durhaka kepadaku”, lalu Rasulullah berkata kembali:”Sungguh kebencian itu telah menjadi hambatan bagi lidah Alqamah untuk mengucapkan kalimat syahadat”.Sikap Alqamah terhadap ibunya selama hidup ternyata telah membuahkan kesulitan baginya untuk melepaskan jiwanya dari dunia yang fana ini. Setinggi apapun pangkat manusia ia dilahirkan ibunya pula. Lalu mengapat ia durhaka tatkala telah dewasa. Alqamah pun tetap terbaring di tempat tidur menunggu ajalnya tiba.

Rasulullah kemudian menyuruh sahabat:”Hai Bilal pergilah engkau dan kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya!” Ibu Alqamah keheranan dan mengundangnya untuk bertanya:”Ya Rasulullah apa yang engkau akan lakukan?” Beliau menjawab:”Akan aku bakar Alqamah dengan api dihadapanmu!”. Demi mendengar pernyataan itu, sontak mendadak sang ibu terkejut bukan main, hatinya berdegup kencang, wanita tua itu berkata:”Ya Rasulullah janganlah anak itu memberatkan hatiku bila engkau membakarnya dihadapanku”.[/three_fourth_last] [/tie_slide]

[tie_slide] Rasulullah kemudian bersabda:”Wahai Abu Alqamah adzab Allah jauh lebih pedih dan kekal, apabila engkau lebih suka agar Allah mengampuni Alqamah maka berilah restu kepadanya .. Demi Allah yang jiwaku di dalam kekuasaanNya sungguh tidak ada gunanya shalat, puasa dan shodaqah Alqamah jika engkau tidak merestuinya”. Ibu Alqamah pun sadar bahwa sejahat-jahat seekor serigala masih tetap sayang pada anaknya, bagaimanakah manusia tidakkah ia lebih sayang padanya. Lalu ia pun berkata: “Rasulullah sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, malaikatnya serta kaum muslimin yang telah hadir ditempatku bahwa aku telah merestui anakku Alqamah.

Rasulullah kemudian berkata: “Hai Bilal! pergilah engkau kepada Alqamah dan lihatlah apakah ia sudah bisa mengucapkan laa ilaha illallah atau belum? Barangkali saja ibu Alqamah hanya karena malu kepadaku dan tidak berbicara dari hatinya. Maka berangkatlah Bilal dan ia mendengar Alqamah mengucapkan syahadat laa ilaaha illallaah, lalu Bilal masuk dan berkata kepada para hadirin:”Sungguh kebencian ibu Alqamah dapat menjadikan penghambat lidah Alqamah sehingga tidak dapat membaca syahadat dan sungguh kerelaan ibunya dapat menggerakkan lisan Alqamah untuk mengucapkannya”. Alqamah pun meninggal dunia”.

Maka Rasulullah Saw menghadiri jenazahnya dan memerintahkan sahabat untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menyolatinya dan menghadiri pemakamannya. Kemudian Rasulullah berdiri di bibir kuburuannya, beliau berpidato:”Wahai kaum Muhajrin dan Anshor, Barangsiapa yang mengutamakan istrinya atas Ibunya maka atasnya laknat Allah, malaikanNya dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima amalnya kecuali ia telah bertaubat kepada Allah yang Maha Mulia dan berbuat baik kepada ibunya serta memohon keridhoannya, maka ridho Allah itu tergantung kepada keridhoan ibunya, dan murka Allah tergantung pula kepada murka ibunya”.

Begitulah Alqamah, disebabkan mengutamakan istrinya dan mengabaikan ibunya dapat menyebabkan ia dilaknat oleh Allah, malaikat dan semua orang dan Allah tidak mau menerima amalnya sebelum ia minta restu ibunya.

Loading...

About Author: FAJAR ASHAR

Gravatar Image
Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed