by

100 Contoh Cerpen Pendidikan, Cinta, Keluarga dan Sahabat


Advertisement

Contoh cerpen | Inilah contoh cerpen yang dapat anda jadikan contoh dalam membuat cerpen. Tentunya dalam penulisan cerpen ada beberapa cara membuat cerpen yang harus mesti dilakukan , akan tetapi dalam materi kita kali kita hanya perlu membahas contoh cerpen, nah berikut terdapat kumpulan contoh cerpen yang dapat dijadikan referensi untuk anda dalam membuat cerpen.
Kumpulan contoh cerpen menarik dan populer

contoh cerpen

Contoh cerpen tentang Ayah

Aku melirik jam dinding kamarku. Jam setengah dua belas siang, berarti sudah tiga jam aku dihadapan laptop hanya menonton dua drama korea dan satu film. Salah satu hobiku yang tak pernah bisa lepas dari keseharianku. Sedetik kemudian aku tersadar, seseorang sedang memukul-mukul kayu dengan palu. Aku meregangkan otot-ototku yang mulai kaku, lalu melangkah keluar halaman.

Ayahku berada disana, dibawah pohon rambutan, sibuk memukul paku dengan palunya. Ia duduk beralaskan kursi kecil, di sekitarnya berserakan serpihan kayu dan paku-paku. Ada kerangka besi berwarna orange yang sepertinya baru saja ayah cat.

“bikin apa, yah?”

Ayah menoleh. Kacamata cokelatnya yang bertengger dihidungnya tampak mengendur, helaian rambut putih dan badannya yang kurus membuatnya terlihat tua. Ayah membetulkan letak kacamatanya, lalu kembali menekuni kayu yang dipegangnya. Kini ia mulai menghaluskan kayu yang ada ditangannya.

“bikin lemari buku. Yang bawah ini untuk tempat tasmu sama kakakmu, yang ini buat buku-buku yang besar, yang ini buat buku tulis” jawabnya sambil menunjukkan bagian-bagian dari kerangka besi yang masih belum jadi.

Aku memutuskan untuk duduk di lantai marmer sambil menikmati semilir angin. Siang ini cuaca cerah, tidak ada sebersitpun awan yang ada di langit biru. Cahaya matahari yang menerobos melalui celah-celah dedaunan pohon rambutan mengingatkanku pada salah satu scane di Drama Korea yang baru saja kutonton.

Ayah sibuk menghaluskan kayu yang baru saja ia potong. Ayah tidak pernah seserius itu sebelumnya. Kesehariannya, ayahku orang yang ramah dan humoris. Rasanya rumah terasa sepi jika tidak ada ayah. Ada saja candaan yang selalu ia lontarkan, yang seringkali membuat kakak perempuanku terpingkal-pingkal. Sekalipun ayah lelah seusai pulang bekerja, ayah tidak pernah absen untuk membuat anak-anaknya tertawa. Ia juga tidak pernah lupa membawa oleh-oleh setiap pulang bekerja, sekalipun hanya tiga bungkus permen.

Ayahku orang yang multi talenta. Ia bisa melakukan apa saja; mulai memasak, mencuci baju, menyapu, mengepel, membetulkan antena, membetulkan kipas angin yang rusak, menjadi tukang listrik, mengajari anaknya berenang, menjahit, menggambar, melukis, membuat kursi ataupun lemari, membuat bantal, membuat kerajinan untuk anak-anaknya, dan masih banyak lagi. Tidak ada yang tidak bisa ia kerjakan. Ayahku orang yang baik, taat beribadah dan selalu ke masjid yang berjarak seratus meter dari rumahku.

Ia memiliki cita-cita untuk membelikan kami rumah yang layak. Ayah memiliki banyak mimpi yang belum bisa ia wujudkan, karena ayahku tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Ia hanya bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perusahaan kontraktor yang cukup besar, dengan gaji dua juta per bulannya. Belum lagi bonus yang ayah terima jika ayahku keluar kota. Itupun masih tidak cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari. Ada aku dan kakakku masih SMA dan adikku duduk dibangku Sekolah Dasar yang harus dibiayai. Kami tinggal berlima di kamar kos-kosan berukuran 4×5 meter persegi, selama hampir dua belas tahun. Ayah tidak pernah berniat untuk kontrak rumah, ia hanya ingin membeli rumah. Mamaku sering berkata bahwa ayahku hanya terlalu banyak berkhayal, karena nyatanya selama dua belas tahun kami tinggal di satu kamar yang sempit ini.

Terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana perasaan ayah jika mama mulai menceramahi ayah? Pernahkah ayah merasa gagal karena tak berhasil membahagiakan anak-anak dan istrinya? Pernahkah ayah merasa bahwa ia bukan ayah yang cukup baik? Pernahkah ayah merasa menyerah dengan keadaan seperti ini?

Aku tau ayah lelah setiap hari bekerja hingga larut malam. Terkadang ia hanya sebentar di rumah; jam 1 pagi ia pulang, lalu jam 3 pagi sudah berangkat ke luar kota. Lain waktu ia pulang jam 5 sore, bercengkrama dengan anak-anaknya. Lalu selesai sholat Isya’, ayahku langsung mengambil nasi putih, dan memasaknya didapur. Nasi goreng spesial buatannya. Ayah selalu menatanya dengan rapi diatas piring, ia sering meniru gaya Chef Juna, sehingga terlihat seperti masakan restoran. Lalu ayah harus tidur karena jam empat pagi ia harus berangkat ke Surabaya.

Ayah jarang sekali libur. Pak Santoso, bosnya, sering kali keluar kota. Kadang ayah bercerita padaku bahwa ia orang yang pekerja keras, tempramen dan pelit. Pak San sering sekali memarahi ayah ketika ayah salah sekecil apapun, tapi ayah tidak pernah merasa sakit hati.

“Dia itu orang gila, kenapa harus sakit hati ?” ucapnya kala itu sambil tersenyum.

Jadi, ketika libur seperti ini, ayah selalu memanfaatkan waktunya untuk membuat sesuatu. Jika ada kain, ia akan membuat baju untukku atau adikku. Jika ada sepatu yang perlu dijahit, maka ayah akan menjahitnya. Jika ada kayu, maka ayah akan menyulapnya menjadi kursi-kursi cantik, seperti yang ada di teras rumahku. Kalaupun memang semua bahan sudah habis, biasanya ayah akan berjalan-jalan dengan adikku untuk membeli jajanan untuk dirumah. Setelah itu, ayah akan tidur hingga adzan tiba.

Terkadang aku jengkel dengan ayah. Setiap liburan yang ia lakukan hanya menyenangkan dirinya sendiri, tidak pernah bermaksud untuk mengajakku jalan-jalan atau berlibur. Apalagi jika ayah tidur, aku akan marah seharian.

Aku iri dengan teman-temanku, walaupun tidak sering. Setiap sehabis liburan panjang, mereka selalu bercerita tentang liburan mereka ke pantai, ke bali, ke Thailand, ataupun sekedar jalan-jalan sekeluarga ke Mall. Terakhir kali aku ke Mall pada saat lebaran tahun lalu, itupun ayah menyuruh kami cepat-cepat pulang. Menurutnya jalan-jalan hanya akan menghabiskan waktu, prinsip ayah yang paling kubenci.

“berapa ukuran bukumu ? bawa sini yang paling besar,” perintah ayah. Aku menurut, lalu mengambil salah satu buku yang paling besar dan satu buku tulis. Ia mengukurnya dengan cermat, lalu mulai memotong kayu lagi.

Rasanya aku ingin menangis. Ayahku sudah cukup tua, tapi ia masih sanggup menuruti segala permintaan anaknya. Walaupun aku sering sekali tidak memperdulikan permintaan ayah-yang cenderung sederhana, seperti membuatkan segelas kopi-, ayah tidak pernah memarahiku. Beliau benar benar orang yang sangat sabar, dan bodohnya baru kali ini aku baru sadar kalau kadang sifatku keterlaluan pada ayah.

Air mataku sudah siap jatuh di pelupuk mataku. Sejak kapan aku menjadi melankolis begini? Aku jarang sekali menangis. Terakhir kali aku menangis ketika nenekku meninggal, disaat aku sedang di perjalanan rumah sakit untuk menjenguknya. Salah satu penyesalan terbesarku hingga saat ini.

“kamu nangis?” tanya ayah mengagetkanku.

Aku menatapnya, lalu seolah tanpa sadar aku menghambur ke pelukannya. Ayahku terkejut, tapi kemudian ia membalas pelukanku. Aku menyayangi ayahku, walau aku tak pernah mau mengungkapkannya. Kurasa tidak ada lagi ayah yang paling multitalenta seperti ayahku didunia ini. Ayahku hanya satu, dan aku sangat bersyukur memiliki ayah sepertinya. Ayah, aku berjanji, aku akan mengabulkan semua mimpi-mimpimu!

Contoh cerpen tentang cinta

Prolog

Aku tidak melihatmu sebelumnya

Tidak

Ku rasa kita tidak saling melihat

Ku denganku sendiri

Dan kau dengan dirimu sendiri

Entah apa yang membuat kita tiba-tiba saling melihat

Awalnya kau melihatku

Aku juga melihatmu

Kini kita saling melihat

Aku tau ketulusanmu

Tapi ketulusan itu menghilang

Tidak

Ketulusan itu masih ada hanya saja terkubur oleh gelapnya dirimu

Satu

Kopi ditangan Nara sudah dingin. Sudah sejak tadi ia membelinya tapi ia tak meminumnya juga. Ekspresso dengan krim menumpuk,kopi yang ia pesan di kedai kopi Alanza Coffe’s. Tempat dimana berbagai kopi dari penjuru dunia berkumpul disana. Nara masih terdiam, ia menahan nafas sejenak lalu mengembuskannya dengan keras, ia menatap sekeliling taman dari tempatnya duduk. Sebulan lamanya Nara mengunjungi taman ini. Setiap harinya. Tanpa terlewat sehari pun. “Baiklah..kurasa sudah waktunya.”gumam Nara. Ia beranjak dari tempat duduk panjang yang berada tepat di tengah taman itu. Sekali lagi Nara menghela nafas yang tanpa sadari ia tahan saat berada ditaman itu. Nara baru akan melangkah ketika terbesit suatu hal di otaknya. Wajahnya mendadak pucat,matanya berkaca-kaca,bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak, ia hampir jatuh berlutut ditaman itu,namun ia tidak jatuh seperti dugaannya, ia hanya duduk kembali ke kursi yang tadi ia dudukki. Kepalanya menunduk, tanpa disadari setetes air mata jatuh di pipinya. Nara masih mengingatnya, sangat jelas,benar-benar jelas, layaknya film yang diputar secara otomatis dalam otaknya.Pikirannya tiba-tiba melayang.

100 Contoh Cerpen Pendidikan, Cinta, Keluarga dan Sahabat

Reyhan melangkah dengan langkah lebar berharap sampai di halte bus tepat waktu sehingga ia tidak akan terlambat ke kantor hari ini. Ia melangkah terburu-buru sambil mengaduk-aduk isi tasnya dan berharap tidak ada yang tertinggal. Ia merapihkan rok putihnya yang menjuntai sedikit diatas lutut dan merapikan blazer biru serta kemeja cream yang ia kenakan saat itu. Reyhan menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan keras, ia mempercepat langkahnya karena ia sudah berada sekitar lima meter dari halte bus. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Reyhan biasa bangun pagi dan pergi ke kantornya naik kereta bawah tanah, tapi karena kali ini ia bangun terlambat jadi keretanya juga sudah berangkat lima belas menit yang lalu dan untuk menunggu kereta selanjutnya ia harus menunggu hingga tiga puluh menit dan itu bisa membuatnya terlambat ke kantor yang sudah pasti akan kena marah oleh atasannya. Untuk itulah Reyhan memutuskan utnuk naik bus hari ini.

Reyhan mendongak melihat bus berwarna hijau bertulisanSidney berwarna putih itu datang, ia langsung bergegas masuk dan berharap bus ini bisa melaju secepat mungkin agar ia tidak terlambat. Reyhan mendesah pelan ketika ponselnya berdering, “ siapa yang menelpon dalam keadaan seperti ini.”gumam Reyhan sambil mengaduk-aduk isi tasnya dan mencari ponselnya. Dua detik kemudian Reyhan sudah meletakkan ponsel miliknya di telinganya.
“Mmm..Sunee, ada apa ? Kau tau aku sedang buru-buru, dan aku bisa terlambat.” katanya dangan nada sedikit ketus.

“Baiklah..maafkan aku. Tapi aku harus menelponmu, ini soal apartemenmu. Kau tau, sudah ada yang mau membeli dan yang pembeli itu minta bertemu denganmu saat makan siang. Bagaimana ? Kau bisa bukan ?” kata Sunee dengan cepat.

“Yaa…atur saja waktu dan tempatnya. Ku serahkan semua padamu Sunee. Kau kan tau aku tidak akan sempat melakukannya. Jadi semua terserahmu saja. Nanti kau beri tau aku lewat pesan saja. Baiklah Sunee aku harus pergi sekarang.” Kata Reyhan sambil menutup ponsel tanpa memperdulikan jawaban Sunee dan berjalan keluar dari dalam bus.

Reyhan menghela nafas panjang dan bergegas menuju gedung setinggi tiga puluh lantai berwarna putihdan kaca yang mendominasi gedung tersebut. Reyhan sudah bekerja tiga tahun lamanya. Ia sudah kenal betul dengan semua pengawai dikantor ini. Reyhan sudah berada tepat didepan pintu masuk.Reyhan merapatkan blazer biru yang ia kenakan karena angin musim panas menerpa blazernya dan bergerak tidak karuan.Ia baru akan melangkah ke pintu masuk dan saat itu pula seseorang dibelakangnya berjalan terburu-buru dan menabraknya. Reyhan yang saat itu sedang mengaduk-aduk isi tasnya jatuh tersungkur kedepan, isi tasnya tumpah, setidaknya tidak semua.

“Aduhh…!!!”pekik Reyhan tanpa mendongak untuk melihat siapa yang menabraknya. Reyhan benar-benar tidak punya waktu untuk ini,ia memunguti beberapa barang dalam tasnya yang berserakan. Apa jam bekernya yang mati itu belum membuat hari ini lebih sial, ditambah lagi ia harus bergegas untuk naik bus, mendapat telepon disaat sedang terburu-buru, dan sekarang seseorang menabraknya hingga ia jatuh dan isinya tasnya berserakan.

“Apa kau tidak bisa hati-hati ?Kau tidak melihatku didepanmu ?Atau kau memang…”kata-kata Reyhan terhenti ketika orang yang menabraknya menempelkan jari telunjuknya tepat didepan mulut Reyhan.

“Maafkan aku..Aku benar-benar minta maaf.” Kata pemuda jangkung dengan potongan rambut hitam yang rapi yang sedikit berjambul yang bergerak tertiup angin musim panas.

Reyhan mendengus kesal dan pergi begitu saja tanpa berkata sepatah katapun. Ia bahkan tidak sempat melihat wajah pria yang menabraknya itu. Ia tau tidak ada gunanya marah-marah pada saat seperti ini. “Baiklah..lupakan itu. Aku sudah terlambat. Astaga..tiga menit lagi.”gumam Reyhan seraya berjalan ke arah lift dan menekan tombol lift.
Pekerjaannya kali ini benar-benar melalahkan bagi Reyhan. Ia menarik nafas panjang dan melirik kearah jam tangan yang ia pakai “Sekarang baru jam makan siang, apalagi yang akan kulakukan nanti. Pekerjaan yang tadi saja sudah membuat otakku lumpuh sebelah. Apa yang tadi Sunee bilang, Kafe apa, Astaga..kenapa aku lupa membawa ponselku.”gumam Reyhan sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya pelan. Ia berhenti sejenak. Menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras. “Alanza Coffe’s…benar itu tempatnya. Aku ingat sekarang. Baiklah sekarang waktunya. Pergi dan selesaikan secepatanya.”gumam Reyhan sambil melangkah keluar dari kantornya.

“Bagaimana ini ? Kenapa belum datang juga?”desah Sunee ketika sudah berada di Alanza Coffe’s. Sunee sudah berjalan-jalan resah dan tanpa ia sadari ia sudah mengacuhkan tamunya itu. Sunee mendesah keras saat Reyhan tak mengangkat ponselnya, ia memandang ke luar, hanya orang-orang yang berlalu lalang, tapi tak ada tanda-tanda gadis itu muncul. Sunee berbalik kearah tamunya dan berkata dengan sangat hati-hati “Maukah kau menunggu sebentar lagi, mm..maksudku dia pasti datang, jadi aku mohon tunggu sebentar lagi.”kata Sunee dengan nada memohon.

“Tidak masalah..Aku sudah nyaman disini. Lagipula aku juga tidak ada acara lain yang harus ku batalkan jika temanmu itu, mmm..maksudku pemilik apartemen yang akan kubeli itu terlambat.” Katanya dengan sangat ramah dan terdengar sangat ringan,tidak ada nada ketus sedikitpun.

“Terimakasih..terimakasih banyak..Kau tau, sebenarnya Reyhan sangat tepat waktu. Dia hampir tidak pernah terlambat. Dia tidak suka menunggu, untuk itulah dia juga tidak akan membuat orang lain menunggunya. Mmm..maksudku kalau memang tidak ada hal yang mengganggunya seperti sekarang. Ponselnya juga tidak bisa ku hubungi, lebih tepatnya dia tidak mengangkat telponku.Yaa..begituhlah…” kata Sunee panjang lebar yang sudah pasti membuat pria yang baru dikenalnya itu heran.Keadaan hening sejenak. Sunee mendongak ketika melihat sosok yang ditunggunya sejak tadi.

“Reyhan..!!Kenapa lama sekali ?Kau juga tidak mengangkat ponselmu ?Darimana saja kau ?” kata Sunee terdengar mendesak.

“Ada apa denganmu. Kau bahkan terdengar seperti Ibuku. Aku lupa membawa ponselku. Dan kau tau kan sekarang hari apa bukan ?”tukas Reyhan kesal

“Baiklah maaf…Tapi bukan aku yang menunggumu. Tapi….”

“Hai,perkenalkan aku Nara Aldwin. Kau bisa memanggilku Nara.”sela pria itu saat Sunee hendak memperkenalkannya pada Reyhan.

“Oh..aku….”

“Tunggu tadi kau memanggilnya siapa ?”sela pria itu pada Sunee saat Reyhan hendak memperkenalkan dirinya.

“Reyhan.. Namanya Reyhan Meara. Ku rasa aku sudah memberitahuku saat itu.”kata Sunee dengan senyum mengembang.

“Jadi kau wanita ?”kata pria itu sambil menatap kearah kedua wanita itu bergantian.

“Apa…? Apa kau bilang ? Memangnya aku kurang menyakinkan sebagai wanita ? Apa maksud pertanyaanmu itu ?”seru Reyhan yang tanpa ia sadari terdengar sangat ketus.

“Namamu….”

“Kenapa dengan namaku ?Ada masalahnya denganmu ?”kata Reyhan mengebu-nggebu.

“Hei,kalian ini kenapa ?Kalian baru bertemu. Kau bahkan belum duduk. Duduklah. Akan ku pesankan kau Greentea. Tunggu sebentar.” Kata Sunee mengakhiri perdebatan diantara Reyhan dan Nara. Keadaan hening sejenak. Namun sedikit mencair saat Nara membuka mulut dan berkata“Maaf..mm, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku…”kata Nara sangat menyesal.

“Aku tau..aku hanya lelah. Aku meeting seharian ini. Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku…Baiklah, kita lupakan saja.”kata Reyhan

“Aku pikir kau pria, karena namamu. Dan aku membeli apartemen ini karena aku pikir kau pria.”jelas Nara

“Setiap orang terkadang berpikir seperti itu. Yaa..karena namaku pastinya.”kata Reyhan mengerti.

“Ini.Kau masih suka Greentea bukan ?”sela Sunee sambil menyodorkan segelas Greentea yang ia pesan.

“Kurasa kita pernah bertemu ?Ahh..benar. Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja.”kata Nara sambil mengamati Reyhan.

“Jadi kalian sudah bertemu sebelumnya ?”tanya Sunee heran dan memandangi keduanya secara bergantian.

“Tidak..tentu saja tidak.”kata Reyhan terlalu cepat. Sangat cepat.

“Kau tidak ingat ? Aku yang menabrakmu tadi pagi. Mm..maksudku aku tidak sengaja menabrakmu. Aku….”kata Nara dan terhenti ketika Reyhan membuka mulut.

“Astaga jadi kau, aku tidak ingat denganmu.Tapi bisa dibilang kau cukup melengkapi pagi sialku. Jam bekerku mati, aku ketinggalan kereta, dan kau menabrakku..kurasa itu sudah sangat cukup. Mmm..maksudku..begitulah” sadar bahwa Reyhan sudah mengoceh panjang lebar dan pria di depannya itu hanya menatapnya dengan senyum tipis, bahkan nyaris tidak ada.

“Apa kau benar-benar tidak ingat denganku ? Mmm..maksudku dengan orang yang menabrakmu pagi tadi ?”kata Nara untuk meyakinkan gadis didepannya sekali lagi. Usahanya gagal. Benar-benar gagal. Gadis didepanya itu hanya menggeleng kuat dan meyakinkan Nara bahwa dia benar-benar tidak mengingatnya.
“Hei, apa yang kalian bicarakan ?”sela Sunee yang merasa tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sejak tadi dan menatap keduanya bergantian lalu melontarkan segelintir pertanyaan sambil menatap Nara “Bukankah tujuanmu untuk membahas apartemen yang akan kau beli bukan ?Baiklah,ini tanda terimanya. Dan uangnya sudah ku transfer semua ke rekeningmu. Kau tau, terkadang aku memang merasa seperti ibumu.”kata Sunee menatap Reyhan dengan senyum tersungging di bibirnya dan lesung pipi yang terlihat dari pipinya yang putih dan sedikit berwarna pink karena blush on yang ia pakai.

“Baiklah,Aku rasa besok aku sudah bisa mulai mengemasi barangku dan pindah ke apartemen baruku. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa”kata Nara seraya berdiri dan menebar seulas senyum pada dua gadis yang masih duduk diam didepannya itu.

“Oh..baiklah, sampai jumpa. Semoga harimu menyenangkan.”kata Sunee dan ikut berdiri untuk mengucapkan salam perpisahan. Sunee kembali menatap temannya yang masih duduk diam tanpa mengatakan apapun, bahkan Greentea yang sudah hampir dingin yang Sunee pesankan juga belum ia minum.

“Aku harus pergi sekarang..Sunee maaf Greetea itu…”kata Reyhan dengan nada dan raut wajah sangat menyesal.

“Pergilah,tidak masalah. Greentea itu juga tidak akan menangis meskipun kau tidak menyentuhnya. Re..kalau kau sudah ingin menceritakan,katakan saja padaku. Jangan ragu.” Sela Sunee seraya mengenggam tangan Reyhan dan tersenyum penuh arti.

“Kau tau, aku tidak pernah berpikir panjang untuk menceritakan apapun yang ingin ku ceritakan padamu Sunee.”kata Reyhan dan mempererat genggaman itu. “Baiklah..aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa Sunee. Akan ku telpon jika aku ingin bercerita.”tukas gadis itu sambil menggerak-gerakkan jari tangannya dan bergegas pergi.

Udara musim panas ini benar-benar aneh, tidak seperti musim panas. Reyhan berpikir justru ini musim semi, udara yang sangat nyaman, senyaman musim semi dimana semua bunga bisa bebas mekar, baunya pun bisa tercium dari ruangnya bekerja. Yaa…kantor Reyhan dekat sekali dengan taman kecil, yang akan sangat indah saat musim semi.

“Halo..pa, iya aku baru saja pulang kantor. Iya nanti pasti aku makan. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan papa dan mama ? Syukurlah kalo begitu. Kakak mau mengunjungiku ? Bagaimana papa tau ? Ohh,kakak sudah memberitahu papa. Tapi kenapa mendadak sekali ? Kakak tidak pernah menelpon, sungguh. Aku pikir di korea sangat menyenangkan sampai lupa menelponku. Iya aku tau dia sibuk, tapi apa dia tidak ingin menghubungiku. Adiknya yang paling disayang. Baiklah pa, sampai jumpa. Jaga kesehatan papa. Mm…I Love you too pa.” Reyhan menutup ponselnya dan memasukkannya kedalam tasnya. Ia bergegas kearah stasiun kereta bawah tanah. Karena ia tidak terlalu larut bekerja jadi ia masih bisa pulang dengan kereta. Sejujurnya ia sangat suka pulang dengan kereta bawah tanah, dibanding dengan bus.

Stasiun kereta bawah tanah sudah dipenuhi oleh lautan manusia, sudah hampir larut malam tapi masih banyak orang yang ingin pulang atau bepergian dengan kereta bawah tanah. Reyhan menghembuskan nafas dan menggumam pada dirinya sendiri “Apa aku akan berdiri lagi kali ini. Aahh..yang benar saja. Aku sangat lelah.” Katanya sambil berlari kecil masuk kedalam kereta dan melihat sekeliling apakah masih ada tempat duduk.

“Hei.. Reyhan..!!”seru salah satu pria dari tempatnya duduk. Reyhan mendengar itu, tapi sepertinya ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang menyerukan namanya itu. Sadar bahwa gadis yang pria itu panggil tidak mengetahui siapa yang memanggilnya pria itu pun berdiri. Reyhan mengerjap sekali dan langsung mengenali siapa yang menyerukan namanya tadi,ia hendak membuka mulut namun pria itu sudah berkata dengan lantang yang suaranya hampir memenuhi kereta itu”Aku duduk sendiri. Duduklah denganku.”katanya sangat lantang.

Nara sedang mengamati semua orang yang berlalu lalang di stasiun kereta bawah tanah melalui jendela kecil pada kereta dan ketika itu ia melihat gadis yang tidak asing baginya, gadis yang ia tabrak tanpa sengaja pagi tadi, dan gadis yang ternyata pemilik apartemen yang akan ia beli, dan juga ia menyadari bahwa ia wanita, bukanlah pria seperti dugaannya, karena namanya tentunya. Nara terus mengamati gadis itu, dari caranya berjalan ia tampak sangat lelah, matanya berkaca-kaca karena mengantuk, wajahnya sedikit pucat karena terkena pendingin ruangan, rambutnya sedikit tidak karuan karena mungkin ia berlari untuk sampai kesini,dan bajunya yang sudah agak kusut mungkin karena duduk terlalu lama untuk bekerja. Ketika gadis itu masuk kereta dan kebingungan mencari tempat duduk, Nara pun langsung menyerukan namanya. Namun usahanya gagal, gadis itu tidak melihatnya, gadis itu bingung mencari-cari asal suara yang memanggilnya itu, sontak Nara langsung beranjak dari tempatnya duduk dan kembali menyerukan nama gadis itu. Usahanya kali ini berhasil, gadis itu mengerjap menatapnya, dan Nara sangat yakin bahwa gadis itu tidak akan menolak permintaannya kali ini.

Reyhan masih terdiam ditampatnya berdiri,ia berjalan pelan dan sangat ragu, tapi apakah ia punya pilihan, tidak..Reyhan tidak punya pilihan lain. Ia terlalu lelah untuk berdiri saat ini. Reyhan sedikit mempercepat langkahnya agar sampai di tempat pria yang tadi menyerukan namanya dan duduk dikursi kosong tepat disebelah pria itu. Atsaga siapa namanya,gumam Reyhan saat melangkah mendekati pria itu, tidak lebih tepatnya mendekati kursi kosong didekat pria itu. Reyhan yakin benar kalau ia mengenal pria itu,tapi perlu usaha keras untuk mengingatnya.Reyhan selalu lumpuh otak saat kelelahan seperti ini terkadang ia bisa lupa apa yang baru dilihat atau didengarnya, sungguh terkadang ini membuatnya frustasi.

“Kenapa pulang selarut ini ?”pria itu membuka mulut setelah Reyhan mendapatkan posisi duduk yang pas untuknya.

“Besok ada Meeting dan berkasnya harus selesai malam ini, yaa..karena itu yang akan dibahas besok.”kata Reyhan tanpa melihat wajah pria itu. Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya, mencoba mengingat nama pria itu tapi tidak berhasil.

“Namaku Nara, kau ingat ? Kita bertemu di kafe saat makan siang tadi. ”kata Nara seakan tau apa yang dipikirkan Reyhan.

Benar..itu namanya, Nara Aldwin. Reyhan ingat sekarang. “Ahh..benar namamu Nara. Aku ingat sekarang. Aku mengenalmu. Tapi maaf, aku lupa namamu. Aku selalu seperti ini kalau kelelahan.”kata Reyhan dengan memaksakan seulas senyum diwajahnya meskipun ia sangat lelah, bahkan untuk tersenyum.

Keadaan hening sesaat, namun keheningan itu pecah saat ponsel Reyhan berdering. Reyhan mengaduk-aduk isi tasnya sementara Nara yang duduk disampingnya tidak memperhatikan apa yang Reyhan lakukan. Nara hanya memandang kosong kearah jendela.

“Mmm…kakak ? Ada apa ? Mm..baru saja pulang. Belum benar-benar pulang. Ya..aku masih di kereta. Ada apa ? besok ? Baiklah, aku bisa. Iya tidak akan terlambat. Memangnya aku pernah terlambat, iya aku tau. Astaga,kau bahkan tidak membiarkanku berkata. Baiklah sampai besok.”kata Reyhan yang tanpa sadari ia menggunakkan bahasa yang ia gunakan dengan kakaknya sewaktu kecil.

“Itu bahasa apa ?”tanya Nara yang sepertinya sedikit mendengarkan gadis disampingnya itu berbicara ditelepon.

“Thailand. Aku kecil tinggal di Thailand, Ayah Ibuku juga disana sekarang. Dan tadi itu kakakku.”kata Reyhan sedikit menjelaskan.

“Kakakmu….”kata Nara

“Tidak, kakakku di Korea. Dia bekerja disana. Dan besok dia akan mengunjungiku. Entahlah ada apa, tapi mungkin dia merindukanku.”kata Reyhan seakan tahu arah perkataan Nara

“Siapa nama kakakmu ?”tanya Nara dan sontak membuat Reyhan sedikit menatapnya dengan tajam.

“Untuk apa ? Maksudku kenapa kau ingin tau tentang kakakku ? Baiklah akan ku beri tahu. Dengarkan baik-baik, kakakku bernama Lian, Lian Ascarya. Apa lagi yang ingin kau tahu tentang kakakku. Kau ingin tahu siapa kekasihnya ? atau kau ingin tahu tanggal lahirnya, zodiaknya, alamatnya bekerja di Korea, atau……”

“Hanya itu, aku hanya ingin tau nama kakakmu saja. Tidak ada yang lain.”sela Nara yang sontak membuat Reyhan menghentikan kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Baiklah. Lagipula kenapa aku harus repot-repot menjelaskan padamu. Bahkan kita baru saling mengenal. Kurasa nama sudah cukup. Bahkan seharusnya nama keluarga juga tidak perlu, mm..maksudku untuk apa kau harus tahu bukan.”kata Reyhan sedikit gugup dan malu sepertinya. Tentu saja ia malu, bagaimana tidak ia bahkan mengira kalau Nara ingin tahu lebih banyak tentangnya termasuk keluarganya meskipun mereka baru saling kenal. Atsaga apa yang aku lakukan,pikir Reyhan sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.

Seoul,Korea Selatan

“Halo re ? Kau baru pulang ? Oh, kau masih dikereta ? Baiklah, kurasa aku tidak mengganggumu. Begini, besok aku ke Sidney,mengunjungimu. Bagaimana, kau bisa menjemputku dibandara bukan, aku tahu ayah memberikanmu mobil untuk kau bepergian di Sidney jadi kurasa kau bisa menjemputku. Aku menunggumu besok, jangan sampai terlambat, kau tahu aku bukan, aku tidak suka menunggu.Baiklah kurasa itu saja. Sampai jumpa besok.” Lian menutup ponselnya dan melemparkannya ke kasur diikuti dirinya. Lian benar-benar lelah hari ini. Aku harus istirahat sekarang, aku tidak ingin jet lag besok, gumam Lian pada dirinya sendiri.

Sidney, New South Wales, Australia

“Halo Sunee, mm…kau bisa membantuku ? Iya besok. Hanya mengambil mobil di dealer ? Mm…bagaimana ? Kau mau ikut, tentu saja kau boleh ikut. Aku juga yakin kalau kau juga merindukan kakakku seperti aku merindukannya. Baiklah,terimakasih Sunee. Mm..sampai jumpa besok. Oh ya, jangan sampai terlambat. Iya aku mengerti. Baiklah sampai jumpa Sunee. Selamat Malam.”Kata Reyhan dengan seulas senyum tersungging di bibirnya. Astaga aku lelah sekali pikir Reyhan dalm hati. Reyhan bingung kenapa ia masih belum ingin berhenti bekerja,padahal ia merasa sudah hampir mati karena pekerjaan yang ia lakukan saat ini. Reyhan bukanlah orang yang gila kerja, karena uang tentunya. Karena ia sendiri sudah berkecukupan sejak kecil, jadi ia benar-benar tidak tergila-gila dengan uang. Tapi Reyhan masih saja menekuni pekerjaan ini. Bosnya yang sudah seperti monster baginya yang selalu menyuruhnya ini itu tak mempedulikan betapa lelahnya Reyhan. Reyhan bekerja sebagai sekretaris di suatu kantor terkemuka di Sidney,ia sangat diandalkan dalam segala urusan oleh bosnya itu. Reyhan benar-benar tau resikonya akan seperti ini jika ia memilih pekerjaan ini. Ayahnya juga sudah mengatakan berulang kali tentang resiko pekerjaannya ini, namun Reyhan masih saja bersikeras untuk tetap bekerja.Sejujurnya tidak ada sedikitpun rasa penyesalan dalam diri Reyhan setelah ia menjalani pekerjaan ini sekian tahun dan menjalani semua resikonya itu, hanya saja terkadang Reyhan bisa sangat frustasi karena ulah bosnya itu.

Reyhan belum benar-benar terlelap malam itu, seperti ada yang menghantui pikirannya sampai-sampai ia belum bisa terlelap meskipun ia sudah benar-benar ingin tidur. Tiba-tiba……brruukk, suara benda atau seseorang terjatuh tepat didepan pintu Apartemen Reyhan dan sontak membuat mata Reyhan yang hampir terpejam itu terbuka sangat lebar. Reyhan melompat dari tempatnya merebahkan diri, karena ia belum bisa dibilang benar-benar tidur. “Astaga, suara apa malam-malam begini. Apa ada yang pindah malam-malam begini ? Ah..yang benar saja, mana mungkin pindah malam-malam. Atau jangan-jangan…..” pikiran Reyhan mulai kacau. Reyhan mengambil stik golf milik Ayahnya yang sengaja di tinggal Ayahnya itu untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada pencuri atau semacamnya. Mata Reyhan terbuka lebar dan bersiap untuk menghantam sekuat tenaga siapapun yang ada dihadapannya yang ia pikir mencurigakan. Reyhan memutar knop pintu Apartementnya. Sosok laki-laki jangkung nampak sedang mencari seauatu dalam tasnya, bajunya serba hitam, tidak, lebih tepatnya terlihat hitam, itu karena tidak ada penerangan makanya semua terlihat hitam, tapi tunggu, darimana Reyhan mengetahui bahwa itu adalah laki-laki,benar Reyhan hanya menduga saja, badan yang sejangkung itu tidak mungkin seorang wanita, Reyhan benar-benar yakin bahwa sosok yang ia liat adalah laki-laki. Tangan Reyhan gemetar saat memegang tongkat golf itu, ia benar-benar takut menghadapi sosok yang berada didepannya itu. Baiklah, saat dia melakukan hal yang mencurigakan dan itu mengancam keselamatanku, tongkat ini akan ku ayunkan sekuat tenaga, pikir Reyhan seraya melangkah perlahan dari pintu apartementnya dan mendekat pada sosok laki-laki itu. Pppakkkk…Stik golf itu diayunkan Reyhan sangat keras terlalu keras sampai-sampai Reyhan bisa merasakan gertakan tulang yang mengenai stik golf yang diayunkannya.

“Aduhh…?!!!!Astaga apa yang kau lakukan ?Aku bukan pencuri atau semacamnya.Lagipula siapa kau berani-berani memukulku ?”teriak Pemuda itu tanpa melihat siapa yang memukulnya. Keduanya terkejut ketika melihat wajah satu sama lain.

Mata Reyhan terbuka sangat lebar ketika ia melihat siapa yang dipukulnya dengan stik golf itu.“Astaga, kau ? Kenapa mengendap-endap seperti pencuri begitu ? Ahh…tidak,tidak,maksudku kenapa pindah malam-malam? Memangnya besok tidak bisa? Untung saja aku tidak menelpon polisi.”pertanyaan Reyhan berjejer panjang dan diucapkan dengan sangat cepat hanya dengan dua kali tarikan nafas.

”Kau ini benar-benar, sudah jelas kau yang salah karena memukulku, untung saja aku tidak cedera berat, bagaimana jika aku terluka, atau aku langsung pingsan begitu kau pukul dengan stik golfmu itu hah ? Sudah salah, marah-marah,menyalah-nyalahkan lagi ? Kalo aku menuntutmu, pasti kau akan ditahan cukup lama karena perbuatanmu ini.”Kata pemuda itu yang terdengar begitu ketus, mengancam, dan sangat serius. Benar-benar serius karena sama sekali tidak ada senyum dari raut wajah pria itu.

“Aku kan sudah minta maaf tadi,apa kau tidak mendengarnya. Lagipula kau bilang akan pindah besok,jadi aku tidak berpikir kalau kau yang pindah malam-malam begini,dan bergerak-gerak mencurigakan seperti yang kau lakukan itu.”Kata Reyhan dengan nada sangat menyesal dan benar-benar takut. Reyhan berpikir kalau ancaman pria itu sungguh-sungguh,karena itu yang dilihat Reyhan dari raut wajah pria itu. Sangat serius,benar-benar serius.

“Ahahaha….Kau benar-benar ketakutan seperti itu ? Astaga, aku hanya bercanda. Sungguh, aku tidak mungkin melaporkanmu sekalipun kau membuatku cedera berat karena stik golfmu itu.”Tawa dan segelintir kata merebak di mulut Nara. Nara benar-benar menyesal mengerjai gadis didepannya itu. Nara tidak bersungguh-sungguh dalam berkata itu. Nara benar-benar menyesal namun dia tetap tidak bisa menahan tawanya yang semakin merebak. Namun tawa Nara terhenti ketika Reyhan mulai bicara dan menatap Nara dengan tajam dan menusuk.“Hei….!!!Aku ketakutan setengah mati karena ada yang mengendap-endap didepan Apartemenku dan kau sekarang sengaja mengerjaiku dengan mengatakan hal yang membuatku hampir mati karena ancamanmu yang sangat terlihat serius dan nyata itu hah ?Apa kau sudah puas ? Baiklah, urus saja yang ingin kau urus. Barangmu,pakaianmu,terserah kau saja. Aku tidak peduli.”Reyhan berkata sangat menggebu-gebu dan ketus tanpa memperdulikan ekspresi Nara yang sangat menyesal dan ingin mengucapkan segelintir kata maaf untuk meredam amarah Reyhan yang tidak terbendung itu. Reyhan pergi begitu saja. Pintu apartemen tertutup dengan suara cukup keras untuk malam musim panas yang cukup senyap kala itu. Seketika bayangan gadis itu melsat dari hadapan Nara. Nara hanya berdiri mematung tak bergerak sedikitpun. Bibirnya pun mulai mengering karena terpaan udara malam musim panas. Matanya belum sempat berkedip. Bahkan tanpa sadar, Nara menahan nafas sejak Reyhan mulai menatapnya dan berbicara.

Nara menghela nafas dan menghembuskannya seraya berkata dengan keras dan berharap gadis itu mendengarnya dari balik pintu apartemen.“Re…tunggu dulu, aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut. Sungguh Re, dengarkan aku dulu. Re, aku benar-benar minta maaf. Aku….aku sangat menyesal. Sungguh aku menyesal. Aku benar-benar minta maaf.” Tunggu dulu, apa tadi Nara memanggil Reyhan dengan sebutan Re, darimana Nara tau bahwa Re adalah nama panggilan untuk Reyhan. Ahh benar, tadi siang Sunee sudah mengatakan hal itu pada Nara. Nara mengetuk-ngetuk kepalanya cukup keras. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini pada gadis yang baru dikenalnya tadi siang dan jelas ini akan membuatnya terjerat masalah yang besar setelah ini. Tidak, Nara tidak berharap itu terjadi padanya. Nara yakin betul bahwa gadis itu Reyhan maksudnya, tidak akan melakukan hal yang Nara bayangan ini. Sangat mengerikan, sangat-sangat mengerikan. Nara masih menatap pintu apartement Reyhan tanpa bergeming sedikitpun. Namun Nara segera membuyarkan lamunannya itu, mengingat malam akan semakin larut dan barang-barangnya masih sangat banyak dan belum satupun dimasukkan kedalam apartemen barunya.

Reyhan menghela nafas panjang dari balik pintu yang tadi ia tutup sangat keras karena ia sangat kesal dengan ulah Nara karena sudah pindah malam-malam dan membuatnya ketakutan setengah mati dengan ancamannya itu. Reyhan benar-benar kesal saat ini. Reyhan membaringkan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur. Dan satu menit kemudian Reyhan telah tertidur. Reyhan memang sudah seharusnya tidur sejak tadi, apalagi besok ia harus menjemput Lian kakaknya dibandara, tapi karena Nara, Reyhan jadi menunda tidurnya itu.

Nara mengusap keringatnya yang hampir jatuh mengenai kelopak matanya. Barang yang dipindahkan dari apartemen lamanya memang sangat banyak, bahkan sekarang Nara bingung untuk menatanya. “ Ahhh…sudahlah, besok saja kulakukan, sekarang aku sangat lelah.”kata Nara pada dirinya sendiri. Nara menghempaskan tubuhnya kearah sofa didepannya, karena hanya sofa itulah yang paling terlihat nyaman baginya, matanya hampir terpejam ketika bayangan gadis itu muncul dan mengusik pikirannya. “Astaga bagaimana keadaannya, apa dia masih ketakutan, ah tidak mungkin, mungkin sekarang dia sedang tidur, lagipula matanya sudah sangat sayu tadi, dan dia juga sangat lelah. Tapi bagaimana kalau dia membenciku, ya ampun Nara, dia tetanggamu, bahkan belum ada satu hari, tapi kau sudah membuat masalah dan membuatnya kesal setengah mati.” Bayangan Reyhan masih muncul dan sudah pasti membuat Nara bingung. “Besok…apa yang harus kulakukan besok ? Meminta maaf ? ahh tadi saja dia langsung pergi, padahal aku ingin mengatakan maaf. Lalu apa…? memberi sarapan ? ahh yang benar saja. Bunga..?bunga, mana mungkin bunga. Dia bukan kekasihku. Aduhh..bagaimana ini ? Ahh benar, besok pagi saja aku datang. Dan sekarang aku harus tidur.” Nara menghentikan ucapan dan pikirannya itu. Nara memposisikan dirinya senyaman mungkin dengan sofa agar dia bisa tidur.

Reyhan membuka matanya perlahan,salah satu alasan ia membuka matanya adalah karena jam beker sialan itu berbunyi nyaring tepat di telinga Reyhan. Tangan Reyhan meraba-raba sisi bagian meja lampu tidur dengan kasar, tangannya bergerak liar mencari asal suara jam beker itu sampai akhirnya Reyhan berhasil memukul bagian atas jam beker tersebut dan suasana apartemen Reyhan kembali senyap seperti pagi pada umumnya. Reyhan terkesiap dari tempat tidurnya, ia duduk sejenak dan menarik nafas dalam-dalam seraya berfikir apa yang lebih dulu ia lakukan. “Apa yang harus kulakukan sekarang ? Sunee…haruskah aku menelponnya sekarang ? ahh tidak mungkin sekarang. Sebaiknya aku mandi dan setelah itu baru aku menelponnya. Okee..lakukan dengan cepat dan selesaikan dengan baik Re.”gumam Reyhan pada dirinya sendiri. Hanya lima belas menit waktu yang diperlukan Reyhan untuk bersiap. Celana jeans abu-abu dengan sedikit corak orange pada bagian tepi dan ujung celana dipadukan dengan jamper kuning pudar namun cerah bertulisan INSIDE dengan font italic membuat Reyhan tampak seperti gadis yang tak seusianya. Ditambah lagi rambut panjang yang dikucir satu tanpa pola membuatnya benar-benar seperti gadis SMA. Reyhan meletakkan handuknya di jemuran tepat disebelah pintu kamar mandi dan terkesiap ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi Sunee. “ Mmm halo Sunee, kau sudah di dealer ? bagaimana dengan mobilku ? dan kau akan sampai jam berapa ? aku harus cepat.”Reyhan sama sekali tidak mengizinkan Sunee berkata sepatah katapun. “Hei….aku bahkan belum mengatakan halo. Mobilmu rusak, ada salah satu mesin yang tidak berfungsi. Ini mungkin karena kau tidak pernah bahkan kau jarang menggunakkannya. Jadi mungkin aku akan kebengkel dengan mobilmu ini. Kau pergi saja dengan taksi. Lagipula kau tidak mungkin menungguku dan mobilmu bukan. Atau kau ajak kakakmu makan di restauran dekat bandara, kira-kira pukul 09.30 mobilmu ini sudah selesai diperbaiki, dan aku akan ke bandara menjemput kalian. Bagaimana ?” kata Sunee dengan nada sangat menyesal namun masih ada sedikit senyuman diwajahnya. “Ahhh…baiklah akan ku coba nanti. Sunne terimakasih. Aku akan menunggumu dibandara nanti. Kau mau menitipkan salammu untuk kakakku ? Ahh..benar,kau pasti melakukannya. Akan ku sampaikan nanti. Baiklah sampai jumpa.”Reyhan menutup ponselnya dengan wajah muram dan bingung. Reyhan memutar otaknya,tanpa sadar ia juga mengetuk-mengetuk pelan pelipisnya,tapi tetap saja tidak berpengaruh. Reyhan tetap tidak memiliki ide lain. Karena jika naik taksi dia tidak akan sampai tepat waktu. Lalu apa ? Apa yang harus ku lakukan ? Pertanyaan itu belum sempat terjawab interkom apartemen Reyhan berbunyi nyaring dan membuyarkan semua pikirannya tadi tentang taksi. Siapa yang datang pagi-pagi begini, ada urusan apa sampai harus datang sepagi ini. Sangat menganggu. Reyhan geram dan dia benar-benar ingin melontarkan semua amarahnya. Mata Reyhan terbelalak melihat orang yang muncul dalam interkomnya itu. Mau apalagi dia ? Kejadian tadi malam masih jelas teringat di pikiran Reyhan. Sabar Re, sabar. Masih sepagi ini haruskah ia meluapkan semua amarah yang sejak malam terpendam. Dengan menarik nafas panjang dan dihembuskan sekuat mungkin Reyhan menekan tombol interkom apartemennya dan membuka pintu apartemennya. “mmm…ada apa ?”Reyhan menyakan apa maksud pria itu datang dengan nada sangat ketus. “Ahhh…syukurlah kau membuka pintu. Tadinya kupikir kau tak akan membukanya. Kau berdandan sangat rapi sepagi ini. Kau ada keperluan dan harus pergi sekarang juga ?”Nara menghembuskan nafas lega mengetahui gadis itu masih mau membukakan pintu untuknya. Nara memandang gadis itu dari ujung kaki hingga rambut. Dandanannya sederhana namun ia terlihat mempesona. Tanpa sadar Nara memuji gadis itu dalam hatinya. “Aku memang mau pergi. Sekarang juga. Jadi katakan apa keperluanmu agar aku bisa pergi.”Reyhan mendesah kesal karena pria ini. Lagi-lagi ia menjawab dengan nada ketus. “Ahh..begitu.Baiklah, aku kemari hanya ingin meminta maaf. Mmm..soal..kejadian tadi malam. Aku benar-benar minta.” Nara mengatakan maksud dan tujuannya dengan nada terbata-bata. “Soal itu, sudahlah lupakan. Aku memang masih sangatkesal padamu, tapi sudahlah. Hanya itu saja ? Baiklah kalo begitu aku bisa pergi sekarang.” Kali ini Reyhan menjawab dengan nada datar tapi ada beberapa gerakan tangan yang mengisaratkan tak akan ada masalah. “Tunggu, tapi memangnya kau mau pergi kemana ? Aku bisa mengantarmu jika kau tidak keberatan. Bagaimana ?”Nara bernafas lega kali ini. Rupanya gadis ini tidak begitu mempersoalkannya. Tapi apa yang baru saja dia katakan, mengatarnya ? Ahh, aku pasti sudah gila. Nara masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Sementara Reyhan hanya berdiam diri sembari menimbang-nimbang keputusannya. Tiga detik kemudian. “Baiklah. Antar aku ke bandara. Aku akan menjemput kakakku.”Reyhan berkata dengan tegas sembari melangkah lebar mendahului Nara. “Baiklah. Mm…tapi…”Nara mempercepat langkahnya agar menyamai posisi jalan gadis itu. “Tapi apa ? Kau keberatan ? Kalau begitu aku akan mencari taksi.”gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba dan punggungnya menyentuh kening Nara cukup keras.

Dug…

Nara hanya memekik pelan. Sepertinya Nara sama sekali tidak kesakitan, dia hanya sedikit terkejut dengan gerakan gadis itu yang berhenti tiba-tiba. “Ahh…tidak. Bukan itu maksudku, aku tidak keberatan. Sama sekali tidak. Ayo masuklah ke mobil.”Nara mempercepat langkahnya menuju mobilnya. Sementara gadis itu hanya mengangguk kaku dan mengikuti langkah Nara.

Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil benar-benar hening. Hanya sesekali suara mesin mobil yang keras yang memecah keheningan itu. Sampai ketika mobil Nara melaju melewati Sidney Opera House, Reyhan tak henti-hentinya tersenyum dan memandang gedung opera itu tanpa berkedip. “Kau suka operet ? Sepertinya begitu. Atau kau hanya menyukai gedung itu ?”pertanyaan Nara memecah ketegangan didalam mobil itu.“Ahh…operet. Benar. Kau benar, aku sangat menyukainya. Kangaroo’s Club Opera. Grup operet kesukaanku.”Reyhan menceritakan tentang operet dengan wajah berseri-seri. Nara hanya sesekali memandang kearah gadis itu,tapi Nara benar-benar berkonsentrasi dengan penjelasan gadis itu.“Kau sangat menyukainya? Opera hanya ada dua kali seminggu, sabtu dan minggu. Aku yakin kau tidak pernah melewatkan hari itu. Terlalu mudah bagimu untuk selalu melihatnya bukan ?”Nara memacu gas dan menarik dasbon mobilnya setelah mengatakan sebuah pertanyaan yang sebernanya pernyataan sok tau yang diluncurkan pada gadis itu.“Seharusnya begitu,aku juga sudah lima tahun disini. Hanya saja aku baru tiga kali menonton operet secara langsung. Selebihnya aku melihatnya di youtube. Menyedihkan bukan ?Dalam tiga kali waktu itu aku baru mendapat tiga merchandise khusus Kangaroo’s Club. Kaos club bertanda tangan Steve Darcown sang Romeo dalam operet itu, Mug claiste bergambar Stephany Aplha, dan keramik singular bertanda tangan Ad…ahh Ad siapa ya ?Aku sudah lama tidak melihatnya di club.”Reyhan menepuk jidatnya karena dia lupa nama dari pemain muda opera itu.“Adwigh Coullan…pemain termuda di club Kangaroo itu bukan ?”Nara menengok sekali dan mengucapkan nama pemain opera itu dengan tegas.“Ahh benar..Adwigh Coullan. Bagaimana kau tau ? Kau juga menyukai operet ?”Reyhan menatap wajah Nara penuh arti. Seulas senyum tersungging di ujung bibirnya.“Tentu saja aku tau, Adwigh adalah anak dari klienku yang berasal dari Canberra, pemegang saham terbesar di perusahaan. Ayahnya sangat dekat denganku. Dia menceritakan tentang anaknya yang masuk anggota Kangaroo’s Club. Tapi bukankah dia sudah hengkang ? Keluar maksudku ?”Nara memalingkan wajahnya sebentar seraya membalas senyum dari gadis itu dan memberikan penjelasan tanpa melihat wajah gadis itu karena dia harus berkonsentrasi menyetir. Gadis itu menatap Nara tanpa berkedip dan sesekali dia tersenyum singkat.“Iya…dia memang keluar saat…mm kurasa saat karirnya melonjak. Aku baru akan mengaguminya, karena dia lebih muda dariku tapi perannya sangat memukau. Kau tau apa alasannya ?”Reyhan kembali menatap pria itu sesaat setelah dia hanyut dalam lamunannya.“Kurasa ayahnya ingin dia meneruskan usaha ayahnya. Menggantikan ayahnya. Tapi aku tidak tau secara pasti. Itu hanya dugaanku saja.”Nara menatap gadis itu sejenak tapi gadis itu tidak melihatnya karena dia sedang memperhatikan kondisi jalanan tapi tetap mendengarkan penjelasan Nara.“Kurasa dugaanmu benar, kau bilang ayahnya pengusaha kaya di Canberra, sudah pasti dia harus meneruskannya. Terlebih lagi dia anak laki-laki.”Reyhan membenarkan ucapan Nara sedangkan pria itu hanya tersenyum tipis.

Satu jam perjalanan dengan mobil untuk bisa sampai di Kingsford Smith Airport. Cukup lama waktu tempuhnya. Ini karena ada beberapa jembatan yang dalam perbaikan sehingga harus berjalan memutar dan sedikit lebih jauh.

“Kau masuk saja dulu. Aku yakin kakakmu sudah sampai. Aku akan mencari tempat parkir dan segera menyusulmu.”Nara hanya membuka separuh kaca mobilnya dan mengisyaratkan pada gadis itu agar tidak menunggunya. Gadis itu hanya mengangguk patuh dan bergegas masuk ke area kedatangan luar negeri.

“Kak…”suara Reyhan terdengar halus namun tegas. Seseorang yang dia panggil tidak lain adalah Liam,kakaknya yang bekerja di Korea. Liam memutar kepala menyadari ada seseorang dengan suara tak asing memanggilnya. Memang sudah lima tahun mereka berpisah,namun baik Liam maupun Reyhan masih memahami masing-masing dari mereka.“Ahh…Re,kau sudah datang.”Liam berlari kecil kearah gadis kecilnya yang sekarang sudah dewasa. Namun tetap saja Liam menganggapnya gadis kecil kesayangannya. Liam memeluk erat Reyhan selama beberapa menit. Liam merasakan lelah yang teramat sangat karena penerbangan ini. Namun ketika dia bisa memeluk adik kesayangannya ini,semua terasa ringan,lelahnya seketika sirna.“Ada apa denganmu..??Aku tidak bisa bernafas. Lepaskan aku kak..”Reyhan memekik karena Liam mengencangkan pelukannya. Menyadari bahwa Reyhan merasa tak nyaman Liam pun segera melepaskankan pelukannya.“Maaf..maaf..maafkan aku adik kecil.”suara Liam terdengar mengejek.“Astaga kak…berhentilah memanggilku seperti itu. Aku sudah 21 tahun kau tau..”Reyhan memalingkan muka tanda dia sangat kesal dengan kakaknya itu. “Ahh..begitu saja kau kesal. Bagaimana mungkin kau bukan lagi adik kecil ?”Liam belum benar-benar puas dengan ejekannya dan kembali menambah ejekan terhadap adiknya itu.“Baiklah..kau pulang saja sendiri.”Kali ini Reyhan benar-benar kesal karena kakaknya tak berniat meminta maaf padanya. Dengan langkah lebar dan cepat Reyhan berbalik arah berusaha meninggalkan kakaknya itu. Secepat mungkin Liam mengimbangi langkah Reyhan dan menarik tegas lengannya.“Ayolah Re,aku hanya bercanda. Kenapa kau seserius itu ? Baiklah..baiklah..maafkan aku. Sungguh aku hanya bercanda. Khor thot khrap (Aku minta maaf). Re…ayolah re, aku hanya bercanda.”Liam mengatupkan kedua tangannya pertanda permohonan maaf. Seketika Reyhan membuka mulut dan tertawa begitu lantang dan lantas membuat Liam sontak berdiri dan menatapnya tajam. Menyadari bahwa dia sedang dihujani tatapan tajam oleh sang kakak, Reyhan seketika menghentikan tawanya yang menguak.“Ahh..baiklah-baiklah. Aku tidak marah. Maafkan aku,aku hanya bercanda.”Reyhan menjelaskan dengan kepala tertunduk. Sementara Liam hanya mendengarkan acuh tak acuh.Reyhan menyesal,pertemuan pertama dengan kakaknya justru dia hancurkan dengan candaan yang tak masuk akal ini.

“Kalian sedang apa ?” suara Nara yang baru saja datang dengan tiga gelas kopi dengan kotak kopi di tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang ponsel. Nara memperhatikan gerak-gerik mereka berdua sejak tadi seraya mendekat kearah mereka. Mata Nara menyipit tajam berusaha memahami apa yang terjadi pada mereka. Namun Nara tetap tidak memahami mereka sehingga melontarkan tiga kata tanya bagi mereka.

“Ahh…tidak ada. Aku baru akan menelponmu. Tapi kau sudah disini. Sudahlah,ayo kita pergi.”Reyhan mengembunyikan segala tawanya dengan menghadirkan seulas senyum tipis pada Nara.

“Kita ke cafe airport saja dulu. Bukankah kita menunggu Sunee ?”Liam mengerutkan dahinya pada Reyhan pertanda bahwa ia tidak setuju dengan usulannya untuk segera pergi.

“Benar re,kita kesana saja dulu. Lagipula lebih baik menunggu disana dibandingkan menunggu disini. Aku juga sudah membeli kopi untuk kalian. Ayo kita minum disana.”Nara menegaskan gagasan Liam sambil mengangkat tinggi-tinggi kotak kopi dengan tangan kanannya.

Reyhan melangkah meninggalkan mereka berdua tanpa bergeming. Mereka yang semula menatap ragu pun mulai mengikuti langkah Reyhan. Dua pria itu tak berkata satu sama lain. Mereka juga belum saling kenal. Sementara Reyhan mengabaikan mereka dengan melangkah cukup cepat didepan mereka. Mereka memilih empat kursi yang berada satu garis lurus dengan pintu masuk cafe airport. Tujuannya adalah agar Sunee tidak kesulitan dalam mencari keberadaan mereka. Mereka duduk dikursi mereka masing-masing. Reyhan memilih kursi dekat jendela kaca besar yang mengelilingi cafe itu,Liam memilih kursi tepat disamping adiknya,sementara Nara memilih kursi yang berada dihadapan Reyhan. Entah apa yang membuat Nara memilih kursi itu. Mungkin karena ia masih terlalu canggung dengan Liam.Reyhan tetap tidak bergeming menatap pesawat-pesawat yang terpakir rapi di bandara Kingsford Smith dari jendela kaca itu. Sesaat kemudian Reyhan menghembuskan nafas panjang menyadari apa yang telah dilakukannya. Sadar bahwa ia telah mengabaikan dua pria didekatnya Reyhan pun memulai pembicaraan.

“Baiklah kak..perkenalkan,ini Nara. Dia…dia teman…ahh tetangga baruku juga. Dan dia yang mengantarku kemari.”Reyhan berkata dengan cepat setelah ia menyesap kopi yang dibelikan Nara.

“Nara…Nara Aldwin. Tapi kau hanya perlu memanggilku Nara.”Nara mengulurkan tangannya kearah Liam yang sedari tadi melihat kearah dua orang secara bergantian.

Sadar bahwa Nara mengulurkan tangannya,Liam pun tersenyum riang dan membalas jabat tangan dan sapaan Nara“Ahh…Nara. Aku Liam…Liam Ascarya. Panggil saja Liam dan aku adalah kakaknya Rere, mm..maksudku Reyhan Meara. Tadi kau bilang dia tetanggamu ? Dan tetangga baru. Tapi kenapa dia mengantarmu ?”

“Iya benar,dia tetanggaku. Tetangga baruku lebih tepatnya. Dia yang menyewa sebagian apartemenku. Karena apartemen itu terlalu luas jika hanya untukku. Lagipula ayah membelikan untukku dan Sunee agar kami bisa tinggal bersama. Tapi Sunee sudah nyaman dengan tempat tinggalnya yang sekarang dan dia tidak ingin pindah. Jadi kuputuskan untuk menyewakannya. Dan Nara lah orangnya. Tadi kau tanya kenapa dia yang mengantarku ? Begini,mobilku rusak. Mobil yang ayah berikan untukku tidak kupakai. Jadi aku menaruhnya di dealer. Entahlah karena apa mobil itu rusak. Mungkin karena jarang terpakai. Kantorku dekat,jadi aku lebih suka pergi dengan kereta bawah tanah atau bus jika terpaksa. Dan kenapa dia mengantarku….itu akan sangat panjang jika kuceritakan. Lagipula kau masih disini sampai minggu depan. Besok juga tidak masalah bukan jika aku menceritakannya padamu ?”panjang lebar Rere menjelaskan pada kakaknya itu.

“Mmm…baiklah kalau begitu. Ahh Nara,apa pekerjaanmu ?”Liam bertanya dengan logat inggris australia yang lekat seakan dia sudah lama tinggal di negara ini.

“Waaahhhh….bahasa inggrismu sangat bagus. Aku dengar kau lama di korea. Tapi sepertinya tidak berpengaruh bagimu. Ahh..maaf,aku jadi melenceng dari apa yang kau tanyakan. Mmm…aku bekerja di Internasional Bank of Australia yang berada di Sidney. Tugasku mengawasi dana ilegal suatu perusahaan. Hampir seperti dekektif bahkan seperti hacker juga menurutku. Karena aku berkutat dengan IP rahasia dan cctv serta data kepolisian yang sangat banyak. Bagaimana denganmu ?”Nara menjelaskan sambil sekali kali menyesap kopi di tangannya.

“Aahhh satu bidang dengan Rere..kalian pasti akan sering bertemu. Aku bekerja disetiap perusahaan yang mengelola nuklir. Aku lulusan teknik nuklir. Kerjaku hanya mengecek seberapa besar getaran nuklir setiap detik menit bahkan jam. Berhari-hari itu kulakukan. Bahkan kadang jika ada keadaan darurat maka tengah malam tegangan nuklir itu juga masih harus aku cek dan lihat perkembangannya. Cukup mudah namun melelahkan.”Liam menatap Nara penuh semangat.

“Benar..itu memang mudah. Tapi sangat rumit dan melelahkan. Sepertinya memang akhir-akhir ini kami akan sering bertemu, benar kan re ?”Nara menatap Rere dengan senyuman disudut bibirnya.

“Haahh ? Apa ? Ohh iya benar..kami akan sering bertemu. Nara sedang menyelidiki dana disetiap perusahaan di Sidney,termasuk perusahaanku. Dan itu tujuannya dia dikirim kemari.”Rere mengadah saat Nara melontarkan sebuah pertanyaan.

“Dikirim kemari ? Tunggu…wajahmu memang bukan wajah….mm kurasa kau bukan orang Australia asli. Darimana kau berasal ?”Liam menyipitkan matanya pada Nara seakan sedang menganalisis Nara dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ahhh…kau memang pandai dalam hal ini. Memang benar. Aku bukan orang asli Australia. Aku berasal dari Jepang. Tokyo. Tapi aku bukan orang jepang. Aku orang thailand…”Nara menatap mereka berdua yang seperti akan mengeluarkan kedua bola mata mereka karena sangat terkejut.

Rere yang semula hendak menikmati kopi ditangannya mendadak tersendak dan terbatuk-batuk berkali-kali.“Thailand ? Kau tinggal di jepang tapi kau orang thailand ?”Rere mengerutkan dahinya karena ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Benar,aku memang orang thailand. Perhatikan baik-baik mataku,kulitku,dan rambutku. Bukankahnya hampir sama seperti kalian berdua. Tidak mungkin ada orang jepang sepertiku.”Nara menunjukkan anggota badan yang telah ia sebutkan itu dengan telunjuknya.

“Tapi bagaimana bisa kau memiliki ayah ibu berwarganegaraan jepang jika kau orang thailand ?”kali ini Liam bersuara setelah tak bergeming selama beberapa saat.

“Panjang sekali jika kuceritakan sekarang. Dan aku harus pergi sekarang, aku ada rapat dengan anggotaku. Bisakah aku pergi ? Dan maaf karena aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Baiklah,aku pergi dulu. Sampai nanti.”Nara menyesap kopinya sekali lagi dan beranjak dari tempatnya duduk. Nara melambaikan tangannya dan melangkah pergi.

“Ahh baiklah. Sampai nanti.”Liam membalas lambaian tangan Nara dan kemudian berpaling menatap Rere yang tak menghiraukan kepergian Nara. “Ada apa denganmu ? Kau tidak menyalami kepergiannya ?”Liam menatap adiknya penuh curiga.

“Untuk apa ? Lagipula dia tetanggaku. Nanti juga bertemu saat sampai dirumah.”Rere menjawab kakaknya acuh.

“Lalu kita bagaimana ? Kukira dia juga akan mengantar kita pulang juga.”Kali ini Liam memperbaiki posisi duduknya agar menghadap Rere.

Menyadari posisi kakaknya yang memandangnya tak mengerti,Rere berpaling dan menatap kakaknya lurus-lurus. “Kak…kita akan pulang dengan Sunee. Tadi kau sendiri yang mengatakan akan menunggu Sunee disini. Jadi untuk apa dia mengantar kita pulang. Lagipula dia sibuk. Biarkan saja dia pergi.”

Kali ini Liam tak bergeming. Menyadari adiknya berkata yang sebenarnya Liam pun tak mampu menyangkalnya sehingga memilih diam. Liam memandang sekeliling kafe dan tatapannya terhenti pada sosok yang baru saja muncul dari balik pintu kaca besar. Mata Liam menyipit berusaha menajamkan penglihatannya. “Sunee….!!!!Kami disini.”Suara Liam memenuhi seluruh penjuru kafe dan sontak membuat Rere berpaling melihat kearah pandang kakaknya. Gadis yang merasa namanya disebut pun langsung mengalihkan pandangannya kearah kursi yang satu garis dengan pintu masuk kafe.

Sunee mengaduk-aduk isi tasnya mencari keberadaan ponselnya. Dia masih berada dalam mobil menuju bandara Kingford Smith. Dia membuka lock di ponselnya itu. Menatap layar ponselnya dan ada satu pesan singkat dari Rere.

Kau sudah sampai ? Hubungi aku jika sudah sampai. Ahh..tidak perlu. Aku dan kakakku menunggumu di kafe airport. Kau tidak keberatan bukan jika aku menunggumu disana ? Dan bergegaslah. Aku benar-benar bosan disini. Kakakku juga sepertinya begitu. Sampai nanti Sunee.

Sunee menutup ponselnya dengan lock dan melempar pelan ke kursi penumpang disampingnya. Dia memacu mobilnya agar segera sampai di bandara. Mencari tempat parkir yang sesuai dan keluar serta tak lupa mengunci mobilnya. Sunee berlari kecil kearah pintu masuk bandara. Membaca petujuk arah yang berada atas dan belok ke kiri kearah kafe aiport berada. Baru saja membuka pintu kaca besar Sunee sudah dikagetkan dengan suara lantang khas pria yang meneriakki namanya. Pandangan Sunee beralih kearah pria yang memanggilnya,pria yang tidak asing baginya. Sunee melangkah dengan langkah lebar setelah mengetahui orang yang memangilnya adalah Liam. Wajahnya berseri-seri. Sunee mendekat dengan senyumnya yang riang.

“Kak….” kali ini Sunee telah berdiri tepat didepan Liam.

Liam beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk erat tubuh Sunee. “Hai…kau merindukanku ?”Liam membisikkan kata-kata yang membuat tawa Sunee merebak.

Sunee melepaskan pelukan Liam dan menatap pria itu dengan senyumnya. “Kakak ini…tentu saja aku merindukanmu. Bagaimana mungkin tidak ?”wajah Sunee berseri saat Liam melontarkan kalimat itu.

“Sudah sudah…kalian tidak malu ? Semua orang disini memperhatikan kalian. Sunee duduklah.”Rere mulai bersuara.

Sunee memilih kursi tepat didepan Liam. Mereka pun mulai membicarakan hal-hal mengenai mereka berdua. Mereka terus bicara tanpa memperdulikan Rere yang bersama mereka. Kesal karena kehadirannya tidak dipedulikan oleh keduanya,Rere beranjak dari kursinya dan pergi begitu saja.

“Eh re, mau kemana ?”

Contoh cerpen tentang pelupa

Suatu pagi, saya bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 05.55 WIB. Sebelum berangkat, saya mempersiapkan terlebih dahulu semua yang harus dibawa hari ini. Maklum saja, saya itu orangnya pelupa. Saya seringkali lupa untuk membawa tempat pensil beserta isinya, buku, uang saku, dan yang lebih parahnya lagi saya pernah salah memakai seragam sekolah yang seharusnya tidak dipakai hari itu karena saya lupa hari. Dan itulah saya, tapi sekarang tidak separah itu.
Saya sangat ingat dihari itu saya pergi sekolah sendirian pada pukul 05.58 WIB. Orang lain pasti berkata saya sangat rajin,tapi tentu saja tidak. Saya berangkat pagi karena saya piket hari itu dan kebetulan saya memegang kunci kelas. Bicara tentang kunci kelas, alangkah cerobohnya saya, saat di perjalanan menuju sekolah saya merasa ada sesuatu yang saya lupakan, “Apa ya? ”gumam dalam hati. Dan saya pun ingat, langkahku terhenti seketika sambil berkata, “Ya ampun, kunci kelas tidak terbawa, bagaimana ini? “ berkata pada diri sendiri. Tanpa pikir panjang saya kembali pulang untuk mengambilnya.
Saat sampai dirumah, saya cari kunci itu dimana-mana, tapi tidak ketemu. Saya putus asa, saya tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, saya meminta bantuan kakak laki-laki saya, Kak Irja namanya untuk ikut membantu mencarinya. Tapi, responnya tidak seperti yang saya harapkan, saya menangis karena dia memarahi saya dan berkata “Kalau tidak mampu menjaga suatu barang jangan diterima, karena hal itu hanya akan membuat kamu sendiri susah. Sudah tahu pelupa, tapi masih saja menerima titipan itu, sebenarnya kamu bisa menolak, tapi kamu malah menerimanya, iya kan? “ ujar Kak Irja kepadaku. Aku tertunduk mendengar ucapan Kak Irja sambil merenungi hal yang sudah aku perbuat. “ Sudah, sekarang kamu berangkat sekolah, masalah ini kita selesaikan disana, kamu harus bertanggung jawab atas hal yang sudah kamu perbuat dan menerima apapun hasilnya, ok? “ ujar Kak Irja. “ Baik, Kak.”Jawab aku.
Aku berangkat sekolah sambil membayangkan hal yang akan terjadi. Sebelum masuk ke sekolah aku berhenti terlebih dahulu dirumah kakak perempuanku, Kak Erni namanya, yang tidak begitu jauh jaraknya dari sekolah. Aku merasa marah, kesal, dan kecewa pada diriku sendiri. Sambil mencuci mata, aku terus merenungi hal itu. Saat aku dirumah Kak Erni, dia tidak berkata sepatah kata pun, menyapa juga tidak, mungkin Kak Irja sudah menceritakan masalah ini kepadanya.
Selepas menenangkan diri dirumah Kak Erni, aku masuk ke gedung sekolah bersama Kak Irja untuk menemui wali kelasku dan menceritakan masalah yang telah aku buat. Alangkah senang dan terkejutnya aku saat mendengar bahwa ternyata ada kunci cadangan kelas yang selama ini dipegang oleh wali kelasku. Aku bersyukur kepada Allah SWT dan segera mencium tangan Kak Irja untuk segera lari menuju kelas. Sesampainya, temanku bertanya “Ucah, katanya kunci kelas hilang? kenapa bisa begitu?”. Ujarnya kepadaku. Sebenarnya dalam hati aku merasa sedikit kaget, kenapa bisa kabar ini menyebar sangat cepat. Aku berkata padanya “Mungkin tidak usah diceritakan, nanti juga kamu akan tahu.” Ujarku sambil tersenyum padanya dan segera masuk kelas untuk melaksanakan piket sebelum bel masuk berbunyi.
Contoh cerpen tentang Cinta

Suara itu lagi. Suara seseorang yang berlari sekencang yang ia bisa. Melewati semua lorong yang ada di bangunan yang sudah cukup tua itu. Keringat yang setetes demi setetes berjatuhan membasahi pelipis wanita itu, tidak mempan menghalangi langkahnya yang sangat cepat. Kini matanya telah menangkap siluet lelaki tinggi yang berdiri tegap sambil menggendong tas biru tuanya di lobi sekolah.
“Ya! Berhenti disituu !!” teriak wanita berkulit putih dan rambut hanya sepanjang bahunya. Lelaki itu menoleh ke asal suara yang sepertinya ditujukan kepadanya. Setelah langkah terakhirnya menggapai tempat lelaki tinggi itu, ia berhenti dengan keadaan membungkuk sambil mengatur nafasnya yang tersengol-sengol.
“Kau ada perlu apa denganku?” tanya lelaki itu langsung pada topik. Tanpa basa-basi wanita itu memasang ekspresi kesal.
“Haah?! Kau hanya bertanya?! Kau tidak lihat aku kini sedang kelelahan karna mengejarmu?!” protesnya sambil berdiri tegap dan menatap horor lelaki di depannya itu.
“I-iya, Bb-baiklah.” Respon singkat lelaki itu, malah membuat si wanita semakin marah dan pastinya kesal. Kini wajah si wanita semakin horor jika di pandang.
“Ehehe, responmu boleh juga…” nada si wanita kin terlihat seperti menerror lelaki tinggi itu. Karena kebingungan, cepat-cepat si lelaki memberikan sapu tangan dan botol minumnya ke si wanita.
“Ambil itu.” Tawarnya parau. Tanpa hitungan detik ekspresi si wanita berubah drastis menjadi sangat senang.
“NAH~ harusnya kau begini dari tadi!” ucapya angkuh sambil menepuk-nepuk punggung lelaki itu. Seperti seseorang yang tidak pernah minum bertahun-tahun atau bahkan mirip seekor kecoak yang kehausan.
‘Wanita ini memang benar-benar gila’ Benaknya sambil menatap ke arah lain guna menyembunyikan ekspresi jijiknya.
“Kau kenapa ?!” tanya si wanita insten dengan ekspresi seram.
“Ttt-tidak apa-apa” tangkasnya pelan sambil tersenyum dengan beribu paksaan. Setelah beristirahat cukup lama, wanita berambut panjang itu mulai menjurus ke topik yang ingin ia sampaikan.
“HA ?! KAU MENGHILANGKAN BUKU TUGASKU ?! HAAA?! ” entah kerasukan roh dari mana, aura lelaki itu semakin horror. Bak panah yang menusuk telinga lawan saat mendengar pernyataan si wanita.
>///////< [ Tokoh POV + Flash Back ] Yosh! Aku, Miyaza Tachibana kelahiran Jepang, sedang menetap di negara kelahiran ibuku. Yap, manalagi jika bukan Indonesia. Aku akan menghabiskan waktu SMP sampai SMA di negara orang yang menurutku lumayan indah. Namun, disaat aku baru menginjak kelas 3 smp, kabar buruk menimpa keluarga kami. Ayahku kecelakaan disaat sedang perjalanan menuju kemari. Beliau meninggal tenggelam di lautan yang aku sendiri tidak mengenali apa namanya. Karena kecelakaan itu, kesehatan ibuku semakin memburuk. Penyakitnya kembali kambuh. Aku kira, penderitaan ini hanya akan menimpa otoosan-ku saja. Untuk kedua kalinya aku menangis seperti orang gila, didepan nisan ibuku. Kenapa penderitaan ini terus saja menghampiriku? Kenapa Tuhan begitu tidak adil kepadaku? Kenapa harus aku? Berkali-kali aku bertanya namun tidak ada satupun yang menjawab. Serasa aku hidup di ruang yang benar-benar hampa. Akan tetapi hidupku berubah saat bertemu seorang lelaki yang aku rasa memiliki muka yang pas-pasan. Namanyapun tidak indah menurutku. Kenapa begitu? Karna aku sangat-sangat membencinya. Ia sangat menyebalkan! Tapi.. cukup baik. INGAT! Hanya cukup baik ya?! Aku tidak mengatakan lebih. Panji. Hanya itu yang aku ingat. Nama yang buruk bukan?! Hahaha, aku sudah menduganya. Karna aku hidup di negri orang sudah 3 tahun lebih, jadi aku sudah cukup mahir berbahasa Indonesia. [ POV END ] Miyaza kini duduk termenung sambil memandang langit biru yang terbentang luas. Terdapat sebuah buku diari komplit dengan kunci mungil diatasnya. Jdk–! “Hei, Miyaza. Kau sedang apa duduk sendirian disini he?” ucap Panji tanpa basa-basi sambil duduk di sampingnya. “ish!, Kau duduk bisa sedikit pelan tidak? Menyebalkan tau!” protes Miyaza sambil memalingkan pandangan. “Eleh, aku sudah terbiasa seperti ini. Susah jika harus menghilangkannya begitu saja bodoh!” bantah Panji dengan nada mengejek. Miyaza hanya terdiam sambil sesekali menggerutu tak jelas. Pandangan Panji terenggut oleh buku mungil bergambar beruang imut berwarna merah muda itu. Perlahan ia ingin mengambilnya. Plaak–!! Pukulan keras tepat mendarat di tangan Panji yang akan mengambil benda kecil itu. Ekspresi kesakitan yang tak tertahankan melekat pada wajah pirus lelaki di sampingnya itu. “YAK” teriaknya singkat lalu menyembunyikan tangannya ke perutnya sambil membungkuk tanda sedang menahan sakit. Bukannya menolong Miyaza malah tertawa lepas dan sangat puas melihat lawannya kini lemas tak berdaya. “Bukannya bertanggung jawab malah tertawa seperti penjahat! Kau ini…” gerutu Panji sambil masih menahan sakitnya. “Hahahaha~! Melihatmu seperti itu seperti melihat badut yang jatuh dari tiang listrik kau tahu? Hahahaha~!” Balas Miyaza sambil terus tertawa. “Sudahlah, hentikan ketawa anehmu itu” perlahan Panji menatap tangan lebamnya itu. “Kau memiliki kekuatan orang hutan mana bisa sekuat itu memukulku hingga lebam seperti ini?” lanjutnya seraya mengelus pelan tangan terlukanya itu. “ha….. orang hutan katamu….” Ya, saat ini ekspresi mengerikan itu terulang lagi. “Tidaaak, aku hanya bercanda! Aduh aduh, sakit sekali” Panji mulai mencari alasan. Tanpa mendengarkan alasan Panji, Miyaza berjalan menuju wastafel dan membasahi sapu tangan yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia berjalan ke tempatnya semula dan duduk di samping lelaki itu. “pfft, bawa sini tanganmu” ucap Miyaza seraya menawarkan tangannya sambil menatap Panji. Dengan tatapan agak ragu, perlahan Panji memberikan tangan terlukanya itu pada Miyaza. Ternyata Miyaza mengompres tangan merah itu dengan sapu tangan dinginnya. Panji terhenyak sejenak dan membulatkan matanya. “Ap-apa yang kau laku-” “Diam saja, Baka” potong Miyaza tenang sambil masih terus memegangi tangan lembek pria pirus itu. ‘ Baka ? apa itu, Baka? ‘ pikir panji setelah mendengar kata yang agak berbeda dari apa yang ia ketahui. Tanpa Panji sadari kini tangannya telah terplester dengan plester cepat berwarna biru dengan gambar bunga-bunga lucu. “Sebentar lagi luka itu akan sembuh. Jadi, jangan mengeluh seperti anak kecil” ujarnya pelan. Perlahan ia mengarahkan tangan Panji ke pipinya sambil terus memejamkan matanya. “Hee, Kau sedang apa sih?” tanya Panji kaget karena perlakuan aneh Miyaza. “Hanya meringankan rasa sakitnya.” Jawabnya singkat. Panji hanya diam terpaku melihat tangannya bersentuhan dengan pipi lembut wanita berambut panjang sebahu itu. Ia tersenyum. Namun, tak lama kemudian. Jdak-! “Iyyaak!” lirih keras Panji melihat tangannya yang terbanting di kursi dengan keras. “He?! J-jangan kau kira aku tadi… berbuat baik kepadamu.. aku-aku hanya reflek saja!! Ah sudah lupakan!!” kata-kata yang tergagap sambil ekspresi malu seperti seseorang menyatakan perasaan membuat wajah Miyaza tampak manis. Cepat-cepat wanita manis itu pergi berlari dari situ. ‘Kenapa dia begitu manis tadi? Atau hanya perasaanku saja?’ benak Panji sambil mengulang ekspresi Miyaza di pikirannya. “Hah? Ceroboh sekali meninggalkan barang pentingnya begitu saja.” Responnya menatap buku kecil dengan kuncinya. Perlahan ia memungut barang itu lalu kembali ke kelasnya. ‘Kriiinggg….! ‘ Bel berdering untuk ke 4 kalinya tanda waktu untuk mendiami sekolah telah usai. Panji berjalan menuju bangku Miyaza, bertujuan untuk mengembalikan barang pentingnya. “Miyaza, aku ingin-” “Ah sss—sudahlah, aku sedang tidak enak badan. Jadi bicarakan itu besok. Jaa ne!” potong Miyaza terburu-buru lalu berjalan cepat meninggalkan kelas. Sepertinya ia masih termakan rasa gugup karna tadi siang. Merasa tidak masalah, Panji kembali memasukkan buku mungil itu kedalam tasnya dan berjalan pulang. “Anak itu menyebalkan sekali. Membuatku gugup saja. Aku juga bodoh! Kenapa harus memperlakukannya seperti itu?!” gerutunya sambil terus berjalan hinga bertemu zebra cross. Disaat telah berada di tengah zebra cross, secara tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. “DIARIKU ?!” sepertinya ia baru sadar. Namun, Lampu yang awalnya merah, kini menjadi Hijau. Sebuah truk yang sepertinya lepas kendali itu berjalan sangat cepat dari arah lain dan kini menuju zebra cross dimana Miyaza berdiri dan baru akan berbalik untuk kembali ke sekolah. Namun, Na’as. ‘ Tiiin–! Tiiin—! ‘ suara bel yang cukup keras dari arah lain dan semakin mendekat, sangat dekat. Dan, BRUAK—! Suara benturan keras, aliran darah dan jeritan orang-orang kini menghiasi suasana duka di jalan itu. “Pusing… pusing sekali. Kepalaku serasa baru saja pecah. Apa aku akan mati?” Ia tergeletak lemah berlumuran darah di tengah zebra cross. Orang-orang yang panik langsung membawa gadis lemah itu ke rumah sakit terdekat. Esok hari. 09.00 WIB. Pagi. “APA ?” Panji membulatkan matanya setelah mendengar kabar pahit dari temannya. Tanpa pikir panjang ia berlari kencang menuju rumah sakit yang tadi dikatakan oleh temannya. “Apa yang kau lakukan hah sampai menjadi serumit ini! Dasar bodoh” Siapa yang tidak khawatir mendengar berita menyedihkan seperti itu?. Disaat Panji memijakkan kakinya di depan ruangan, ia membelalakkan matanya hebat melihat seorang gadis berambut coklat terbaring lemah dengan suntikan infus dimana-mana. Perban di kepala cukup mendominasi dari semua luka-lukanya itu. Perlahan pria itu duduk di sisi samping Miyaza sambil menggenggam erat tangan lembut gadis itu. Panji membelalakkan matanya kembali saat merasakan pergerakan pelan dari Miyaza. “Kau sudah sadar, hm?” tanya Panji sambil menuai senyum manisnya. Pelan-pelan, kelopak mata indah itu mulai membuka. Ia hanya bisa menangkap siluet buram awalnya. Namun lama kelamaan dunia serasa jelas kembali. “Aku dimana?” tanya Miyaza pelan. “Kau sedang di rumah sakit sekarang. Beristirahatlah.” Jawab Panji pelan sambil terus mengelus tangan lemah yang kini ia genggam. Seorang suster masuk ke dalam ruangan bersama seorang dokter untuk memeriksa kembali. “B-bagaimana dok keadaannya?” tanya Panji kepada sang dokter. “Untuk saat ini keadaanya diperkirakan membaik. Banyak-banyaklah beristirahat.” Jawab sang dokter lalu meninggalkan ruangan. Kini senyum puas yang Panji dapatkan setelah mendengar pernyataan do

kter. Ia kembali duduk dan menatap manik mata indah itu dan senyumannya sedari tadi tak padam-padam. “Cepat sembuh ya? Agar kau bisa memukuliku lagi seperti biasanya” ucap Panji menatap wajah Miyaza sambil tersenyum dan perlahan ia ketiduran dengan posisi duduk di samping Miyaza. “T-tapi, aku tidak bisa selamanya memukulimu dan ada di sisimu, Onii-sama” Tanpa Panji sadari ia sudah 4 jam tertidur di samping Miyaza yang terbaring. Miyaza yang setengah sadar itu hanya bisa diam tersenyum sambil menahan air mata yang sedari tadi sudah siap untuk meluncur turun membasahi pipi lembut Miyaza. Deg….. Miyaza merasa jika perutnya sangat amat sakit. Seperti tertusuk ribuan pedang saat berperang. Ia berusaha untuk tidak berteriak namun apa daya, ia tidak bisa menahan rasa sakit yang hebat. “AA!!” jeritnya keras hingga membuat Panji terbangun panik. Cepat-cepat ia berlari mencari dokter untuk menangani Miyaza. Kini, ia hanya bisa duduk terdiam menahan rasa sakit melihat seseorang yang berharga baginya tergeletak lemah sambil menahan penderitaan pahit. Tak henti-hentinya ia menangis seperti orang gila didepan ruang ICU. Berkali-kali memohon, berdoa agar tak terjadi apa-apa kepada Miyaza. Pikira yang hancur dan sudah tak terkontrol karna panik luar biasa yang pertama kali ia rasakan. 1 jam…. 2 jam….. 3 jam…. Ngiiik~! Seperti suara pintu yang tergesek. Dengan cepat-nya Panji menghujani dokter dengan ribuan pertanyaan yang sama. Deg.. Deg.. Deg.. 11 Maret 2015 Ng! Pria baka itu kok nyebelin banget sih ?aku benciiiiii banget. Benci yang tidak akan terkira ~ t—tapi, kenapa jantungku berdegup kencang saat bertatapan dengannya? Aaaaa!!! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria sebodoh diaaaa . aaa tidak tidak tidak ~! 29 juni 2015 Apa ini cinta ya? Hm, aku akui saja lah. Hoi Baka-sama~ aku menyukaimu loh! Keren kan? Cewek secantik aku bisa suka padamu. Tapi… bagai mana aku mengatakannya padamu? Pasti kau akan menertawaiku! Huh! Kau memang benar benar menyebalkan. Pertemanan gak buruk juga sih. Yaudah deh, lebih baik kupendam rasa cinta ini. >//<
05 Agustus 2015.
Oi cewek rese, bagaimana kabarmu disana? Apa kau baik-baik saja selagi di alam lain? Apa jangan-jangan kau bertengkar dengan setan cewe lainnya? Hahaha, aku bercanda. Oh iya, aku sudah membaca diari yang kau tinggalkan waktu itu. Sepertinya kita memiliki rasa yang sama. Tapi, pertemanan kita lebih penting daripada hal yang sementara dan tidak pasti itu. Aku harap, walaupun kau sudah pergi mendahuluiku, jangan lupakan aku ya? Haha, aishiteru Miyaza.

Demikianlah kumpulan contoh cerpen, semoga contoh cerpen ini dapat membantu anda dalam membuat cerpen

Loading...

About Author: FAJAR ASHAR

Gravatar Image
Saya FAJAR ASHAR, lahir di Bantaeng, 11 Agustus 1990. Saya pernah belajar di SDN 2 Lembang Cina Bantaeng, SMPN 1 BANTAENG, SMAN 2 BANTAENG, JURUSAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR dan sekarang melanjutkan MAGISTER di FISIKA UNHAS. Saya memiliki ketertarikan menulis di pengertian, kesehatan, manfaat, teknologi, game dan harga hp. Oleh karena itu pada situs ini banyak membahas hal tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed