Kisah Nabi Muhammad Saw: Perang Khaibar dan Fathu Makkah

loading...
Advertisement


Loading...

Kisah Nabi Muhammad Saw: Perang Khaibar dan Fathu Makkah | Perang Khaibar terjadi pada akhir muharram 7 H. Perang terjadi akibat ulah kaum Yahudi yang selalu mengganggu dan melanggar perjanjian dengan melakukan pembunuhan. maka Rasulullah mendatangi tempat mereka agar mereka kembali mamtuhi perjanjian dan tidak melanggarnya.

Ketika kaum muslimin datang kepada mereka, maka keluarah Marhab al-Yahudi: “siapa yang berani menantangku?” Rasulullah kemudian bertanya kepada para sahabat: “siapa yang mau menghadapinya”, maka majulah Muhammad Bin Maslamah ia berkata: “Aku ya Rasulullah… Demi Allah Akulah yang datang memenuhi tantangannya, mereka telah membunuh saudaraku kemarin”, Rasulullah kemudian memerintahkan kepadanya “Hadapilah! Ya Allah berikanlah perlindungan kepadanya” Dengan tegarnya Muhammad menyerang Marhab dan mendesaknya ke pohon yang membatasi mereka, sampai akhirnya ia terbunuh di tangan Muhammad Bin Maslamah.

Kemudian Yasir saudara Marhab kembali menantang, maka Zubair bin Awwam maju menghadapi tantangannya, Ibu Zubai, Sofiyyah binti Abdul Muthallib, sangat khawatir akan keselamatannya ia berkata :”APakah ia akan membunuh anakku ya Rasulullah?”, Rasulullah menjawab:”Anakmu yang akan membunuhnya Insya Allah”. Maka berlangsunglah perang tanding antar keduanya, dan berakhir dengan kematian Yasir. Berhari-hari peperangan berlangsung, Abu Bakar dengan tegarnya membawa bendera ke benteng-benteng Yahudi, hari berikutnya Umar pun demikian juga, lebih hebat mengamuk kepada Yahudi yang dzalim itu.

Dengan semangat membara dan keberanian kaum muslimin maju ke medan laga dan menghancurkan benteng musuh, hari berikutnya bendera berada di tangan Ali bin Abi Thalib. Dengan teriakan “Allahu Akbar” ia berhasil menjebol benteng musuh. Perang Khaibar akhirnya dapat dimenangkan oleh kaum muslimin.

kisah nabi muhammad

Fathu Makkah

Pada saat rasulullah membebaskan Makkah pada tahun 10 H. Beliau berangkat bersama 1400 orang kaum muslimin yang akan memasuki kota Makkah untuk melaksanakan haji pada tahun itu.

Semua orang yang pernah memusuhinya dihantui ketakutan yang luar biasa. Selama beliau berada di Makkah tidak kurang cacian dan makian bersarang di telinga Rasulullah, tidak kurang pula orang-orang yang membenci dan memusuhinya. Bahkan banyak pula di antara mereka yang menganiaya keluarga dan kaum muslimin, melemparkan kotoran ke muka beliau. Sehingga dengan kedatangan beliau ke Makkah membawa ribuan manusia mengundang kegetiran dan ketakutan luar biasa bagi penduduk Makkah. Apa yang akan beliau lakukan nanti untuk membalas keburukan-keburukan mereka terhadap Rasulullah. Abu Sufyan, mertua beliau sendiri adalah pemimpin kaum Quraisy yang sangat kuat memusuhinya.

Diiringi oleh para sahabatnya, ABu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat besar lainnya termasuk didalamnya Usamah bin Zaid. Dihadapan beliau mereka menyerukan:”Siapa masuk mesjid ini ia akan memperoleh keamanan (tidak diperangi), dan siapa yang tetap tinggal dalam rumahnya maka ia aman, begitupula siapa masuk rumah Abu Sufyan ia akan aman”. Dengan pernyataan itu Abu Sufyan menjadi sangat terharu sekaligus tersanjung. Bagaimana tidak Abu Sufyan adalah pembesar Quraisy yang menjadi musuh besar kaum muslimin. Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka rumahnya disamakan dengan masjidil Haram, dijadikan tempat perlindungan.

Disebabkan pernyataan itu, persaudaraan yang telah putus karena kekerasan bangsa Quraisy yang didalangi oleh pembesar-pembesarnya, Abu Jahal, Abu Lahab telah memutuskan persaudaraan itu. Dengan peristiwa ini cukuplah untuk mempersatukan persaudaraan yang renggang demikian lamanya. Dan peristiwa itu sangat membekas dalam hati Abu Sufyan sehingga dalam peperangan Yarmuk, setelah bertahun-tahun Rasulullah menutup mata, adalah Abu Sufyan yang selain menyerukan jihad mempertahankan agama Allah yang suci.

Setelah sampai ke dalam kota, berduyun-duyunlah orang-orang yang memusuhi kaum muslimin, setengahnya berkata: “Wahai orang yang budiman, anak orang budiman, apakah kiranya yang akan tuan lakukan kepada kami musuh-musuh tuan yang telah melawan dan mencaci maki tuan?”

Dengan tersenyum Rasulullah menjawab ” Hari ini telah habislah semua yang telah lalu, semoga Allah mengampuni kalian semua.. kalian merdeka”. Wajah-wajah kegembiraan, berseri-seri nampak di setiap wajah orang-orang makkah mendengar ucapan Rasulullah. Betap gembira hati mereka tak terperikan.

Sementara itu, seorang wanita dari Bani Machzum telah kedapatan mencuri. Fatimah bin Al-Aswad Al-Makhzumiyah terlibat dalam kasus pencurian karpet dan beberapa perhiasan. Timbullah tanda tanya apakah ampunan itu juga berlaku bagi hukum dan undang-undang Al-Quran?. Apabila Makkah telah taklk maka hukumannya adalah potong tangan. Mempertimbangkan hal itu orang-orang Makkah menjadi ngeri, karena belum pernah dilakukan hukuman yang sedemikian, melihatnya saja belum.

Mereka berharap wanita itu dapat diampuni pula. Oleh karena itu, beberapa diantara mereka menghadap Usamah bin Zaid yang selalu dekat dengan Rasulullah untuk membisikkan kepada beliau kalau-kalau dapat memberi ampunan terhadap wanita itu. Permohonan itu pun diajukan oleh usamah kepada Rasulullah dan memohon ampunan untuk wanita itu.

Demi mendengar permintaan Usamah itu muka Rasulullah berubah, Muka beliau merah melihat Usamah karena marah, beliau berkata: “Hai Usamah apakah engkau berani memintakan ampun kepadaku terhadap suatu perkara yang telah ada padanya hukum Allah yang pasti?”. Meskipun dalam hati kecil beliau tersirat perasaan untuk mengabulkan permohonan sahabat yang dicintainya itu, namun permohonan syafaaat bagi wanita yang dikenankan sangsi hukuman sebagai pencuri tetap harus dilaksanakan.

Usamah mengerti kesalahannya, ditundukkannya kepalanya seranya minta ampun kepada Rasulullah: “Ampunilah aku ya Rasulullah atas kelancanganku”.

Dengan kejadian itu maka jelaslah, bahwa yang diberi ampun oleh Rasulullah ketika itu, ialah segala permusuhan terhadap diri beliau dan umat islam selama ini, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Adapun terhadap pelanggaran hukum-hukum dan undang-undang Allah yang telah tertulis beliau tidak memberi ampun. Di depan hukum semua sama, tidak dibedakan berdasarkan status maupun kelas sosial. Hingga sebentar itu juga beliau berpidato:

“Sesungguhnya yang membuat kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena kebiasaan mereka yang membiarkan seorang pembesar melakukan kejahatan, mencuri misalnya. Tetapi apabila yang mencuri seorang yang lemah, di dijatuhi hukuman. Andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan dipotong tangannya”.

Kemudian Rasulullah melaksanakan haji Wada’ bersama kaum muslimin. Kemenangan mutlak diperoleh kaum muslimin tanpa ada pertumpahan darah setetespun. Semua orang bergembira dengan kebijaksanaan nabi yang penuh kasih sayang dan kehormatan. Banyaklah kaum kafir Quraisy yang membenci Rasulullah berbalik sangat cinta dan kasih kepadanya. Banyak orang kafir masuk ke dalam Islam karena sikap rasulullah itu.

Kemudian di Arafah beliau berkhutbah kepada kaum Muslimin, setelah menyampaikan salam dan memuji Allah, beliau bersabda:

“wahai umat manusia! Darahmu dan harta bendamu adalah haram dan sesuci hari ini, bulan ini dan kotamu ini. Perhatikan benar-benar bahwa semua adat dan kebiasaan zaman jahiliyah telah terinjak-injak di bawah kakiku, permusuhan berdarah masa lalu telah terhapuskan, dan yang pertama-tama aku menyerahkan klaim keluargaku mengenai putra Rabiah ibn Al-Harits ibn Abdul Muthalib, yang dipersusukan oleh Bani Saad ketika ia dibunuh oleh bani Huzail. Telah memusnahkan juga segala klaim kepentingan (riba) masa lalu, dan yang pertama-tama riba Abbas Bin Abdul Muthalib”.

“Wahai umat manusia! Takutlah kepada Allah mengenai hak Istri-istrimu. Kamu telah mengawini mereka dengan amanat Allah dan mereka menjadi sah bagimu hanya setelah menurut hukumNya. Hak khususmu atas mereka adalah bahwa mereka tidak boleh mengizinkan orang lain yang tidak diinginkan memasuki rumahmu dan duduk diatas ranjangmu, tetapi jika istri-istrimu itu melakukan kesalahan dalam masalah ini, maka kamu boleh menghukumnya dengan pukulan yang ringan. Hak khusus istri-istrimu atas dirimu adalah bahwa kamu harus memberi mereka pakaian dan makanan dengan murah hati sesuai dengan kemampuanmu”.

” Wahai umat manusia! Aku meninggalkan di belakangku sumber asli segala petunjuk dan bimbingan, jika kamu memegang kuat dan mengikut ajaran-ajarannya, maka kamu tidak akan pernah tersesat, Kitab Allah dan sunnahku”.

“Wahai umat manusia! Tuhanmu adalah satu dan nenek moyangmu juga satu, kamu semua adalah anak-anak keturunan Adam yang diciptakan dari tanah liat. Yang paling mulia di hadapan Allah diantaramu adalah yang paling bertakwa kepadaNya. Orang arab tidak lebih mulia dari orang non Arab ataupun orang non arab atas orang arab, begitu juga orang kulit putih tidak mempunyai keunggulan di atas orang kulit hitam ataupun orang kulit hitam di atas orang kulit putih, kecuali hanya berdasarkan ketakwaannya… Berhati-hatilah. Bukankah aku telah menyampaikan risalahNya. Ya Allah! Jadilah engkau saksinya.. Pada hari kebangkitan kelak ketika kalian ditanya tentang diriku: “Apakah aku telah menyampaikan Risalah Allah dengan sepenuhnya atau tidak?” maka apa yang kalian katakan?” Seluruh jamaah kaum muslimin menjawab dengan satu suara bulat: “Kami menjadi saksi bahwa engkau telah menyampaikan kepada kami seluruh petunjuk ilahi dalam cara yang sebaik mungkin dan telah memberikan kami nasehat yang paling bijaksana.

Sampai disini Rasulullah mengangkat jari telunjuknya ke atas langit lalu mengarahkannya kepada jemaah kaum muslimin seraya berkata: “Ya Allah! Walaupun begitu, jadilah juga engkau sebagai saksi! Aku telah menyampaikan risalah-Mu dan perintah-perintahMu kepada ummatMu, sebagaimana telah ditegaskan mereka.

About these ads
Kisah Nabi Muhammad Saw: Perang Khaibar dan Fathu Makkah | fajeros | 4.5