Kisah Nabi Muhammad dari Lahir hingga Wafat

loading...
Advertisement


loading...


Loading...

Kisah Nabi Muhammad Saw dari Lahir hingga Wafat | Inilah kisah nabi muhammad saw yang sangat menggemparkan dunia dan dianggap sebagai tokoh yang diluar dugaan akal manusia, karena telah berhasil membawa umat manusia dari kegelapan menuju kepada yang terang. Nabi Muhammad Saw adalah keturunan Bani Hasyim, anak ABdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi anaf bin Qusoy bin Kilab bin Murroh bin Kaab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Maaad bin Adnan. Adnan adalah leluhur utama bangsa Arab keturunan nabi Ismail as. Nabi Muhammad berasal dari suku Quraisy. Beliau dilahirkan di Makkah 12 Rabiul Awal pada tahun gajah (53 SH) bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Ayahnya adalah pedagang yang menjajakan dagangannya dari makkah ke Syam. Beliau adalah keturunan dari Bani Hasyim yang sejak lama mendapat kepercayaan untuk memegang kunci Kabah yang dimuliakan bangsa Arab sejak zaman nabi Ibrahim. Abdul Muthallib adalah ayah Abdullah yang sangat mencintai lebih dari saudara-saudaranya yang lain. Dalam perjalanan pulang menuju negeri Makkah Abdullah meninggal. Dan akhirnya beliau dikuburkan di Madinah.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Sejak dilahirkan nabi Muhammad telah menjadi Yatim. Aminah ibunya, melahirkan Nabi Muhammad tanpa kehadiran suami yang dicintainya, suaminya meninggal pada saat nabi Muhammad dua bulan berada dalam kandungan. Sebagaimana tradisi di Hijaz, selepas kelahiranya, ibunya menyerahkan susuannya kepada Halimatus Sadiyah dari Bani Saadah.

Kisah Nabi Muhammad dari Lahir hingga Wafat

kisah nabi muhammad

Kisah Nabi Muhammad Saw | Sejak kecil tanda-tanda kenabian Muhammad Saw telah ditampakkkan Allah. PAda masa kecilnya, anak Halimatus SAdiyah sedang bermain dengan Nabi Muhammad di padang pasir. Tiba-tiba saja Nabi Muhammad menghilang, dan anaknya melihat bahwa Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh malaikan dan dibersihkan hatinya. Setelah pulang ke rumah diceritakanlah apa yang terjadi kepada nabi muhammad.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Sadarlah Halimatus Sadiyah bahwa ia sedang mengasuh seorang putera yang istimewa. Dan sadarlah ia, mengapa peliharaan kambingnya selama ini berhasil dengan baik, memberikan susu dan tubuhnya gemuk-gemuk. Tentulah, karena Allah memberikannya kenikmatan atas perbuatan baiknya terhadap nabi.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Kemudian setelah 4 tahun lamanya, nabi Muhammad diserahkan kembali kepada ibunya. Pada usia 6 tahun (48 SH), beliau diajak oleh ibunya berziarah ke kubur ayahnya dan berziarah ke keluarganya dari Bani Adiy. Dalam perjalanan pulang ketika sampai di Abwa sebuah dusun yang berdekatan dengan Madinah, ibunya sakit dan tidak lama kemudian dalam perjalanan itu ibunya meninggal dunia.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Akhirnya, nabi Muhammad saw menjadi yatim piatu di usia yang sangat kecil. Oleh karena itu Abdul Muthallib, kakeknya menjadi pengasuhnya yang setia setelah ditinggalkan oleh orang tuanya. Dalam masa-masa itu beliau menjadi penggembara kambing milik kakeknya. Namun rupanya usia Abdul Muthallib semakin tua dan sudah mendekati ajalnya, Abdul Muthallib wafat pada saat usianya 8 tahun (46 SH), sebelum wafat beliau menyerahkan nabi Muhammad kepada Abu Thalib untuk diasuhnya sebagai anaknya sendiri.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Abu Thalib menjadi pengasuh setia bagi Nabi Muhammad, diajaknya beliau berdagang ke Syam. Dilewatinya perjalanan dagang yang telah dilewati ayahnya, dan menikmati perjalan itu dengan membuktikan cerita-cerita orang yang telah didengarnya. Ditengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang Rahib Buhaira yang bernama nastur, melihat tanda-tanda kenabian padanya, bahwa akan datang suatu hari kelak para pedagang dari arah selatan yang akan membawa seorang anak yang akan menjadi Nabi akhir zaman, lalu ia berkata kepada Abu Thalib:”Sesungguhnya anak ini akan memiliki urusan besar”.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada masa kecilnya, nabi juga menggembalakan kambing sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, untuk menempa dirinya melihat alam yang luas membentang, langit yang terbuka dan alam sekitarnya untuk ia renungkan sejak masa kecilnya.

Masa Dewasa

Kisah Nabi Muhammad Saw | Dari waktu ke waktu akhirnya, Nabi Muhammad tumbuh menjadi pemuda dewasa. Beliau bekerja kepada Khodijah binta khuwailid seorang saudagar wanita terkaya di Makkah. Sebgai orang baru yang mendapat kepercayaan. Khodijah mengutus bersama beliau Maysarah untuk menyertainya dalam perjalanan dagang itu. Beliau melewati perjalanan dagang yang kedua kalinya menuju Syam.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Dan apabila beliau telah selesaikan tugasnya, dagangan beliau laku dengan keuntungan besar. Bahkan Maysarah menceritakan hal-ihwalnya dalam perjalanan dagang bersamanya. Ia menceritakan bahwa apabila ia berangkat di siang hari maka dilihatnya awan mengiringi perjalanan mereka dan memberi keteduhan kepada mereka.

Lama kelamaan, salutlah Khodijah dengan kejujuran dan budi pekerti Nabi Muhammad yang saat itu berumur 25 tahun. Maka dinyatakanlah oleh Khadijah keinginannya untuk meminta Nabi Muhammad menjadi suami baginya. Sedangkan khodjah saat itu berumur 40 tahun. Saat keinginan Khodijah disampaikan kepadanya, beliau mengatakan tidak memiliki apa-apa untuk perkawinan. Maysarah mengatakan bahwa Khodijah memintanya untuk menjadi suaminya. Maka akhirnya menikahlah beliau dengan Khodijah dengan selisih umur yang cukup jauh (28 SH/ 595 M).

Perkawinan beliau dengan Khodijah membuahkan anak-anak: Qosim, Ruqayyah, ummi Kultsum dan Fatimah, yang kesemuanya wafat kecuali hanya satu saja yang hidup, yakni Fatimah.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada usia Nabi 35 tahun terjadilah kesepakatan bangsa Quraisy untuk membangun Kabah. PAra bangsawan Quraisy mulai mencari pengaruh dan berebut simpati dari masyarakat untuk menjadi orang pertama yang meletakkan pembangunan itu. Tarik-menarik kepentingan itu telah membuahkan perselisihan antar suku yang akan memicu peperangan antar suku-suku Arab yang menghormati kabah itu. Dan disepakatilah oleh suku-suku itu untuk membuat perjanjian bersama, menyepakati yang akan meletakkan batu pembangunan pertama kabah itu. mereka sepakat untuk menunjuk orang yang paling pertama kali masuk ke mesjid adalah orang yang berhak pertama kali meletakkan batu pertama pembangunan Ka’bah itu.

Bila tiba saatnya, ternyata Nabi Muhammad adalah orang yang pertama masuk ke dalam masjid itu. Sehingga secara jujur dan adil diakui beliaulah orang yang berhak untuk memimpin pembangunan itu.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Bila tiba saatnya, beliau memanggil seluruh kepala suku untuk menyaksikan pembangunan ini. Diletakkannya Surban diatas tanah dan ditaruhnya Hajar Aswad ditengahnya, masing-masing kepala suku untuk memegang ujung surban itu untuk dibawa ke kabah. Lalu Nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad ditempatnya. Dengan demikian pupuslah permusuhan antar suku dengan kebijaksanaan Nabi Muhammad yang sangat adil itu. Dan menjadi terkenal di tanah Hijaz dan mendapat gelar al-AMien karena kejujuran dan kepandaiannya memengang amanh.

Masa kenabian

Setelah kejadian itu, bertahun-tahun berikutnya, Nabi Muhammad sering melakukan tahannuts (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah) di sebuah gua yang bernama Gua Hira. Gua tersebut sangat sulit didaki sehingga jarang ada orang yang mendakinya.

Selama bertahun-tahun beliau bertahannuts di gua itu. Sampai suatu malam, pada waktu usianya 40tahun. Datanglah Malaikat memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi Rasul dan ALlah mewahyukan kepadanya lima Ayat Alquran yang pertama di Gua Hira itu.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang telah menciptakanmu. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq 1-5).

Kisah Nabi Muhammad Saw | Nabi Muhammad sangat gugup menerima wahyu itu, dan berulang-ulang malaikat Jibril memerintahkan kepadanya untuk membaca. Sampai akhirnya dieja bacaannya satu demi satu, hingga sempurna bacaan itu. Kemudian nabi Muhammad pulang ke rumahnya. Khodijah amat terkejut melihat suaminya menggigil dan badannya basah oleh peluh keringatnya. Beliau minta Khodijah menyelimutinya. Dan tiba-tiba Malaikat Jibril kembali datang kepadanya.

Diriwayatkan oleh Abi Salmah bin Abdurrahman bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku berdiam diri di Gua Hira. maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku liha kemuka, kebelakang, ke kanan dan kekiri. Lalu aku lihat ke langit tiba-tiba aku melihat Jibriel yang amat menakutkan. Maka kau pulang ke Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Merekapun menyelimuti aku, Lalu Allah menurunkan:”Wahai orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh balasan) yang lebih banyak” (QS Al-Muddatsir 74:1-6).

Kisah Nabi Muhammad Saw | Ketika Waraqah bin Naufal mendengar tentang kisah nabi, dengan wahyu yang turun padanya, Khadijah telah memapahnya ia memegang dadanya, ia berkata: “Ini adalah Namus yang diturunkan Allah pada Musa, semoga aku dapat hidup ketika kaummu mengusirmu”, ia berkata:”Mengusir mereka?” ia berkata: “Ya tak ada seorang pun yang semisal dengan apa yang akan datang padamu kecuali ia akan disakiti, apabila aku tahu apa yang diperbuat oleh kaummu aku akan tolong engkau dengan sekuat tenaga”. Belum sempat Waraqah menolongnya, ia telah wafat terlebih dahulu. Sejak saat itu, maka Nabi Muhammad menyeru kepada kaumnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan berhala. Beliau mulai dengan menyeru kepada Khodijah yang langsung beriman kepadanya. Kemudian Ali dari golongan anak yang paling kecil, kemudian Abu Bakar dari golongan sahabatnya, kemudian Zaid bin Haritsah dari kalangan budak.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Dakwah Nabi ketika itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak secara terang-terangan. Sampai kaum muslimin berjumlah 40 orang, yang kemudian disebut sebagai Assaabiqunal awwaluun, barulah Nabi Muhammad memulai dakwahnya secara terang-terangan.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (QS. Al-Hijr 15:94).

Dengan tersebarnya Islam, maka naik pitamlah pembesar-pembesar Quraisy yang merasa tersaingi oleh Nabi Muhammad. Bahkan paman-pamannya sendiri seperti Abu Jahal dan Abu Lahab adalah orang-orang yang paling membencinya. Rasulullah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa,  Yang menciptakan langit dan bumi, yang mempertukarkan siang dan malam, dan meninggalkan berhala-berhala mereka, dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Ketika diturunkan ayat:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat, kerabatmu yang dekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS. As-Syuaraa 26:214-215)

Rasulullah kemudian datang ke bukit Shofa, beliau menyeru:”Kemarilah kalian, hai Quraisy!” orang-orang kemudian berkumpul dan ia berkata: “Apakah kalian percaya apabila aku katakan kepada kalian bahwa musuh akan menyerang kalian baik pagi ataupun sore, apakah kalian percaya kepadaku?”

Kisah Nabi Muhammad Saw | Mereka menjawab:”Ya, kami tidak pernah melihat anda berbohong?”, beliau melanjutkan:”Maka aku datang kepada kalian menjadi pemberi peringatan akan datangnya siksa yang amat pedih”. Demi mendengar itu, amat berangnya Abu Lahab Ia berkata:”Celakalah engkau Muhammad! APakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?”. Kemudian Nabi Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril untuk menyatakan kepadanya:

Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan celaka. Tidak akan berguna hartanya dan apa yang dia perolehnya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitupula ) isterinya pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut”. (QS. al-Lahab 111:1-5)

Setelah kejadian itu, maka kaum muslimin semakin dipinggirkan, dan selalu dicaci maki, dicemooh bahkan disiksa karena keyakinannya. Nabi Muhammad sendiri tidak kurangnya dihina, bahkan dilempari kotoran binatang.

Tahun kesedihan.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Siksaan demi siksaan terus ditimpakan kepada kaum muslimin. Sampa suatu saat kaum muslimin sangat terdesak akibat shahifah diatas kabbah yang mengisolasi Bani Hasyim dan kaum muslimin. Sehingga memaksa kaum muslimin untuk berhijrah pertama kalinya ke Abissynia. Kekejaman kaum kafir Quraisy tidak berhenti sampai disitu, mereka terus melakukan penyiksaan terhadap kaum muslimin sampai mereka mau murtad dari imannya. Namun tetap saja mereka bertahan dan sabar menghadapi ujian-ujian itu. Walaupun berat ujian yang dirasakan mereka, namun tiada surut jua keyakinan yang telah terpatri, Allah menyelamatkan mereka dari penyembahan berhala dan tuhan-tuhan mereka yang tidak memberi manfaat dan mudharat sedikitpun. Mereka beriman kepada Tuhan nabi Muhammad dan Tuhan bapak-bapaknya Ismail an Ibrahim As.

Abu Thaliblah orang yang terus membela nabi Muhammad dari kecaman-kecaman dan ancaman orang Quraisy selama berdakwah di Makkah. Dan istrinya, Khodijah, dialah saudagar kaya yang terus membela keberadaan kaum yang beriman di Makkah.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Dengan segala kemampuannya, Khodijah terus memberikan pertolongan kepada Bani Hasyim dan kaum muslimin yang diisolasi oleh kaum Quraisy. Kaum Quraisy dilarang berdagang dnegan itu benar-benar menyiksa kaum muslimin. Khadijah, tampil menjadi orang utama dalam membela mereka. Namun sekuat apapun pertolongan Khadijah terhadap mereka, ia tidak dapat menolak takdir, ajal pun semakin dekat kepadanya. Sehingga Khodijah wafat tahun 10 kenabian (3 SH/ 619 M). Betapa sedihnya, hati rasulullah atas wafatnya Khodijah, dialah istri yang sangat setia kepadanya di dalam keadaan duka kecuali ia berada di sampingnya. Tiada pula keluh kesahnya, ketika beliau dicaci-maki, dilempari kotoran, dihina orang-orang, kecuali ia datang kepadanya untuk menghibur Rasulullah. Oleh sebab itu, sebagai manusia biasa, kesedihan itu terasa pula menyentuh kalbunya.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Sementara itu, berbagai upaya dilakukan oleh Quraisy untuk melunakkan hati nabi Muhammad. Abu Thalib diperintahkan pemuka-pemuka Quraisy untuk menyampaikan pesan kepada nabi untuk meninggalkan agamanya dan berhenti mengajak orang-orang untuk beriman kepada Allah. Mereka berjanji: “Apabila ia menginginkan harta, maka akan kami berikan harta yang banyak kepadanya, sehingga ia meninggalkan agamanya, apabila ia menginginkan jabata, maka akan kami berikan kepadanya jabatan yang tinggi di antara kaum Quraisy asal ia berhenti berdakwah dan jika ia menginginkan seorang wanita maka akan kami berikan padanya wanita tercantik dari kaum Quraisy untuk dijadikan istrinya demikian bunyi pesan mereka.

Nabi Muhammad dengan tegas menyatakan kepada pamannya saat itu: “Demi Allah wahai pamanku! Seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini maka sama sekali tidak akan lakukan! Sampai aku hancur karenanya!”.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Abu Thalib bin Abdul Muthalib adalah paman nabi yang amat dicintainya. Abu Thalib selalu melindungi nabi setelah kakeknya wafat. Ketika ajal menjemputnya, pada tahun yang sama dengan wafatnya Khodijah, rasa kesedihan nabi terbaca dari raut wajahnya. Ketika Abu Thalib dalam keadaan sekarat, Rasulullah menemuinya. Dan di sebelahnya (Abu Thalib) ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Maka kata Nabi:”Pamanda, ucapkanlah laa ilaaha illallaah karena dengan kalimat itu kelak aku dapat memintakan keringanan bagi paman di sisi Allah. Abu Jahal dan Abdullah berkata: “Abu Thalib. APakah engkau sudah tidak menyukai agama Abdul Muthallib?” Kedua orang itu terus berbicara kepada ABu Thalib sehingga masing-masing mengatakan bahwa ia tetap memintakan ampunan bagimu selama aku tidak dilarang berbuat demikian, maka turunlah ayat:

“Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi yang musyrik” (QS. at-Taubah 9:113).

Bertambahlah kesedihan nabi dengan meninggalnya dua orang yang sangat disayanginya, sehingga tahun ini disebut dengan aamul huzni atau tahun kesedihan.

Isra Mikraj

Setelah tahun-tahun itu nabi Muhammad mengalami kesedihan, sebagaimana seorang manusia, kesedihan itu tampak pada diri Rasulullah.

Kemudian datanglah peristiwa yang menghibur Rasulullah, pada tahun 12 kenabian Allah mengangkatnya ke langit tujuh, sebagaimana diabadikan al-Quran dalam surat al-Isra ayat 1-2:

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya Pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Maha mendengar dan Maha Melihat. Dan telah kami berikan kepada Musa sebuah kitab dan kami jadikan sebagai petunjuk bagi Bani Israil”.

Ayat tersebut menunjukkan pertalian nabi dengan nabi-nabi sebelumnya yang diutus Allah ke muka bumi, sebagaimana telah tertulis dalam Taurat dan injil bahwa akan ada seorang nabi akhir zaman yang menjadi penutup para nabi.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada saat itulah, kesedihan beliau pupus dengan peristiwa yang membesarkan hati beliau. Tetapi tidak berarti cobaan yang dihadapi nabi telah selesai. Bahkan setelah mendengar kejadian itu kaum kafir Quraisy semakin mengejek dan menghina nabi dengan menyatakan bahwa ia telah menjadi pembohong dan pendongeng. Bahkan ujian keimanan itu telah menimpa pula pada sebagian sahabat yang ragu dengan perjalanan israk dan mikraj nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratul Muntaha.

Saat itu Abu Jahal yang masuk ke Kabah bertanya kepada Nabi untuk mengejeknya:”Apakah malam tadi kabar baru kepadamu?”. Maka rasulullah menganggkat kepalanya dan menjawabnya:”Ya, aku telah diperjalankan malam ini dari Baitul Maqdis ke Syam”, maka berkatalah Abu Jahal mengingkarinya:”Bagaimana mungkin, sedangkan pagi ini engkau berada disini”, nabi menjawab dengan pasti:”Ya”.

Kisah Nabi Muhammad Saw | Maka berteriaklah Abu Jahal kepada kaum Quraisy layaknya orang gila, sedangkan nabi belum menyampaikan berita tersebut kepada para sahabatnya. Maka berkumpullah orang-orang di Kabah dan dihasutnya semua manusia untuk mendustai nabi. Maka bertanyalah salah seorang dari kaum muslimin bertanya kepada Rasulullah: “Benarkah, engkau telah diperjalankan malam tadi, Ya Rasulullah?”, nabi menjawab:”Ya , dan aku sholat bersama saudara-saudaraku para nabi disana”. Maka berkembanglah pemberitaan yang bercampur dengan hasutan Abu Jahal. Sehingga adapula beberapa kaum muslimin yang terbujuk hasutan mereka.

Hanya Abu Bakar yang secara tulus dan berani menyatakan “Kenapa kalian jadi putus asa? … sesungguhnya aku percaya kepadanya lebih dari itu… aku percaya kepadanya dalam kebaikan langit yang datang padanya siang maupun malam” kemudian ia berkata dengan tegas: Kalau itu yang dikatakannya, maka ia benar” Keberanian dan ketulusan Abu Bakar inilah yang memperkuat sahabat sehingga tidak berarti lagi ejekan dan hinaan kaum kafir Quraisy terhadap mereka.

Dan kaum muslimin semakin kuat imannya, dan semakin lama semakin berkembang. Ada saja satu dua orang yang masuk Islam, sehingga menambah berang kaum Quraisy. Siksaan demi siksaan terus dialami oleh orang-orang yang beriman.

Masa Hijrah

Kisah Nabi Muhammad Saw | Akhirnya, kabar Islam semakin luas terdengar sampai di Madinah. Suatu saat datanglah 10 orang Madinah kepada Nabi Muhammad menyatakan diri masuk Islam dan mereka berbaiat kepadanya untuk setia dan menjalankan ajaran Islam sebaik-baiknya. Terjadilah janji setia mereka dibawah pohon, mereka dibaiat yang kemudian dikenal dengan Baiat Aqabah I. Kemudian pada tahun berikutnya datanglah 70 orang Madinah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan menyatakan diri masuk Islam dan berbaiat kepadanya untuk setia dan menjalankan ajaran Islam dengan baik dan benar, dan disebutlah peristiwa itu dengan Baiat Aqabah II.

Kaum kafir Quraisy pun semakin mengetatkan penyiksaan terhadap kaum muslimin. Dan pada saat, siksaan itu semakin menjadi, Allah mengizinkan kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Sementara Rasul masih tetap berada di Makkah.

Pada hari sabtu, terjadi pertemuan di Darun Nadwah, yakni di rumah Qusoi bin Kilab, para kafir Quraisy merencanakan untuk membunuh nabi dan sepakat untuk merahasiakan rencana tersebut. Mereka memerintahkan setiap suku untuk memukul dengan pedangnya, sehingga suku Abdi Manaf tidak akan dapat meminta tanggung jawab mereka, karena seluruh suku telah membunuhnya. Dan ditentukanlah saat persekongkolan kafir Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad.

Setelah mendapat wahyu dari Allah, Nabi kemudian memanggil Abu Bakar untuk segera berangkat ke Madinah sementara Ali Bin abi Thalib yang masih muda diperintahkannya untuk tidur di kasurnya. Di saat malam keberangkatannya ke Madinah, semua pemuda-pemuda yang tangguh dan kuat telah mengepung rumahnya untuk membunuh Nabi Muhammad.

Rasulullah kemudian keluar dari rumahnya dengan menaburkan pasir dan membaca ayat-ayat al-QUran.

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan dari belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak melihat sama sekali” (QS. Yasin 36:9).

Ketika mereka semua bangun, mereka bertanya-tanya, mana dia? Mana dia? Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Didatangi kamar tidur beliau. Mereka menyangka bahwa nabi Muhammad sedang tidur. Ketika disingkapnya selimut itu, ternyata Ali bin Abi Thalib yang tidur di kasur itu. Sadarlah mereka bahwa Nabi Muhammad telah pergi hijrah.

Nabi Muhammad bersama Abu bakar berangkat ke Madinah, dan beliau berhenti di Gua Tsur dan menaiki bukit itu. Kaum kafir Quraisy dijanjikan hadiah bagi siapa yang menemukan Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya, mereka segera menyusuri jejak-jejak yang dilewati Nabi bersama Abu bakar. Tidak kurang para ahli pesiar yang sering berjalan di padang sahara iku serta bersama mereka.

Namun sayang mereka tidak menemukan Nabi Muhammad Juga. Jejak kaki itu terhenti di sebuah gua Tsur, dimana Nabi Muhammad dan Abu bakar berada didalamnya. Namun mereka tidak yakin beliau ada ditempat itu, karena gua itu telah ditutupi oleh sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi pintu gua itu. Mana mungkin ada ditempat itu? Apabila ia ada didalamnya tentulah sarang laba-laba itu akan rusak dan sarang burung itu akan rusak. Dengan berkat rahmat Allah, maka sampailah Nabi Muhammad Saw di madinah dengan selamat. Kaum Muhajirin dan Anshor menyambut mereka berdua dengan sangat gembira, berduyun-duyun penduduk Madinah melihat ke arash Tsniyatil Wada’. Dan dengan rebana dari kulit binatang mereka membacakan syair:

Telah datang kepada kami bulan purnama

Dari arah Tsaniyatil Wada

Wajiblah kita bersyukur

Selama Tuhan mengurus Rasul kepada kita.

Sesampainya Nabi Muhammad saw di Madinah beliau mendirikan mesjid yang pertama yaitu Masjid Quba 5 km barat daya dari Masjid Nabawi. Dan beliau mempersaudarakan antara kaum Anshor yang berasal dari kaum muslimin Madinah dan Muhajirin yang berasal dari kaum muslimin Makkah. Selain itu beliau juga membuat piagam perjanjian antar suku-suku di Madinah untuk saling menghargai, saling menghormati, saling memiliki rasa senasib dan sepenanggungan dan memelihara perdamaian. Piagam tersebut dikenal dengan nama “Konstitusi Madinah”. Sejak saat itu berdirilah pemerintahan Islam yang pertama untuk memberikan perdamaian kepada seluruh manusia.

Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor

Pada suatu hari terjadi perkelahian antara seorang muda Muhajirin, dengan seorang pemuda Anshor budak orang Muhajirin itu bersorak-sorak. “Hai Muhajirin” Budak Anshor berteriak pula “Hai Anshor”.

Keributan ini hampir saja menjadi besar, kedua belah pihak telah bertentangan. Syukurlah Rasulullah segera mendapat kabar tentang kejadian ini ketika ia sedang duduk didalam rumahnya.

Beliau tegak dan pergi ke tengah-tengah orang yang bertengkar itu, dengan suara yang keras beliau berkata “Apakah kamu semua hendak kembali ke zaman jahiliyah?”

Mereka menerangkan asal-muasal perkelahian itu sampai kedua belah pihak menyorakkan “Hai Muhajirin” dan “Hai anshor”.

Mendengar itu Rasulullah berkata : “Tidak boleh lagi perkataan yang demikian itu diulang-ulang kembali karena perkataan itu sudah basi” Kedua pemuda yang bertengkar itu didamaikan oleh Rasulullah, sehingga keadaan tenang dan aman kembali.

Kabar kejadian ini terdengar oleh Abdullah bin Ubai.

“Ah inilah suatu peluang yang baik untuk menghasut” pikirnya. Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang dapat dipengaruhinya dari kalangan penduduk Madinah bahwa orang-orang Muhajirin telah memukuli anak-anak kita. Mereka leluasa berbuat semau-maunya di dalam negeri kita, padahal mereka menumpang. Tak ubahnya dengan kaum muhajirin ini seperti pepatah orang tua “Sammin kalbaka yakulka (Gemukkanlah anjingmu supaya engkau dimakannya). Bodoh benar tuan-tuan ini, tuan-tuan serahkan diri kepada mereka, tuan-tuan berikan negeri tuan untuk mereka diami, tuan-tuan berikan mereka kartu tuan-tuan, bukankah lebih baik kemurahan ini dihentikan saja, supaya mereka boleh pindah dari negeri ini? Begitu pemurah tuan-tuan sehingga tuan-tuan lebih suka mati lantaran membela Muhammad dan Muhajirin itu, anak-anak tuan menjadi yatim, tuan-tuan menjadi punah, sedang mereka bertambah banyak dan berkembang biak disini.

Seorang bernama zaid bin arqam demi mendengar perkataan itu segera menyampaikan kepada Rasulullah. Didalam majlis itu, adapula Umar. Bukan main marah Umar mendengar perkataan itu, lalu ia berkata kepada Rasulullah: “Biar hamba potong lehernya ya Rasulullah”, “Jangan Umar”. Kata Rasulullah “Bagaimana kelak kata orang? Akan orang katakan Muhammad itu membunuh sahabatnya”.

Setelah kejadian itu, Rasulullah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor di rumah Anas bin Malik. Sebanyak 90 orang berkumpul dirumah itu. Setengahnya orang-orang Muhajirin dan setengahnya orang-orang Anshor. Rasulullah kemudian mempersaudarakan mereka, orang-orang Anshor mewariskan sebagian hartanya kepada orang-orang Muhajirin. Dan turunlah Ayat:

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari nabi mereka sendiri (maksudnya lebih mencintai nabi dari dirinya dalam segala urusan) dan isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain berhak (waris mewaris) didalam kitab Allah daripada orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik (maksudnya berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta) kepada saudara-saudara mu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam kitab (Allah) . (QS. Al-Ahzab 6).

Kemudian dihapuskanlah warisan kepada rahim tanpa aqad ukhuwah (persaudaraan muslim). Konon Muhajirin ketika datang ke madinah mewariskan kepada Muhajirin dan Anshor tanpa keluarganya, untuk mempersaudarakan yang dipimpin oleh nabi antar mereka. Maka Abu Bakar disaudarakan dengan Kharijah Bin Zaid, Umar bin Khattab disaudarakan dengan fulan, Usman bin Affan dengan laki-laki dari Bani Zuraiq bin Saad az-Zarqie, Zubair bin Awwam dengan Kaab bin Malik.

Dan Rasulullah telah mempersaudarakan muhajirin dan Anshor untuk yang kedua kalinya kemudian ia mengambil Ali sebagai saudaranya dan yang pertama tetap, dan kaum muhajirin saat itu membutuhkan sekali persaudaraan islam, persaudaraan rumah, pendekatan nasab selain Muhajirin dan Anshor, kalau mereka dipersaudarakan dengan Muhajirin, maka orang yang paling berhak dengan persaudaraan orang yang paling dicintai Rasulullah dan kawannya dalam hijrah, Abu Bakar adalah orang yang paling utama, “dan ia berkata: “Kalau aku menjadikan atau memilih salah seorang penduduk bumi menjadi teman maka aku jadikan Abu Bakar sebagai kawan, bahkan persaudaraan Islam lebih utama”.

Maka mereka pun menjadi saudara yang merasa senasib sepenanggungan, mereka adalah saudara di waktu suka maupun duka. Islam membuka persaudaraan seluasnya kepada kaum yang dahulu tidak saling mengenal. Dengan hal ini mereka seperti anak panah yang bersatu dalam satu busur. Mereka tidak melihat lagi perbedaan antara Anshor dan Muhajirin. Yang ada pada mereka adalah Islam untuk disebarkan kepada seluruh manusia, untuk membebaskan mereka dari tirani kedzaliman dan membawa mereka kepada peradaban dunia yang bermoral.

Perang Badar

Keberadaan kaum muslimin di Madinah telah mengundang kemarahan besar bagi kaum kafir Quraisy di Makkah. Mereka berang dengan kegagalan kaum Quraisy membunuh nabi sebelum keberangkatannya ke madinah, dan kegagalan mereka mencari jejak nabi di padang pasir antara makkah dan Madinah yang berjarak kurang lebih 500 kilometer. Kedengkian mereka terhadap nabi terus berkobar laksana api tak padam sebelum petunjuk Allah menyirami mereka. Mereka berketetapan hati untuk membunuh nabi dan pengikutnya agar Islam tidak berkembang di Madinah.

Setelah Rasulullah Hijrah ke Madinah, beliau mulai menyusun strategi, Rasulullah emerintahkan kepada kaum muslimin untuk menghambat kaum Quraisy yang pulang dari berniaga dari Syam. Beliau menyerahkan pimpinan kepada Hamzah sebagai panglima.

Mereka mengumumkan perang terhadap kaum muslimin. Di bawah pimpinan Abu jahal pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang berangkat menuju Madinah. Sementara kaum Muslimin yang berjumlah 313 orang dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib menyambut kedatangan mereka diluar kota Madinah yang disebut dengan daerah Badar.

Maka terjadilah perang pada hari jumat tanggal 17 Ramadhan tahun ke 2 H. Allah mewahyukan kepada nabi bahwa Allah akan menurunkan bantuannya bagi nabi QS. Al-Anfal 9:”Bahwa aku akan menambahkan jumlah kalian dengan seribu malaikat yang akan membantu kalian: Dalam ayat lain QS. Ali Imran 124: “Ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman bahwa Allah akan mencukupkan kalian dengan tiga ribu malaikat yang turun (dalam peperangan itu), apabila kalian sabar dan bertakwa, mereka akan datang tiba-tiba menambah (jumlah) kalian dengan 5000 malaikat. Pihak Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal, sedang pihak kaum muslimin dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthallib. Pasukan ini tidak seimbang tetapi keberanian dan ketangkasan sama-sama tidak kalah, kedua pihak bersama-sama orang Quraisy.

Baru saja pertempuran dimulai, dari pihak Quraisy telah tampil al-Aswad bin Machzumi, seorang pahlawan gagah perkasa, tegar dan sukar tandingnya. Hamzah tampil pula ke muka. Aswad mengeluarkan tombaknya seraya berkata:”Saya berjanji atas nama Allah akan kuminum darah mereka dan akan kuhancurkan kekuatan mereka atau aku sendiri mati”.

Singa Allah , tampil ke muka, terjadilah peperangan sengit dengan tombak, tak ada suara yang keluar dari keduanya. Sekali melambung ke atas, sekali ke bawah tetapi tak lama kemudian gemuruhlah bunyi takbir riuh rendah, dan bunyi pekik alamat aswad

Jatuh, dan singa Allah beroleh kemenangan, seakan-akan dia berkata: “Sumpahnya yang terakhirlah yang engkau tebus hai Aswad, engkau minta mati”. Pedang Hamzah menembus dada sampai ke punggungnya.

Setelah itu tampil pula Utbah bin Rabiah dengan saudaranya Syaibah dan anknya Walid, ketiganya mengendaki lawan dari pihak muslim, mulanya hendak ditantang oleh tiga orang Anshor tetapi mereka tidak mau menerima dan dengan somong mereka berkata:

“Kamu bukan lawan kai, panggil saja pahlawan-pahlawan yang semedan dengan kami, yang setimpal dan seketurunan dengan kami”.

Maka Nabi pun memilih tiga orang perkasa yaitu Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin Abdul Muthallib sekali lagi, dan yang ketiga Ali bin Abi Thalib.

Hamzah melayani Utbah, Ali dan Ubaidah menghadapi yang dua lagi. Tetapi hanya beberapa saat saja ketiga musuh itupun langsung rebah. Setelah berlangsung perang tanding itu barulah terjadi pertempuran, orang Quraisy mengalami kekalahan besar. Melihat Hamzah bertanding dua kali itu sangat mengejutkan hati mereka. Di Badr inilah Abu Jahal binasa. Dan Hamzah mendapat gelar Asadullah wa Rasulihi (Singa Allah dan RasulNya).

Perang Badar adalah perang pertama Islam yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang menyerang Madinah. Perang pertama dalam Islam yang memberikan kemenangan gilang gemilang kepada kaum muslimin meskipun jumlah mereka sangat kecil. Masa itulah awal mula terpancang bendera Islam di tanah Arab. Yang tak dapat dijatuhkan lagi. Ketika itu, Hamzah dan anak saudaranya Ali bin Abi Thalib beroleh kejayaan yang tiada bandingan.

Dalam perang itu banyaklah orang-orang yang ditawan setelah peperangan usai. Para sahabat pun banyak berselisih pendapat mengenai tawanan-tawanan itu. Rasulullah sendiri menunggu wahyu Allah yang akan menjelaskannya tentang masalah tawanan itu. Namun sampai masalah tersebut semakin sengit diperselisihkan, maka Rasulullah mengambil kebijakan yang mendukung pendapat Abu Bakar untuk menerima upeti dari tawanan perang badar, tetapi akhirnya turunlah firman Allah yang menyalahkan kebijakan beliau:

“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akherat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan besar karena tebusan yang kamu ambil” (QS. Al-Anfal 8:67-68).

Inilah sebuah bukti bahwa dalam sikapnya, nab i Muhammad saw selalu disetir oleh wahyu. Sehingga insyaflah beliau terhadap kekeliruannya dan mengganti kebijakannya dengan mewajibkan tawanan mengajarkan baca-tulis kepada orang-orang yang tidak bisa membaca ataupun menulis saat itu.

Perang Uhud.

Kekalahan kafir Quraisy dalam perang Badar telah menorehkan dendam dalam hati kafir Quraisy. Kemenangan kaum muslimin di Badar telah membangkitkan dendam di dalam hati kaum Quraisy. Maka pada tahun berikutnya, Abu Sufyan memprakarsai perang menyerang kaum muslimin di Madinah. Mereka bentuk satu angkatan perang yang besar dengan kekuatan 3000 orang, dibawah pimpinan pahlawan-pahlawan mereka yang terkenal seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal dan lain-lain. Dan Abu Sufyan dipilih menjadi panglima pasukan perang.

Peperangan Uhud adalah hari pembalasan kaum Quraisy atas kekalahan mereka dalam perang badar setahun sebelum perjanjian Hudaibiyah. Di antara mereka Zubair bin Mutham menjanjikan budaknya Wahsyi, kalau dapat membunuh Hamzah dia akan dimeredekakan, karena paman ubair yang bernama Thuaiman bin Adi mati dalam perang Badar karena kena tikam pedang Hamzah. Hindun anak Utbah bin Rabiah dan isteri dari Abu Sufyan yang ayahnya mati oleh pedang Hamzah ikut juga dalam peperangan dan bersumpah akan mengunyah jantung Hamzah.

Demi mendengar hal itu, Rasulullah mengumpulkan semua sahabatnya dari Muhajirin dan Anshor. Rasulullah mengadakan musyawarah dengan mereka apakah musuh akan dihadapi dari dalam kota atau akan dihadapi di perbatasan Madinah. Adapun sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, Usman dan lainnya, mengeraskan suara supaya disongsong keluar kota, tapi kaum munafikin yang diketuai Abdullah bin Ubay mengeraskan suaranya supaya bertahan didalam saja.

Dalam urusan perang, karena peperangan adalah urusan duniawi, Rasulullah memberi kebebasan kepada para sahabatnya menyatakan pendapat, walaupun pendapat itu berlainan dengan pendapat beliau sendiri. Maka terjadilah perdebatan. Di satu pihak mengatakan akan menggunakan strategi ofensif dengan menghadapi musuh yang datang dan pihak lain menggunakan strategi defensif dengan menghadapi musuh di dalam kota saja. Itulah pendapat Abdullah bin Ubay dan Rasulullah pun setuju dengan pendapat itu. Tetapi lantaran pihak yang banyak yaitu pihak Muhajirin dan Anshor yang setuju dengan strategi ofensif, maka pendapat itulah yang menjadi pututsan dan beliau menyetujui putusan itu. Maka beliau menggantungkan baju bajanya, menyandangkan perisainya, menggantungkan pedangnya di atas pinggangnya dan naiklah beliau ke atas kudanya.

Tetapi ketika akan berangkat, setengah dari sahabat yang tadinya menyetujui menyerang keluar kota tiba-tiba keluar dari pendiriannya dan menangkis dari dalam kota saja. Ketika itulah Rasulullah berkata: “Pantang bagi seorang Nabi akan membuka pakaian perang yang telah dilekatkannya, sebelum tentu kalah menang di antara dia dengan musuhnya”.

Akhirnya, kaum munafik yang berjumlah tiga ratus orang itu menghasut kiri kanan, sehingga kaumnya yang berjumlah tiga ratus orang itu tidak jadi berperang.

Tersebut dalam sejarah, dalam perang Uhud kaum muslimin beroleh kerugian-kerugian disebabkan oleh kaum munafikin yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubai mundur sebelum bertempur, mereka terdiri dari 300 orang sehingga kaum mujahidin tinggal 700 orang. Tengah pertempuran berlangsung, para penjaga bukit karena mengharapkan harta rampasan tak pula menurut perintah Nabi, sehingga nabi sendiri beroleh luka-luka dalam pertempuran itu.

Angkatan perang kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Dalam pertempuran itu, tampil ke muka seorang pahlawan bernama Siba bin Uzza al-Chuzale, ia berteriak minta lawan, kalau-kalau ada di antara kaum muslimin yang berani. Sebagaimana biasanya tantangan demikian adalah kegemaran Hamzah, ia tampil ke muka lalu berkata kepada Siba. “Alangkah beraninya engkau melawan Allah dan Rasulnya”. Tidak berapa lama pertempuran pun berlangsung, dan tidak lama kemudian Siba pun gugur.

Waktu itulah Wahsyi yang telah dijanjikan akan dimerdekakan, yang sedari tadi bersembunyi mengintip dari sebuah lobang, baru saja Hamzah mendekat ke lubang itu, dipukulkanlah Hamzah dengan sebuah batu dari belakang. Sehingga Hamzah jatuh tersungkur, Wahsyi berlari ke tempat itu, dan diulangi memukul beberapa kali lagi, sehingga pada waktu itu juga Hamzah bin Abdul Muthallib menghembuskan nafasnya yang terakhir menemui ajal.

Kemudian datanglah Hindun, dibawanya pisaunya, dibelah dada Hamzah, diambilnya jantungnya, dikunyah-kunyah dengan amat buasnya. Rupanya jantung itu agak geras digigit, lalu disemburkannnya dan ia berkata: sekarang terbalaslah dendam ayahku, pamanku dan dendam saudaraku. Lunaskanlah nadzar yang telah ku buat setahun lamanya”.

Jadi jelaslah bahwa tewasnya Hamzah bukan dalam peperangan menghadapi lawan, tetapi dihantam dengan batu oleh Wahsyi secara curang dari tempat tersembunyi.

Peperangan selesai, dendam Quraisy terbalas dan kesedihan tinggal pada kaum muslimin. Nabi sendiri luka-luka di dahi, gigi dan tangannya, dan beliau memeriksa mayat-mayat pahlawan yang tewas, dan ketika dilihatnya mayat pamannya yang tercinta itu, dan badannya telah hancur luluh, dadanya sudah robek-robek tak dapatlah Nabi menahan air matanya.

Ia menangis dan berkata: “Demi Allah kalaulah tidak untuk menjaga hati Shofiyyah (saudara perempuan Hamzah) dan jangan pula menjadi kebiasaan sepeninggalku kelak, akan kubiarkan mayat ini tinggal disini, supaya kelak ia dikumpulkan dari tempat yang berjauh-jauhan. Semoga aku tak akan bertemu lagi kesedihan sebesar ini. Tak ada satu kekecewaan yang lebih besar dari hari ini. Rahmat Allah tetaplah padamu Hamzah! Engkaulah yang selalu sudi berbuat baik!.

Kaum muslimin tak ada yang berkata sepatah jua pun. Mereka amat sedih atas kematian “singa Allah” dan kekalahan yang diderita ini.

Nabi berdiri di sisi jenazah Hamzah yang mati syahid dianiaya. Sebagai seorang manusia, sedih juga hati beliau melihat paman yang dicintainya mati dalam keadaan yang menyedihkan, geram juga melihat musuhnya telah menganiaya pamannya sedemikian rupa, maka nabi berkata: “Akan kuaniaya tujuh puluh orang dari mereka sebagai balasan untukmu”. Maka Allah mengutus orang Jibriel dengan membawa akhir surat An-Nahl kepada nabi, sementara ia dalam keadaan berdiri:

“Dan jika kamu mengadakan pembalasan, maka balaslah dengan pembalasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sebar. Bersabarlah hai Muhammad dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS An-Nahl 16: 126-128)

Peperangan Uhud sebagaimana diterangkan oleh sejarah, memang membawa kesedihan yang memilukan hati kaum muslimin, pahlawannya yang utama. Hamzah gugur disana, 70 orang sahabat telah syahid di Uhud. Sekembali dari peperangan itu kelihatan sekali kegembiraan orang-orang yang munafik yang tidak ikut berperang itu melihat kerugian kaum muslimin. Kerja mereka tidak luput menghasut kiri kanan, mematahkan hati orang-orang yang beriman, serta mencari-cari kesalahan kaum muslimin untuk dijadikan bahan hasutan. Dengan terjadinya peperangan Uhud dan debat sebelumnya, nyatalah bagi Nabi. Mana pengikutnya yang mempunyai iman yang kuat, mana pula yang masih mempunyai iman yang lemah dan yang setengah ragu-ragu, serta jelaslah pula bagi beliau orang-orang yang termasuk golongan munafik dan kekuatan riil militer beliau yang sesungguhnya.

Setelah kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud, sadarlah kaum muslimin bahwa banyak orang munafik yang menggembosi perjuangan Nabi dan kaum muslimin. Maka dalam peperangan berikutnya, dihinakan orang-orang munafik itu sehingga kaum muslimin tak dapat dikalahkan.

Perang Khandaq

Perang khandaq terjadi pada bulan Syawal 5 H, perang ini terjadi karena tokoh Yahudi dari bani nadir, Salam bin Abi al-Huqaiq dan Huyay bin Akhtob, Kinanah bin rabi bin Abi al Huqaiq, Haudzah bin Qois al-Qaily dan Abu Ammar al-Waily dari Bani Wail bersekutu dengan kafir Quraisy makkah untuk menyerang nabi Muhammad saw. Ketika mereka sampai di makkah, mereka berkata: “Kami akan bersekutu dengan kalian untuk menyerang kaum muslimin sampai mereka habis”, mendengar perkataan itu maka orang Quraisy berkata:”Wahai orang-orang Yahudi! Sesungguhnya kalian adalah ahlul kitab yang pertama sebelum Muhammad, dan kalian mengetahui bahwa kami sejak dulu bertentangan dengan Muhammad! Apakah agama kami lebih baik dari agamanya?” mereka menjawab:”Agama kalian lebih baik dari agaman ya, dan kalian lebih utama dan lebih berhak darinya”.

Untuk menghadapi perang Ahzab atau perang Khandaq ini maka dilaksanakanlah strategi perang Salman al-Farisi untuk membuat pola strategi perang defensif tetapi mematikan. Kedahsyatan strategi itu telah membuat decak kagum kaum muslimin dan kekalahan musuh yang menyerang Madinah. Atas inisiatifnya dibuatlah instruksi Rasulullah untuk membuat galian parit untuk pertahanan kota madinah.

Gambaran jihad dan cinta sahabat kepada Rasulullah begitu tampak dalam persiapan pertahanan kota dari gempuran mush. Nabi Muhammad Saw keluar pada waktu perang khandaq, saat itu kaum muhajirin dan Anshor sedang menggali parit di siang hari yang sangat panas, tidak ada budak yang menolong mereka, ketika Rasulullah melihat mereka keletihan dan kelaparan, Rasulullah bersabda:”Ya Allah jadikanlah kehidupan ini sebagai kehidupan Akherat maka ampunilah kaum Anshor dan Muhajirin”. Tanpa kenal lelah kaum muslimin terus bekerja dan bila mereka hendak keluar untuk urusan pribadinya mereka minta izin Rasululla, dan kembali ke tempatnya semula setelah menyelesaikannya, mereka tersu menggali parit itu, meskipun para sahabat melarangnya. Dengan teriakan Allahu Akbar Rasulullah kembali mengobarkan semangat kaum muslimin. Maka turunlah Firman Allah:

“Sesungguhnya yang sebenar-benarnya orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, dan Apabila mereka berada bersama rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha kuasa pengampun lagi maha Penyayang”(QS. An-Nur 24:62)

Pada bulan syawal berdatanganlah pasukan sekutu untuk menyerang madina. Pasukan Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan pasukan Bani Fazarah dipimpin oleh Uyaynah bin Hisn bin Hudzaifah bin Badr, Harits bin Auf bin Abi Haritsah al-Mirrie di barisan Bani Murrah, Masud bin Rukhaylah bin Nuwayro bin Thorif dari Bani Asyja.

Dalam perang itu kaum muslimin dikepung oleh pasukan sekutu. Harap-harap cemas terbersit dihati mereka, tetapi Rasulullah menguatkan hati mereka bahwa Allah akan menurunkan pertolongannya. Beberapa orang diutus ke front musuh untuk menyelesaikan persoalan: Saad bin Muadz, tokoh suku Aus, Saad bin Ubadah bin Dulaim, Abdullah bin Rowahah dan khowwat bin Jubair bersama salah seorang tokoh dari suku Khazraj. Namun tidak pernah ada kata sepakat ataupun perdamaian.

Selama dua puluh hari kaum muslimin dikepung. Ali bin Abi Thalib menampilkan keberanian yang gilang gemilang dalam perang ini, dan membuat para musuh hanya melakukan penyerangan dengan cara melempar batu, panah dan mengepung kaum muslimin selama itu tanpa ada yang berani menantang Ali.

Pada perang itu juga, seorang ksatria musuh yang sangat terkenal, Abdullah bin Abdi Wud tewas di ujung pedang Ali bin Abi Thalib dan mayatnya jatuh ke dalam parit. Kekalahan terus dialami Quraisy makkah, wajah mereka pun tertekuk menanggung malu atas kekalahan itu. Demi melihat kesatria yang dihormatinya mati di parit itu, malu hati kiranya bila Quraisy yang dikenal perniagaannya tidak mampu menebus mengembalikan pahlawannya ke kampung halaman. Kaum Musyrikin memberikan uang sebesar sepuluh ribu dinar kepada rasulullah untuk menebus mayat pahlawan mereka. Rasul menjawab :”Aku tidak menjual mayat. Ambillah mayat kawanmu itu”.

Di lain saat, seorang tawanan tidak berdaya setelah kekalahannya. Rasulullah melarang pembunuhan terhadap seorang tawanan yang tertangkap dalam keadaan tangannya masih terikat. Dampak dari perintah ini demikian besar hingga Abu Ayyub al Anshori, yang meriwayatkan hadis ini berkata:”Aku bersumpah demiAllah yang menguasai hidupku, bahwa aku tidak akan menyembelih, sekalipun seekor ayam, yang sudah ku ikat dengan tali”.

 

About these ads
Kisah Nabi Muhammad dari Lahir hingga Wafat | informasi_terbaru-100 | 4.5